Berita tentang keluarga rahasia Wiranto menyebar cepat. Wartawan berkumpul di depan kantor Andreas dan mencoba mencari rumah Allea. Ratna mengizinkan Allea bekerja dari rumah sampai keadaan lebih aman.
Tim hukum meminta media menghapus alamat serta informasi pekerjaan rinci. Mereka tidak membantah hubungan keluarga karena hasil tes DNA belum keluar dan Allea tidak ingin riwayat ibunya diumumkan.
Wiranto menggelar rapat bersama staf komunikasinya. Mereka menyarankan ia mengatakan foto tersebut hanya pertemuan bisnis.
'Itu bohong,' jawab Wiranto.
'Kalau Bapak mengakui anak di luar pernikahan, dampaknya terhadap perusahaan besar.'
'Allea lahir dari pernikahan sah.'
'Publik belum tahu pernikahan itu.'
Wiranto menatap penasihatnya. Selama puluhan tahun ia melindungi nama keluarga dengan membiarkan Arini dan Allea tidak terlihat. Jika kembali berbohong, ia hanya mengulangi pilihan yang sama.
Ia mengeluarkan pernyataan singkat: Arini adalah mantan istrinya dan Allea diduga kuat putri kandungnya. Proses verifikasi hukum sedang berjalan, dan privasi keduanya harus dihormati.
Pernyataan itu mengejutkan dunia bisnis. Beberapa kerabat Wiranto menelepon dengan marah karena ia membuka pernikahan yang selama ini tidak tercatat dalam cerita resmi keluarga.
'Kalian sudah terlalu lama mendapat kenyamanan dari diamnya Arini,' kata Wiranto. 'Sekarang hadapi kenyataannya.'
Arini membaca pernyataan tersebut tanpa merasa lega sepenuhnya. Nama dan sejarahnya kembali diumumkan oleh orang lain. Namun Wiranto telah meminta persetujuan pengacara Allea tentang bagian yang menyangkut putrinya sebelum menerbitkannya.
Andreas memilih tidak membuat pernyataan tambahan. Ketika wartawan bertanya apakah Arini adalah cinta dalam bukunya, ia menjawab bahwa isi buku sudah berbicara dan kehidupan Arini sekarang bukan bahan promosi.
Bima menyarankan penjualan buku mungkin meningkat karena skandal.
'Jangan gunakan berita ini dalam iklan,' kata Andreas.
'Aku tidak berniat begitu.'
'Pastikan penerbit juga tidak.'
Di rumah, Allea meneliti foto yang tersebar. Sudut pengambilannya berasal dari area parkir seberang kedai. Ia mengingat mobil yang sempat terlihat, tetapi tidak mengetahui siapa di dalamnya.
Sandra datang membawa laptop kantor dan makanan. Vino ikut mengantar, lalu memilih menunggu di teras agar tidak mengganggu.
'Thalita ada di acara peluncuran bersama Wiranto,' kata Sandra setelah melihat foto. 'Dia juga beberapa kali menanyakan hubunganmu dengan Pak Andreas.'
'Kamu pikir dia yang mengambilnya?'
'Aku belum punya bukti.'
Allea tidak ingin menuduh tanpa dasar. Mereka meminta pengacara memeriksa metadata foto dari media. Jurnalis menolak membuka sumber, tetapi catatan digital menunjukkan foto diambil dengan jenis ponsel yang sama dengan milik Thalita.
Petunjuk itu belum cukup.
Sementara itu, Arini tetap datang ke Rumah Cinta sesuai jadwal. Andreas menawarkan menunda agar wartawan tidak mengikuti, tetapi Arini menolak.
'Kalau aku berhenti setiap kali orang membicarakanku, hidupku akan kembali dikendalikan rasa takut,' katanya.
Mereka menggunakan pintu belakang dan bertemu di ruang baca kecil. Arini membawa tiga surat jawaban.
'Boleh aku membacanya?' tanya Andreas.
'Satu saja. Dua lainnya belum siap kuberikan.'
Andreas menerima batas tersebut. Surat pertama menjelaskan hari hujan ketika Arini dikurung menjelang pernikahan. Saat membacanya, tangan Andreas bergetar.
'Aku menunggumu di gerbang sekolah dan marah karena kamu tidak datang,' katanya.
'Pada waktu yang sama, aku menunggu seseorang mengetahui tempatku dan membuka pintu.'
'Maaf karena aku tidak menemukanmu.'
'Kita sudah sepakat tidak menjadikan dirimu pahlawan yang gagal. Kamu tidak tahu.'
Andreas mengangguk. 'Terima kasih sudah mengingatkan.'
Arini menanyakan perasaannya setelah melihat berita. Andreas jujur bahwa ia marah kepada Wiranto dan ingin melindungi mereka, tetapi memilih menahan diri.
'Aku tidak membutuhkanmu menyerang Wiranto,' kata Arini. 'Aku membutuhkan tempat membaca dengan tenang.'
'Tempat ini tetap tersedia.'
Saat Arini hendak pulang, Andreas memberinya kunci kartu perpustakaan, bukan kunci ruang pribadi.
'Kartu anggota,' jelasnya. 'Sama seperti pembaca lain. Kamu bisa datang pada jam buka tanpa meminta izin kepadaku.'
Arini menerima dan tersenyum. Tindakan kecil itu lebih berarti daripada tawaran mobil atau rumah. Andreas tidak memberinya kepemilikan atas tempat tersebut, melainkan akses yang tidak bergantung pada hubungan pribadi mereka.
Di luar, wartawan masih menunggu jawaban dramatis. Namun di dalam Rumah Cinta, dua orang tua sedang belajar bahwa kedekatan dapat tumbuh dari izin membaca satu surat, menerima satu batas, dan tidak menjadikan cinta sebagai alasan menguasai cerita orang lain.