Pemindahan Allea disetujui ke divisi pengembangan sosial perusahaan. Ia memilihnya karena divisi itu bekerja sama dengan perpustakaan dan sekolah, jauh dari ruang kerja Andreas.
Pada hari pertama, kepala divisi bernama Ratna menjelaskan bahwa Allea tidak akan mendapat perlakuan khusus.
'Saya sudah membaca penilaian magangmu,' katanya. 'Nilainya baik, tetapi kamu tetap menjalani masa evaluasi tiga bulan.'
'Itu yang saya inginkan.'
Allea mendapat meja kecil di ruangan bersama enam orang lain. Tugas pertamanya adalah memeriksa laporan distribusi buku ke sekolah pinggiran. Pekerjaan itu tidak istimewa, tetapi membuatnya lega. Tidak ada panggilan mendadak ke ruang Andreas atau tatapan rekan yang mempertanyakan kedekatan mereka.
Meski demikian, gosip belum berhenti. Foto buram Arini di acara peluncuran menyebar, dan beberapa karyawan menghubungkannya dengan kemiripan wajah Allea.
Saat makan siang, dua pegawai berbisik bahwa Allea mungkin sengaja masuk perusahaan untuk mempertemukan ibunya dengan Andreas.
Allea meletakkan sendok. 'Kalau ingin bertanya, tanyakan langsung.'
Kedua pegawai itu terdiam.
'Ibu saya memang mengenal Pak Andreas pada masa lalu. Saya baru mengetahuinya di acara peluncuran. Selebihnya adalah urusan pribadi beliau dan ibu saya.'
Ratna yang duduk tidak jauh ikut berbicara. 'Dan penilaian kerja Allea berada di bawah tanggung jawab saya. Gosip tidak masuk dalam indikator kinerja.'
Percakapan berhenti. Allea berterima kasih setelah mereka kembali ke ruangan.
'Saya hanya menjaga lingkungan kerja,' jawab Ratna. 'Kalau kamu melakukan kesalahan, saya juga akan menegur.'
Sore hari, Andreas datang meninjau rapat divisi. Allea sempat tegang, tetapi Andreas memperlakukannya sama seperti pegawai lain. Ia hanya mengangguk saat berpapasan dan tidak menanyakan keadaan Arini di depan siapa pun.
Dalam rapat, Allea mengusulkan agar Rumah Cinta menyediakan sesi membaca bagi keluarga pekerja. Andreas meminta tim menilai anggaran dan kebutuhan, bukan langsung menyetujui karena usul berasal darinya.
'Buat rencana tertulis,' kata Ratna setelah rapat. 'Idemu bagus, tapi perlu data.'
Allea mengerjakannya sampai malam. Untuk pertama kalinya ia ingin suatu gagasan diterima bukan karena mata yang mirip Arini, melainkan karena gagasan itu memang berguna.
Di ruang kerjanya, Andreas menerima pesan dari Arini. Wanita itu meminta jadwal membaca surat berikutnya pada hari Sabtu. Ia juga menambahkan bahwa tidak perlu menyiapkan teh karena dirinya akan membawa minuman sendiri.
Andreas tersenyum. Pesan tersebut sederhana, tetapi menunjukkan Arini mulai merasa cukup aman menentukan hal kecil.
Bima yang sedang menandatangani dokumen melihat senyumnya.
'Arini?'
'Dia akan datang Sabtu.'
'Kau terlihat seperti anak sekolah.'
'Aku memang kembali bodoh setiap melihat namanya.'
Bima menjadi serius. 'Jangan membuat kebodohan itu membebani dia.'
'Aku tahu.'
Andreas kemudian menanyakan kemajuan pemindahan Allea kepada bagian sumber daya manusia. Setelah mendapat laporan bahwa proses berjalan baik, ia meminta namanya tidak dicantumkan dalam evaluasi tiga bulan.
'Penilaian akhir ditandatangani kepala divisinya,' kata Andreas. 'Bukan saya.'
Malam hari, Allea pulang membawa setumpuk salinan laporan. Arini sedang menulis di meja makan.
'Ibu menjawab surat lagi?'
'Surat kedua.'
'Apa isinya?'
'Tentang hari pernikahan Ibu. Gilang menulis bahwa hujan turun saat dia menunggu di depan sekolah. Di rumah, Ibu juga mendengar hujan dari kamar yang dikunci.'
Allea duduk di hadapannya. 'Ibu akan memberikan semua jawaban itu kepadanya?'
'Belum tahu. Untuk sekarang Ibu menulis agar suara Ibu tidak hilang.'
Arini lalu bertanya tentang divisi baru. Allea menceritakan Ratna, tugas distribusi buku, dan usul kegiatan membaca. Ia sengaja tidak menyebut tatapan rekan kerja sampai Arini bertanya apakah gosip masih ada.
'Ada, tapi aku menghadapinya.'
'Kamu tidak harus selalu kuat.'
'Aku tahu. Kalau lelah, aku akan bilang.'
Ponsel Arini berdering. Wiranto memberi kabar bahwa laboratorium telah dipilih dan pengacara independen bersedia mendampingi. Di akhir pesan, ia menulis bahwa Harsono juga telah ditemukan.
Arini membaca nama itu berulang kali. Ia samar-samar mengingat seorang lelaki tua yang datang membawa amplop dan memperingatkannya agar tidak mencemarkan nama keluarga Putra.
'Apa Ibu siap bertemu dia?' tanya Allea.
'Tidak,' jawab Arini jujur. 'Tapi Ibu ingin kebenaran tidak lagi hanya hidup dalam ingatan.'
Allea menggenggam tangan ibunya. Keduanya tahu pertemuan tersebut dapat membuka luka baru. Namun kali ini mereka akan datang bersama, membawa pendamping, dan berhak menghentikan percakapan kapan saja.