"Pisau bedah.. "
"Tie.. Cut..."
Suara mesin detektor jantung, dan tabung oksigen memenuhi ruangan. Dalam ruangan berbau anestesi bercampur dengan darah, seorang pria terkapar besimbah darah. Saat ini waktu menunjukkan pukul 23.20 dan operasi tersebut telah berlangsung lebih dari 3 jam.
"Wijaya-Sensei, pendarahan sudah berhenti, " Ucap seorang perawat dengan lega
"Syukurlah, Wijaya-Sensei memang dokter bedah wanita terhebat di Rumah Sakit kita" Dokter anestesi ikut menimpali
Sang Dokter hanya tersenyum singkat dibalik maskernya. Pasien pria usia 55 tahun, korban tabrak lari yang diantar dalam kondisi yang sangat parah dan kehilangan banyak darah.
"Terimakasih atas kerja keras Anda sekalian " ucap sang dokter dengan tersenyum setelah melekatkan plester terakhir.
"Baik, terimakasih kerja kerasnya Sensei"
Wijaya Sense tersenyum sekilas, mengangguk kemudian berjalan keluar dari ruang operasi untuk menemui keluarga pasien.
_______
Lorong koridor ruang operasi tampak sepi pada waktu dini hari seperti ini. Menghela nafas sambil membersihkan tangannya, Rumi benar-benar merasa matanya semakin tidak bisa diajak berkompromi. Hari ini 3 operasi terjadwal dan 1 operasi dadakan benar-benar menguras habis energinya.
tring...
Satu notifikasi masuk melalu layar ponselnya yang sudah retak.
"1,5 juta yen telah di transfer ke akun rekening Anda"
Senyum mengembang dibibir merah Rumi, matanya memancarkan kelegaan seolah lelah kerja kerasnya seharian menguap seperti air di gurun pasir. Bilang saja dia materialistis Rumi tak peduli, memangnya siapa di dunia ini yang tidak menyukai uang. Uang ini adalah tali penyelamatnya dan adiknya saat ini. Adiknya, senyum Rumi melembut mengingat bayangan senyum penuh semangat cahaya hatinya satu-satunya, Raka adik semata wayangnya yang saat ini di Indonesia.
Yahh, Rumi adalah dokter bedah dari Indonesia yang bekerja rumah sakit terbesar di Kyoto. Ia datang ke Jepang 3 tahun lalu karena terdesak Ibu Tiri dan Ayahnya yang tidak beradab itu. Senyum mengejek muncul dibibir rumi mengingat sepasang suami istri hina itu.
Rumi sebenarnya lahir dari keluarga kaya raya di Indonesia, Keluarga Ibunya adalah pemilik toko waralaba yang cukup terkenal, tokonya bergerak dibidang F&B dan tersebar dibeberapa Kota besar di Indonesia. Namun, Ibunya adalah wanita cerdas yang berbakat dalam bisnis tetapi sangat payah memilih suami.
Ayah Rumi sebenarnya adalah arsitek yang cukup berbakat, namun hanya berasal dari keluarga pinggiran kota yang miskin. Ayahnya adalah seorang penerima beasiswa di universitas yang sama dengan Ibunya, keduanya berkenalan di organisasi Universitas dan menikah beberapa tahun kemudian. Selama bertahun-tahun menikah, Ayahnya telah berhasil mengambil kepercayaan Kakek Rumi dari pihak Ibunya. Sang Kakek mempercayakan pengelolaan bisnis keluarganya kepada Ayahnya. Hingga kemudian ketika Sang Kakek kesehatannya menurun dan pada akhirnya menyerah karena kanker Ayah biadab itu mulai mengeluarkan pisaunya.
Rumi ingat dengan jelas, malam itu karena kesedihan atas kematian sang Ayah, Ibu Rumi muntah darah dan kesehatannya semakin menurun, disaat ia sangat membutuhkan suaminya, saat itu pula sang suami menaburkan garam diatas lukanya. Terang-terangan Ayah rumi pulang membawa seorang jalang yang diakuinya sebagai istri dan orang yang dicintainya.
Ibu Rumi menelan pil pahit bahwa ia diceraikan dan diusir dari rumahnya, seluruh aset keluarga dan bisnis dikuasai Ayah Rumi, untunglah saat itu Kakek Rumi pria dengan wawasan jauh ke depan, beliau menyadari bahwa manusia bisa berubah, jadi seluruh aset keluarga diwariskan kepada Raka, dan akan menjadi sepenuhnya milik Raka saat ia berusia 25 tahun. Saat ini Ayah Rumi mengelola aset tersebut atas nama wali Raka. Namun, bukan berarti itu adalah jalan keluar yang aman.
Rumi dan Raka menjadi tahanan di runah mereka sendiri, seluruh aset disita, Rumi yang saat itu berusia 13 tahun dan Raka 6 tahun hidup terlunta-lunta di rumah mewah tersebut. Beberapa bulan setelahnya mereka menerima kabar bahwa sang Ibu menghembuskan nafas terakhir di salah satu yayasan perawatan pasien kanker, yah salah satu mantan orang kepercayaan Kakeknyalah yang merawat Ibu Rumi hingga akhir hayatnya.
Sejak saat itu Rumi bertekad akan mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya, dan membawa Raka pergi jauh, persetan dengan aset sialan itu, biarkan dua manusia biadab itu membawanya sampai ke Neraka. Rumi bekerja keras dan berhasil mengumpulkan sejumlah uang, namun naasnya atas ancaman Ayahnya terhadap Raka, Rumi terpaksa menyerahkan tabungannya untuk menutup hutang-hutang Ayahnya.
Karena sifat tamak dan boros sepasang manusia itu, perusahaan Kakeknya mengalami kemerosotan, hutang dimana-dimana dan aset mereka banyak terjual, bahkan Ibu Tirinya hendak menjual Rumi ke salah satu pria tua kaya raya sebagai jaminan pelunasan hutang. Terdesak Rumi terpaksa menandatangani surat kontrak kerja sebagai ahli bedah di Jepang selama 5 tahun. Untuk memastikan keselamatan Raka, Rumi juga memasukkannya ke dalam asrama mahasiswa dan melarangnya pulang. Dua tahun lagi setelah semuanya selesai, uang terkumpul dia akan pindah Negara, pindah kewarganegaraan, membuka klinik dan memulai hidup baru dengan Raka.
"Wijaya-sensei, keluarga pasien sudah menunggu anda" panggilan dari salah satu perawat menyadarkan Rumi dan segera menuju ruang tunggu.
__________
Setelah membereskan barang-barangnya di loker Rumi segera memakai jaketnya mengambil payung dan bersiap pulang. Cuaca di Kyoto saat ini cenderung lebih sering hujan, jadi Rumi selalu membawa payung hitam kesayangannya. Jarak apartemen Rumi dengan Rumah Sakit tidak terlalu jauh, hanya sekitar 20 menit berjalan kaki, apartemen itu adalah fasilitas tempat tinggal yang diberikan oleh Rumah Sakit, tanpa biaya sewa, jadi Rumi bisa menghemat lebih banyak.
"Rumi-san, baru mau pulang ?"
"Ayato-Sensei, iya operasi mendadak, pasien tabrak lari"
"Ah, tadi saya sudah dengar dari Takeda, segera pulang dan istirahat Rumi-san"
"Terimakasih banyak sensei"
Dokter Ayato tersenyum dan mengamati kepergiannya dengan senyuman, Dokter Ayato adalah satu dari sekian banyak pengagum Rumi, siapa yang bisa menolak pesona secantik itu, rambut hitam panjang yang bergelombang, sepasang mata almond yang menawan, kulit secerah s**u, serta kecerdasan dan pembawaan yang penuh percaya diri Rumi, mampu memikat siapapun dalam sekali pandang. Namun, sikap dingin dan tertutupnya membuat banyak orang hanya mampu mengaguminya dari kejauhan dan tidak memiliki kepercayaan diri untuk mendekat.
Malam ini sedikit lebih dingin dari biasanya, Rumi memakai mantel panjang berbahan kain yang nyaman, sepatu putihnya melangkah melewati genangan air terbentuk dari derasnya hujan. Rumi mempercepat langkahnya setelah melewati gerbang Rumah Sakit, bagaimanapun pulang sendirian di tengah hujan dini hari bukan hal menyenangkan, Rumi sudah membayangkan kasur nyamannya dan bergelung dengan selimutnya yang hangat.
Rumi berbelok masuk ke gang kecil di belakang Rumah Sakit, pertokoan di gang ini sudah tutup sehingga lorongnya terlihat lebih gelap, namun betapapun gelapnya lorong itu, Rumi tetap mampu melihat genangan air berwarna merah yang mengalir ke arahnya.
Darah
Sebagai seorang tenaga medis, instingnya mengatakan darah ini bersumber dari luka yang tidak ringan, Rumi mempercepat langkahnya mengikuti sumber aliran darah tersebut, terkesiap ia menemukan sesosok bertubuh jangkung tergeletak bersimbah darah. Rumi memeriksa denyut nadinya, berdetak namun lemah, darah tersebut rupanya bersumber dari balik jas pria tersebut,
luka tembak, apakah perampokan ?
Dengan cepat Rumi menekan sumber pendarahan, wajah si pria sudah seputih kertas. Rumi menekan panggilan darurat di ponselnya, pasien ini harus segera dibedah jika tidak nyawanya tidak akan tertolong, tiba-tiba sebuah tangan besar mencengkeram lengannya. Tangan itu besar dan kuat seolah bisa meremukkannya, Rumi terkesiap, dengan kondisi luka separah ini, pasien ini masih memiliki tenaga sebesar ini ?
"Tuan, tetap sadar, saya akan segera menyelamatkan Anda"
Dan semuanya mejadj gelap..