Hubungan Arini dan Andreas diketahui media setelah seorang pengunjung toko buku memotret mereka bergandengan tangan. Foto itu tidak melanggar ruang pribadi karena diambil di tempat umum, tetapi judul berita kembali menyederhanakan kisah mereka: penantian puluhan tahun akhirnya terbayar.
Arini tidak menyukai kata terbayar. Seolah cinta adalah imbalan yang wajib diterima Andreas setelah menulis ribuan surat.
'Aku ingin memberi tanggapan,' katanya.
Andreas menahan keinginan mengatur konferensi pers. 'Kamu ingin menyampaikan lewat mana?'
'Melalui akun program membaca. Hanya satu pernyataan.'
Arini menulis bahwa dirinya dan Andreas sedang menjalin hubungan, tetapi tidak ada penantian yang menciptakan utang cinta. Mereka memilih saling mengenal kembali sebagai dua orang dewasa.
Andreas membaca sebelum diterbitkan dan tidak mengubah satu kata pun. Ia hanya mengeluarkan pernyataan terpisah yang meminta privasi Arini serta Allea dihormati.
Berita itu membuat penjualan buku meningkat. Penerbit mengusulkan cetakan khusus dengan foto mereka sekarang. Arini menolak.
'Buku itu berasal dari masa kehilangan. Hubungan kami sekarang bukan sampul baru untuk menjual kesedihan lama.'
Andreas mendukung keputusan tersebut meski bagian bisnis menunjukkan potensi keuntungan besar.
Pada kencan berikutnya, beberapa orang mengenali mereka. Arini sempat ingin pulang, tetapi memilih tetap makan. Andreas bertanya sebelum menerima permintaan foto bersama. Arini menolak ikut dan tidak dipaksa.
'Apa hubungan seperti ini akan selalu diperhatikan?' tanyanya setelah restoran sepi.
'Mungkin untuk sementara. Aku bisa memilih tempat tertutup, tapi tidak ingin membuatmu merasa disembunyikan.'
'Aku juga tidak ingin setiap pertemuan menjadi pertunjukan.'
Mereka menyepakati sebagian kencan dilakukan di rumah atau tempat yang lebih tenang, bukan karena malu, melainkan demi memiliki ruang pribadi.
Arini mengundang Andreas ke rumahnya untuk pertama kali sebagai pasangan. Sebelum datang, Andreas bertanya apakah boleh membawa makanan dan siapa saja yang akan berada di sana. Allea sedang berkencan dengan Vino, sehingga mereka makan berdua.
Andreas melihat meja tulis serta rak kecil yang dibeli Arini sendiri. Ia tidak menyentuh surat jawaban yang tersusun di atasnya.
'Kamu boleh membaca judul pada amplop, tidak isinya,' kata Arini.
'Aku akan menunggu sampai diberikan.'
Mereka memasak mi karena makanan yang dibawa Andreas terlalu pedas bagi Arini. Andreas belum terampil di dapur, tetapi mengikuti arahan tanpa memanggil pekerja rumah.
Setelah makan, mereka duduk di teras. Andreas meminta izin mencium Arini. Ciuman itu lebih lama daripada di taman rumah sakit, tetapi berhenti ketika Arini menarik napas dan meletakkan tangan di dadanya.
'Cukup,' katanya.
Andreas langsung mundur. 'Baik.'
Tidak ada wajah kecewa atau rayuan agar dilanjutkan. Arini merasa tubuhnya tetap miliknya meski ia mencintai lelaki tersebut.
Saat Andreas pulang, seorang wartawan menunggu di ujung jalan. Ia tidak menjawab pertanyaan dan meminta pengawalnya tidak mengambil kamera. Tim hukum hanya mencatat bila ada pelanggaran masuk ke halaman rumah.
Arini melihat dari balik jendela. Dulu kehadiran orang luar membuatnya ingin bersembunyi berhari-hari. Kini ia menutup tirai, membuat teh, lalu melanjutkan membaca surat keenam belas.
Cinta mereka telah menjadi berita, tetapi kehidupan di dalam rumah tidak harus mengikuti judul yang dibuat orang lain.