Nadine merasa tak tenang, dia gelisah semenjak tadi pagi. Namun dia berusaha mengenyahkan rasa tak nyaman dalam hatinya. Tapi, kini dia tahu jika rasa tak nyaman itu karena kejadian beberapa menit yang lalu.
Putra manisnya di temukan tak sadarkan diri di dekat pintu gerbang. Tubuhnya dingin bahkan wajahnya tak ada rona. Wajahnya pucat dan bibirnya membiru.
Putra manisnya sangat rapuh. Bahkan sejak kecil dia di uji dengan berbagai cobaan. Kini dirinya, sudah berusia dua puluh tiga tahun. Sudah dewasa pun allah masih mengujinya dengan berbagai hal.
"Ma, dokter Hakim sudah pulang." Athar duduk di samping adiknya yang masih tak sadarkan diri.
"Bang, adik."
Athar mengerti. Dia pun tak tega melihat mamanya terus menerus menangis. Di peluknya sang mama dengan lembut. Memberikan ketenangan. B