Mereka pergi ke pantai pada Minggu pagi. Allea membawa tikar, Arini menyiapkan nasi dan lauk, sedangkan Andreas datang dengan sekotak makanan yang dibelinya dari restoran mahal.
'Aku sudah menduga,' kata Arini ketika melihat kemasannya.
'Setidaknya aku tidak berpura-pura memasak.'
Allea tertawa. Suasana awal yang canggung perlahan mencair.
Pantai belum ramai. Mereka memilih tempat di bawah pohon dan membiarkan suara ombak mengisi percakapan yang belum siap diucapkan.
Andreas menyerahkan sebuah foto lama kepada Arini. Foto itu memperlihatkan keduanya berseragam sekolah, duduk berjauhan di atas pasir sambil membaca buku.
'Bima menemukannya di album lama,' katanya.
Arini menyentuh sisi foto. 'Aku ingat hari ini. Kamu memaksa ikut padahal aku ingin sendiri.'
'Dalam ingatanku, kamu mengundang.'
'Lihat? Bahkan kenangan bahagia bisa memiliki dua versi.'
Andreas tertawa malu. 'Kalau begitu versi yang benar adalah aku mengganggu dan kamu akhirnya membiarkanku tinggal.'
'Itu lebih dekat.'
Allea mengambil foto tersebut. Ia melihat ibunya yang sangat muda, jauh sebelum rasa takut menjadi bagian dari kebiasaan sehari-hari.
'Ibu terlihat bahagia.'
'Ibu juga sering kesal kepada Gilang.'
'Dia selalu membawa terlalu banyak buku,' kata Andreas membela diri.
'Dan membacakan bagian yang kusukai dengan suara keras meski aku meminta diam.'
Mereka menceritakan kenangan kecil kepada Allea tanpa menjadikan masa remaja sebagai kisah cinta sempurna. Ada pertengkaran, salah paham, dan sifat keras kepala Andreas yang sudah muncul sejak dahulu.
Setelah makan, Allea berjalan sendiri di tepi air. Andreas meminta izin kepada Arini sebelum menyusulnya.
'Pergilah,' kata Arini. 'Bicaralah sebagai dirimu, bukan sebagai orang yang ingin mengetahui kabarku.'
Andreas berjalan sejajar dengan Allea. Ia menjaga jarak agar gadis itu tidak merasa terdesak.
'Divisi barumu bagaimana?'
'Saya membuat kesalahan pada laporan pertama.'
'Ratna memberi tahu ada revisi, tetapi tidak menyebut siapa yang salah.'
'Bagus. Berarti dia menjaga prosesnya.'
Andreas menanyakan program membaca. Allea menjelaskan uji coba dan meminta tambahan buku berdasarkan data sekolah.
'Kirim permintaan melalui pengelola,' katanya.
'Sudah.'
Percakapan mereka terdengar biasa. Tidak ada tatapan panjang atau kalimat yang membuat Allea merasa menjadi pengganti ibunya.
'Pak,' kata Allea, 'saya pernah benar-benar menyukai Bapak.'
Andreas berhenti.
'Saya tidak mengatakannya agar Bapak menjawab. Saya hanya ingin mengakui supaya bisa melepaskannya dengan jujur.'
'Saya minta maaf karena membuat perasaan itu tumbuh melalui perhatian yang tidak bertanggung jawab.'
'Sebagian tetap pilihan saya. Jangan mengambil seluruh tanggung jawab seolah saya tidak punya kehendak.'
'Baik.'
'Saya ingin hubungan kita setelah ini sebagai atasan dan pegawai. Mungkin suatu hari sebagai teman Ibu. Tidak lebih.'
'Saya menghormatinya.'
Allea mengulurkan tangan. Andreas menjabatnya singkat. Tidak ada pelukan perpisahan.
Dari kejauhan, Arini melihat keduanya kembali dengan wajah lebih tenang. Ia tidak bertanya isi percakapan. Allea akan bercerita jika ingin.
Menjelang sore, Andreas dan Arini berjalan mendekati ombak. Tempat itu sama, tetapi mereka tidak lagi berusia belasan tahun.
'Aku tidak ingin berjanji menunggumu selamanya lagi,' kata Andreas.
Arini menatapnya.
'Aku ingin menjalani hidupku dan mengenalmu selama kamu mengizinkan. Kalau akhirnya kita hanya menjadi dua orang yang bertukar surat, aku akan menerima.'
'Itu terdengar lebih dewasa.'
'Padahal aku berharap lebih.'
'Berharap boleh.'
Arini mengulurkan tangan. Andreas menatapnya seolah meminta kepastian, lalu menggenggam setelah Arini mengangguk.
Mereka berdiri beberapa menit sampai ombak menyentuh kaki. Tidak ada pernyataan kembali bersama. Hanya dua tangan yang bertemu tanpa mengikat pemiliknya.