Gelap, dingin, perlahan alis setajam pedang itu bergerak, kelopak matanya bergetar dan memperlihatkan sepasang mata yang tajam. Pria diatas ranjang pasien itu sedikit mengeryit merasakan rasa nyeri hebat di d**a kirinya. Kilasan balik terlintas di benaknya ketika ia belum tak sadarkan diri beberapa waktu sebelumnya.
Senagaku Kaito tidak pernah mengira ada anjing penghianat di dekatnya. Menggertakan gigi dia akan membuat perhitungan yang adil setelah kondisinya membaik. Melirik ke ruangan sekitarnya yang di d******i warna putih, serta bau obat yang kental Kaito menyadari ia sedang berada di Rumah Sakit. Sepasang mata almond itu, Kaito merasakan desiran halus di dadanya, berani sekali wanita kecil itu menyelamatkannya. Kaito membuat pernyataan tak tertulis di kepalanya dia harus menemukan wanita penyelamatnya malam itu.
Suara pintu terbuka, memperlihatkan seorang pria berwajah garang dengan bekas luka memanjang di dahinya memasuki ruangan. Setelan hitamnya menimbulkan kesan garang dan dingin di saat bersamaan, melihat Tuannya sudah sadar di tempat tidur, ia mempercepat langkah kakinya yang berbalut sepatu pantofel hitam mengkilat untuk mendekat.
"Kaito-sama, bagaimana keadaan Anda? ini adalah kelalaian saya, mohon berikan hukuman" ucapnya sambil membungkukkan tubuhnya sampai iya bisa melihat kakinya sendiri. Keringat dingin menetes di dahinya, dan kemejanya sudah basah. Orang dihadapannya ini bukanlah orang sembarangan, beliau adalah satu-satunya penerus keluarga Senagaku yang termasyhur.
Senagaku memiliki sejarah panjang di Jepang, Keluarga Senagaku sebenarnya adalah bagian dari keluarga Oya, keluarga kekaisaran penguasa Jepang saat ini. Kakek Kaito, Senagaku Ryu adalah Kakak dari Kaisar sebelumnya. Nama aslinya adalah Oya Sugukawa, setelah menghadapi kekalahan dalam perang dunia, Jepang mengalami krisis dan tekanan luar biasa. Banyak politikus dan jenderal pengkhianat bekerjasama sama dengan organisasi gelap untuk menjual Negara dan memberontak. Demi melindungi Negara dan keluarga Kekaisaran Jepang, Oya Sugukawa mengambil langkah berani. Dengan memalsukan kematiannya, ia merubah nama dan identitas menjadi Senagaku Ryu dan mendirikan Organisasi Yakuza Senagaku-gumi.
Senagaku-gumi adalah organisasi Yakuza pertama di Jepang. Dari luar organisasi tersebut adalah kelompok gelap yang berbisnis tempat hiburan, kasino, alkohol dan obat terlarang. Namun sebenarnya organisasi itu mengawasi dan memusnahkan ancaman Negara. Anggota mereka adalah mantan keluarga samurai yang sangat setia pada kekaisaran tetapi tidak memiliki tempat dan posisi dalam pemerintahan. Hubungan keluarga Senagaku dan keluarga kekaisaran hanya diketahui oleh Kaisar saat ini, penerusnya, dan Pemimpin Keluarga Senagaku.
"Bagaimana dengan anjing itu ?"
"Saat ini sudah ditangani, seperti yang ada duga sebelumnya, orang dibalik semua ini adalah kelompok Tagami, untuk selanjutnya kami menunggu perintah Anda"
ucap Takeda dengan lugas.
Takeda adalah tangan Kanan Kaito, kejadian kemarin adalah salah satu kelalaiannya sehingga menyebabkan Pemimpin mereka di sergap. Mereka kehilangan beberapa pengawal dan pemimpin keluarga mengalami luka serius. Untung saja mereka bukan tandingan Kaito-sama, beliau mahir dalam seni beladiri, politik, dan bisnis sejak usia 14 tahun, dan mengambil alih organisasi saat berusia 19 tahun.
"hm, aku sedang malas, kirimkan saja cinderamata untuk Tua Bangka itu, kudengar cucu kesayangannya sedang di hokaido, dan untuk hukumanmu kau tau bagaimana menebusnya"
"Baik Tuan"
Tok Tok Tok
"Selamat siang Senagaku-san, saatnya pemeriksaan" terdengar langkah seorang wanita memasuki ruangan. Tatapan Kaito sepenuhnya teralihkan kepada sosok yang baru saja memasuki ruangan tersebut. Rambut hitam panjangnya diikat asal dibelakang kepalanya, tatapan matanya tenang dengan senyum profesional.
"Bagaimana kondisi Anda? apakah ada yang terasa tidak nyaman?"
"Sudah lebih baik, Sensei" jawab Kaito dengan menyeringai. Gadis kecil yang menarik. Di usianya yang sekarang 33 tahun auranya saja cukup mengintimidasi dan membuat siapapun akan berhati-hati saat berhadapan dengannya. Hah, lihat saja perawat dibelakang dokter itu, Kaito bahkan dapat melihat dengan jelas nampan obat yang di pegangnya ikut bergetar karena si pemegang sedang gemetar seperti saringan.
"Syukurlah, anda kehilangan bayak darah tadi malam, peluru di d**a Anda sudah diambil, dan tidak akan ada komplikasi lanjutan, sumimasen, saya akan membuka perban Anda" Rumi mendekat dan mulai melakukan pekerjaannya, matanya fokus mengamati luka jahitan di d**a pasien.
"Terimakasih atas bantuan anda kemarin malam, Sensei" Kaito mulai menyukai panggilan Sensei yang keluar dari mulutnya.
"Oh, hanya kebetulan sedang lewat, apakah Anda sudah melaporkan kepihak berwajib? sepertinya jarang sekali ada perampokan di daerah ini"
Tawa Kaito hampir menyembur dan tatapan matanya sedikit geli.
"Anda benar Sensei, saya akan membuat laporan segera"
"Itu bagus, jika Senagaku-san membutuhkan saksi saya bersedia membantu"
"terimakasih banyak, emm.. Rumi-Sensei"
Ucap Kaito sambil tersenyum setelah melirik name tag di d**a Rumi, Takeda di sebelah ranjang memelototkan matanya, Tuannya tersenyum ? Dewa pencabut nyawa ini tau cara tersenyum ? selama ini yang terlihat diwajahnya hanya seringai dingin atau tatapan angkuh, apakah Tuannya perlu memeriksakan kepalanya juga ?
Rumi tersenyum dan melankutkan pemeriksaannya, "Sepertinya pemulihan luka Anda sangat baik, setelah ini perawat akan mengganti perban Anda. Saya akan melakukan pemeriksaan kembali besok siang, selamat beristirahat Tuan"
Rumi hendak berdiri dan meninggalkan ruangan ketika merasakan sebuah tangan mencengkeram kuat lengannya dan menariknya hingga terduduk diatas paha si Pasien.
"Sensei, tapi saya tidak mempercayai perawatan orang lain selain Anda"
Telinga Rumi menegak, alisnya menegang dan raut wajahnya menunjukkan ekspresi tidak suka. "Mohon jaga sikap Anda Tuan" Rumi segerap bangkit dan berusaha melepaskan diri, tapi cengkraman tangan itu menguat seolah dirinya terikat dengan rantai. Rumi tidak menyukai arogansi pria ini, ia hanya menjalankan tugasnya dengan tenang dan tidak ingin menarik masalah, setelah ini Rumi akan mengajukan dokter lain untuk menggantikannya mengurus pria ini.
"Sebagai seorang dokter, bukankah tugas Anda adalah memastikan kesembuhan pasiennya, dan saya adalah pasien Anda" bisik Kaito dengan menekankan kata "pasien". Takeda benar-benar khawatir dengan kondisi Tuannya, Kaito-sama benar-benar membutuhkan pemeriksaan di kepala. Tuannya adalah manusia es dengan suara mahal yang jarang, hampir tidak pernah berkata sebanyak itu pada orang selain Ryu-sama sang Kakek.
"Sebagai pasien, Anda harus menuruti kata-kata Dokter Anda" balas Rumi dengan menatap tajam mata Kaito dan menekankan kata Dokter. Sekilas keterkejutan terlihat di mata Kaito, tak pernah seorang pun berani mendebatnya, kata-katanya adalah perintah mutlak, tertawa terbahak-bahak Kaito melepaskan tangannya dan menatap sang Dokter.
"Baiklah, Rumi-san adalah Dokter saya, dan saya adalah pasien Anda"
Kaito mengucapkan kalimat itu dengan menatap Rumi penuh arti, dan Rumi merasakan tubuhnya bergidik ngeri, seolah kalimat tadi memiliki arti lain. Dengan segera ia berbalik menuju pintu tanpa mengucapkan selamat tinggal.
Setelah kepergian Sang Dokter, wajah Kaito berubah menjadi dingin, ia melirik perawat yang bertugas mengganti perban, seolah mengerti perawat tersebut segera mebungkuk dan berlari meninggalkan ruangan.
"Takeda, ada sesuatu yang harus kau lakukan"