Andreas jatuh pingsan saat memimpin rapat. Pemeriksaan rumah sakit menunjukkan kelelahan berat, tekanan darah tinggi, dan gangguan irama jantung yang harus dipantau. Dokter memintanya mengurangi pekerjaan dan menjalani pemeriksaan lanjutan.
Bima menghubungi Arini hanya setelah Andreas mengizinkan.
'Dia sadar dan kondisinya stabil,' katanya. 'Aku memberi kabar, bukan meminta kamu datang.'
Arini sedang memimpin sesi membaca. Ia menyelesaikan kegiatan sebelum pergi ke rumah sakit. Keputusan itu membuatnya merasa bersalah, tetapi ia mengingat hidup Andreas tidak harus menghapus seluruh tanggung jawabnya.
Allea menemani. Di depan kamar, mereka bertemu Bima dan beberapa direktur. Arini meminta semua urusan kantor dibicarakan di luar.
Andreas tersenyum lemah ketika melihatnya.
'Aku tidak mengirim bunga,' kata Arini.
'Syukurlah. Kamar ini sudah seperti toko bunga dari kiriman orang kantor.'
'Apa kata dokter?'
'Aku terlalu banyak bekerja dan terlalu sedikit tidur.'
'Itu bukan hal baru.'
Andreas mengaku sering menulis sampai dini hari dan kembali bekerja pagi-pagi. Setelah Arini datang, kebiasaannya justru memburuk karena ia membaca ulang surat lama serta menunggu pesan.
'Jangan menjadikan aku alasan kamu tidak menjaga kesehatan,' kata Arini.
'Aku tidak bermaksud begitu.'
'Tetap saja kamu harus bertanggung jawab.'
Andreas setuju menyerahkan sebagian tugas kepada wakil direktur dan mengikuti jadwal dokter. Bima akan mengawasi urusan kerja, tetapi Arini menolak ditempatkan sebagai pengawas kesehatan.
'Aku bisa peduli tanpa menjadi perawatmu,' katanya.
'Aku mengerti.'
Allea masuk setelah mendapat izin. Hubungan profesional membuatnya ragu harus bersikap sebagai pegawai atau anak Arini.
'Saya datang sebagai Allea,' katanya.
'Itu sudah cukup,' jawab Andreas.
Wiranto juga mengirim kabar melalui Bima, tetapi tidak datang untuk menghindari ketegangan. Andreas menghargai itu.
Malamnya, Arini pulang setelah dokter memastikan kondisi stabil. Ia tidak bermalam meski Bima menawarkan kamar tunggu.
'Besok aku datang pada jam kunjungan,' katanya.
'Kamu tidak harus.'
'Aku tahu. Aku memilih datang.'
Kalimat itu membuat Andreas lebih tenang daripada janji selalu menjaga.
Selama tiga hari dirawat, Andreas menerima kunjungan terbatas. Arini membawa buku, bukan makanan yang belum disetujui dokter. Mereka membaca dalam diam seperti ketika remaja.
Pada hari kedua, Andreas bertanya apakah sakitnya membuat Arini takut melanjutkan hubungan.
'Aku takut kehilanganmu setelah baru menemukanmu,' jawab Arini. 'Tapi aku tidak akan membuat keputusan saat sedang panik.'
'Kalau hasil pemeriksaan buruk?'
'Kita dengar faktanya dulu.'
Hasil lanjutan menunjukkan kondisi dapat dikendalikan dengan obat dan perubahan gaya hidup. Tidak diperlukan operasi untuk saat itu.
Andreas pulang dengan jadwal kerja baru. Ia menunjuk direktur operasional menangani rapat harian dan menetapkan dua hari tanpa pekerjaan setiap minggu.
Ia juga berhenti menulis pada tengah malam. Surat untuk Arini dibuat pada sore hari dan dibatasi satu halaman, bukan karena dokter melarang cinta, melainkan karena tubuhnya memerlukan istirahat.
Pada kencan pertama setelah pulih, mereka berjalan pelan di taman rumah sakit. Andreas meminta izin mencium kening Arini. Ia mengizinkan.
'Hanya kening,' katanya.
'Aku mendengar.'
Ciuman itu singkat. Arini tidak merasa sedang memberi hadiah kepada orang sakit. Ia melakukannya karena menginginkan kedekatan tersebut.
Andreas tidak meminta lebih. Mereka melanjutkan berjalan dengan kecepatan yang disarankan dokter, seolah hubungan mereka pun mempunyai irama baru yang tidak boleh dipaksa melampaui kemampuan keduanya.