Setelah perjalanan ke pantai, Arini tidak datang ke Rumah Cinta selama dua minggu. Andreas sempat gelisah, tetapi tidak menghubungi setiap hari. Ia hanya mengirim satu pesan menanyakan kesehatan dan menerima jawaban bahwa Arini membutuhkan waktu.
Arini sedang menulis surat ketiga belas. Isinya bukan tentang masa lalu, melainkan tentang ketakutannya sekarang.
Ia takut perhatian Andreas berubah menjadi kendali setelah hubungan mereka dekat. Ia takut kehilangan kebebasan yang baru dirasakannya. Ia juga takut menolak cinta dan menyesal ketika waktu mereka habis.
Allea membaca surat tersebut setelah diminta.
'Ibu ingin kembali bersamanya?' tanyanya.
'Ibu ingin mengenalnya. Kata kembali seolah hubungan kami berhenti kemarin, padahal puluhan tahun telah lewat.'
'Apa Ibu takut aku keberatan?'
'Sedikit.'
Allea duduk di sampingnya. 'Aku sudah menyelesaikan perasaanku kepada Pak Andreas. Mungkin masih ada sisa malu, tapi aku tidak berhak menentukan pilihan Ibu.'
'Kamu juga tidak harus segera nyaman.'
'Aku akan jujur kalau tidak nyaman.'
Arini menyelesaikan surat dan membawanya ke perpustakaan. Dokumen perlindungan hak atas surat telah siap. Ia membacanya bersama pengacara sendiri sebelum menandatangani.
Andreas menerima surat ketiga belas setelah dokumen selesai. Ia membacanya di depan Arini karena wanita itu mengizinkan.
'Aku memang memiliki kecenderungan mengatur,' katanya. 'Bahkan sekarang aku ingin langsung memberi solusi atas ketakutanmu.'
'Lalu apa yang akan kamu lakukan?'
'Bertanya. Apa yang kamu butuhkan agar tetap merasa bebas?'
Arini telah menyiapkan jawaban. Ia ingin tetap tinggal di rumahnya, memiliki penghasilan sendiri, dan tidak menerima bantuan finansial tanpa pembicaraan. Setiap pertemuan harus disepakati, bukan diperintahkan. Hubungan Andreas dengan Allea tetap profesional.
'Aku setuju,' kata Andreas.
'Jangan menjawab terlalu cepat.'
Andreas membaca kembali setiap poin. 'Aku setuju, tapi mungkin akan melakukan kesalahan. Kalau itu terjadi, kamu berhak menegur atau mengambil jarak.'
'Lebih jujur.'
Ia kemudian menyampaikan kebutuhannya sendiri. Andreas tidak ingin Arini menghilang tanpa kabar ketika takut. Ia meminta setidaknya satu pesan bahwa Arini aman dan membutuhkan waktu.
'Aku bisa melakukannya,' jawab Arini.
Mereka sepakat bertemu satu kali seminggu di tempat yang dipilih bergantian. Tidak ada nama hubungan yang ditetapkan.
Pada malam yang sama, Wiranto datang makan siang terlambat yang berubah menjadi makan malam di rumah Arini. Ia membawa buah, sesuai permintaan Allea untuk tidak membawa hadiah mahal.
Suasana canggung. Wiranto membantu memindahkan piring, tetapi hampir menjatuhkannya karena tidak terbiasa dengan dapur sempit.
'Duduk saja sebelum semua pecah,' kata Allea.
'Aku ingin membantu.'
'Kalau begitu cuci piring setelah makan.'
Wiranto benar-benar melakukannya. Hasil cucinya masih berminyak dan harus diulang Allea, tetapi tidak seorang pun menertawakan terlalu lama.
Wiranto bertanya apakah boleh menghadiri kegiatan membaca. Allea menolak untuk saat ini karena tidak ingin program berubah menjadi acara keluarga pengusaha.
'Baik,' katanya. 'Aku akan menunggu undangan.'
Arini memperhatikan dua lelaki dari masa lalunya belajar kata yang sama dengan cara berbeda: menunggu bukan tindakan pasif, melainkan menghormati waktu orang lain sambil memperbaiki diri.
Sebelum tidur, ia menerima pesan Andreas yang hanya berisi jadwal pertemuan berikutnya dan pertanyaan apakah tempatnya sesuai. Arini menjawab setuju, lalu meletakkan ponsel.
Ia membuka buku 101 Surat untuk Arini dan menandai surat keempat belas. Masih ada banyak halaman yang belum dibaca. Namun untuk pertama kalinya, jumlah itu tidak terasa seperti beban yang harus segera diselesaikan.
Setiap surat akan memperoleh waktunya sendiri. Begitu pula hubungan mereka.