Pertemuan dengan Harsono berlangsung di kantor pengacara independen. Seluruh pihak menyetujui perekaman suara. Arini duduk di antara Allea dan pengacaranya, sedangkan Wiranto berada di sisi lain meja.
Harsono telah berusia lebih dari tujuh puluh tahun. Langkahnya lambat, tetapi matanya langsung mengenali Arini.
'Nyonya Arini,' katanya.
'Jangan panggil saya nyonya.'
'Maaf.'
Pengacara memulai dengan menjelaskan bahwa pertemuan itu bukan pemeriksaan polisi. Namun kesaksian Harsono dapat digunakan bila terdapat dugaan pemalsuan atau penggelapan hak.
Harsono mengaku datang menemui Arini atas perintah ayah Wiranto. Ia membawa uang tunai, surat pernyataan, dan ancaman bahwa Allea akan diambil apabila Arini berusaha menuntut pengakuan.
Wiranto mengepalkan tangan. 'Kenapa kau tidak pernah memberitahuku?'
'Tuan besar melarang. Beliau mengatakan hubungan itu akan menghancurkan pernikahan dan usaha Anda.'
'Kau tahu Allea anakku?'
'Saya diberi tahu demikian.'
Allea menahan napas. 'Siapa yang menandatangani surat agar kami menjauh?'
'Tuan besar. Tetapi cap perusahaan digunakan tanpa pencatatan resmi.'
Arini bertanya mengenai laporan yang menyebut dirinya pindah dan menolak ditemui.
Harsono menunduk. 'Saya yang membuat laporan itu.'
'Jadi Anda berbohong.'
'Iya.'
'Karena dibayar?'
'Karena takut kehilangan pekerjaan. Saya memiliki anak-anak yang masih sekolah.'
Arini tertawa hambar. 'Untuk menjaga anak-anak Anda, Anda membantu seorang kakek menghapus hak cucunya.'
Harsono tidak menjawab. Air mata menggenang di matanya, tetapi Arini tidak merasa wajib menghibur.
Pengacara menanyakan keberadaan salinan surat asli. Harsono mengatakan dokumen utama mungkin masih tersimpan dalam arsip pribadi ayah Wiranto. Ia membawa buku catatan lama yang memuat tanggal penyerahan uang dan alamat Arini saat itu.
Catatan tersebut diterima sebagai bukti untuk diperiksa keasliannya.
Wiranto meminta waktu berbicara langsung kepada Arini.
'Kalau aku tahu, aku akan datang,' katanya.
'Kamu sudah tahu kemungkinan aku hamil sebelum perceraian,' jawab Arini. 'Aku pernah terlambat datang bulan dan mengatakannya. Kamu menyebutnya cara menahanmu.'
Wajah Wiranto kehilangan warna. Ingatan itu jelas, tetapi selama bertahun-tahun ia menguburnya.
'Aku salah.'
'Ya.'
'Aku ingin memperbaikinya.'
'Mulailah dengan tidak membicarakan niatmu terus-menerus. Dengarkan apa yang Allea butuhkan.'
Tes DNA dilakukan setelah pertemuan. Sampel diambil dari Allea dan Wiranto dengan pengawasan kedua pengacara. Hasilnya dijadwalkan keluar dua minggu kemudian.
Saat meninggalkan laboratorium, Allea merasa tubuhnya ringan sekaligus kosong. Ia tidak meragukan Arini, tetapi proses itu membuat identitasnya seolah berubah menjadi angka yang akan dicetak di atas kertas.
'Apa pun hasilnya, kamu tetap anak Ibu,' kata Arini.
'Aku tahu.'
Wiranto berdiri beberapa meter dari mereka. Ia tidak mendekat sampai Allea memanggil.
'Kalau hasilnya membuktikan hubungan kita, aku ingin akta kelahiranku diperbaiki.'
'Aku akan mengurusnya.'
'Bersama pengacaraku. Bukan diam-diam.'
'Baik.'
Di tempat lain, Thalita akhirnya mengirim salah satu foto kedai kopi kepada seorang jurnalis hiburan. Ia menyembunyikan identitas pengirim dan hanya menuliskan bahwa Wiranto mempunyai keluarga rahasia.
Foto itu terbit pada sore yang sama. Wajah Allea terlihat dari samping, sedangkan Arini dapat dikenali oleh siapa pun yang pernah melihat gambar buram di peluncuran buku Andreas.
Judul beritanya menyebut cinta segitiga pengusaha tua dan seorang anak perempuan yang bekerja di perusahaan saingannya.
Allea membaca berita tersebut di dalam taksi. Tangannya gemetar karena marah.
'Mereka membuat seolah aku bagian dari perselingkuhan,' katanya.
Arini mengambil ponsel itu dan mematikan layar. 'Kita bicara kepada pengacara sebelum memberi jawaban.'
Wiranto langsung menelepon, tetapi Allea tidak mengangkat. Beberapa detik kemudian Andreas mengirim pesan melalui Sandra, menawarkan bantuan hukum perusahaan karena identitas pegawainya ikut disebarkan.
Allea menolak bantuan langsung Andreas. Ia memilih pengacara yang sejak awal mendampinginya, tetapi meminta perusahaan melindungi data pekerjaannya.
Untuk pertama kalinya, beberapa orang berkuasa bergerak menunggu instruksi Allea, bukan menentukan langkah atas namanya.