Kekuasaan, Sundari belajar dalam minggu-minggu itu, setia hanya pada dirinya sendiri.
Orang-orang yang selama dua tahun melindungi Megah City — yang menutup mata, yang mengangguk pada kata 'musibah', yang menerima kebaikan yayasan murah hati dan membayar kembali dengan kebisuan — kini berlomba menjadi yang pertama berbalik. Bukan karena hati nurani. Tapi karena angin sudah berubah arah, dan mereka adalah orang-orang yang seluruh hidupnya dibangun dengan membaca arah angin.
Pejabat dinas tata kota yang dulu meloloskan izin jembatan, yang lalu dipromosikan ke posisi nyaman, tiba-tiba mengeluarkan pernyataan pers bahwa ia 'mendukung penuh pengusutan tuntas atas tragedi ini' dan 'sejak awal merasa ada kejanggalan dalam proses perizinan'. Sundari membaca pernyataan itu dan tertawa pahit; lelaki yang sama, dua tahun lalu, mengangguk di sebelah humas Megah City dan menyebut kematian anaknya sebagai faktor cuaca. Sekarang ia berpura-pura selalu di pihak kebenaran, seperti orang yang baru pindah ke kapal lain ketika kapal pertama mulai miring.
Seorang anggota dewan kota yang dulu menerima 'dukungan' dari Brotoseno untuk kampanyenya kini berdiri di depan kamera, menuntut pencabutan izin seluruh proyek Megah City yang sedang berjalan, mengaku 'selalu khawatir tentang standar keselamatan perusahaan itu'. Stasiun televisi besar yang dulu membingkai Sundari sebagai aktivis bayaran kini menayangkan liputan simpatik tentang 'perjuangan seorang ibu melawan ketidakadilan', tanpa secuil pun rasa malu atas tayangan mereka sebelumnya. Bahkan beberapa pengusaha yang dulu bermitra dengan Brotoseno mulai menjaga jarak, membatalkan kerja sama, melepaskan diri dari nama yang tiba-tiba beracun.
Bu Ratri menjelaskan ini pada Sundari dengan ketenangannya yang dingin. 'Ini selalu terjadi, Bu Sundari. Orang yang berkuasa dikelilingi orang yang setia pada kekuasaannya, bukan pada dirinya. Selama dia kuat, mereka menyangga. Begitu dia goyah, mereka lari, dan mereka lari paling cepat justru karena mereka yang paling tahu seberapa dalam keterlibatan mereka. Mereka tidak melindungi Brotoseno sekarang; mereka melindungi diri sendiri dari Brotoseno, supaya kalau dia jatuh, mereka tidak ikut tertimpa.'
'Jadi sekarang dia sendirian,' kata Sundari.
'Sekarang dia sendirian,' Bu Ratri mengangguk. 'Persis seperti Ibu pernah sendirian di trotoar itu, dua tahun lalu. Cuma bedanya, Ibu sendirian karena memegang kebenaran. Dia sendirian karena memegang kebohongan, dan kebohongan tidak punya teman setia begitu ia tidak lagi menguntungkan.'
Sundari memikirkan itu lama. Ia teringat hari pertama ia berdiri di trotoar depan menara, dengan kardus mi instan dan foto Bagas, ketika satpam mengusirnya dan pejalan kaki menatapnya seperti orang gila, ketika ia benar-benar sendiri dan kecil dan tak punya siapa-siapa. Dan kini, ada lelaki di lantai empat puluh itu yang mulai merasakan apa yang dulu ia rasakan: ditinggalkan, telanjang, sendirian melawan arus. Anehnya, Sundari tidak merasa puas. Ia kira ia akan merasa puas. Selama dua tahun ia membayangkan momen menara itu goyah, momen orang-orang besar gemetar. Tapi ketika momen itu datang, yang ia rasakan bukan kemenangan melainkan sesuatu yang lebih sunyi, lebih tua, lebih lelah. Karena ia tahu bahwa goyahnya menara tidak mengembalikan Bagas. Tidak ada apa pun yang akan mengembalikan Bagas.
Di menara, Brotoseno menerima kabar kepergian para pelindungnya satu per satu, dan ia tidak terkejut. Ia sudah cukup tua dan cukup lama di dunia ini untuk tahu bahwa beginilah ujungnya. Ia teringat sebuah perumpamaan lama yang dulu diceritakan ayahnya, tentang pohon besar yang ditebang: bukan kapaknya yang paling melukai, melainkan gagang kapak yang terbuat dari kayu pohon itu sendiri. Orang-orang yang menebangnya sekarang adalah orang-orang yang ia besarkan, yang ia beri jabatan, yang ia kayakan. Ia membangun mereka, dan kini mereka menjadi gagang kapak yang mengayun ke arahnya.
Ia berdiri di jendela lantai empat puluh, sendirian, menatap kota yang ia bangun dan yang kini berbalik melawannya. Di kejauhan, di bawah sana, di antara cahaya-cahaya, ia tahu ada sebuah trotoar. Trotoar tempat seorang perempuan dulu berdiri sendirian, diusir dan ditertawakan, dan tetap berdiri. Brotoseno menatap ke arah trotoar itu, dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasakan sesuatu yang asing menjalar di dadanya, sesuatu yang bukan amarah, bukan ketakutan, melainkan rasa hormat — rasa hormat yang terlambat dan getir dan tak berguna lagi — pada perempuan kecil yang telah melakukan hal yang ia, dengan semua kuasanya, tak pernah berani lakukan: berdiri sendirian demi kebenaran, dan tidak lari.