***
Istana Negeri Luxembourg
"Ayah ingin mengirim salah satu dari kalian untuk menikah dengan Raja Philip dari Kerajaan Swedia,"
"APA?!" teriak keempat puteri serentak.
"Ayah, kenapa ayah tega?" ucap Maria.
"Karena ini demi Kerajaan, puteri puteri ku, ayah mohon pada kalian semua untuk mengikutinya, ini perintah ayah sebagai adipati," ucap Henri.
Akhirnya empat bersaudara itu segera meninggalkan ruangan ayahnya dengan lesu dan kecewa.
"Bagaimama jika kita memainkan permainan gunting kertas batu? Yang kalah harus pergi dan menikah dengan Raja Philip," ucap Christine.
"Kak, aku tidak mau, bagaimana jika aku yang kalah?" ucap Alexa.
"Bukan hanya kau saja yang takut, tapi kita juga takut," Ucap Maria.
Dan sebelum melakukan permainan itu mereka bertiga bergerombol kecuali Alexa. Mereka bertiga seperti sedang mendiskusikan sesuatu.
Alexa sudah mengetahui bahwa saudari-saudari nya sangat ingin menyingkirkan Alexa dari kerajaan. Mereka sangat kompak saat ingin menyingkirkan Alexa. Terkadang Alexa bingung, sebenarnya apa salahnya kepada ketiga kakaknya? Sehingga mereka sangat membenci dirinya. Dan mau bagaimanapun permainannyaAlexa sudah tau bahwa akhirnya ia harus pergi dan menikah dengan Raja Philip.
"Ayo kita mulai gunting kertas batu," Ucap mereka bersamaan.
Dan benar saja semua tangan sama kecuali Alexa ia memilih batu dan ketiga kakaknya memilih kertas.
"Heh?!" Teriak Puteri Alexa terkejut bahwa ia kalah dalam permainan gunting kertas batu dengan saudari-saudari nya.
"Itu sudah nasibmu, kau harus pergi ke Kerajaan Swedia dan menikah dengan Raja Philip," Ucap Ella.
"Kak, bagaimana ini?" tanya Alexa.
"Apakah kau sudah mengetahuinya? bahwa raja itu botak, m***m, kejam, tua bangka, suka tidur dengan wanita yang berbeda," ucap Maria.
"Apakah ada manusia seperti itu?" Ucap Alexa.
Seketika Alexa langsung mematung dan bulu kuduknya berdiri membayangkan ia menikah dengan Raja yang seperti itu.
"Beginikah takdirku kak?" Tanya Alexa.
"Memang seperti itu takdirmu, kau tak bisa menolaknya," Ucap Christine.
[Ps : Marie Christine Anne Charlotte (Christine) anak pertama
Maria Anunciata (Maria) anak kedua
Gabriella Maria Josephine Charlotte (Ella) anak ketiga
Alexandra Josephine Marie Wilhelman (Alexa) anak keempat]
***
Pelabuhan Rotterdam
09:15 AM
Ke esokkan harinya. Alexa memersiapkan dirinya untuk pergi menuju Kerajaan Swedia.
"Ayah aku akan pergi," Ucap Alexa sambil memeluk ayah tercintanya.
"Jaga dirimu baik-baik Alexa, ayah akan sangat menrindukanmu," Ucap Adipati Agung Henri.
"Sudah ayah, ayo kita pulang," Ucap Ella.
"Kak, aku pergi," Ucap Alexa.
Sedangkan ketiga kakaknya hanya tersenyum terpaksa.
"Puteri Alexa," Ucap seorang prajurit yang mengawal Alexa untuk pergi. Ia memersilakan Alexa untuk naik ke kapal.
Alexa pun mulai menaiki kapal dengan kopernya yang dibawakan oleh pengawal.
"Alexa, mengapa harus kau yang pergi?" Ucap kakeknya yang berada di kapal sembari memeluk erat cucu kesayangannya.
"Kakek, ini memang sudah takdirku," Ucap Alexa balas memeluk kakeknya tak kalah eratnya.
Kakeknya sudah diperingatkan untuk tak usah ikut mengantar Puteri Alexa ke Kerajaan Swedia namun, ia tetap ingin mengantarkan cucunya.
"Bisakah kita berangkat sekarang?" Tanya Alexa.
"Siap yang mulia," Ucap salah satu prajurit dan dengan segera prajurit itu memberi aba-aba kepada semua awak kapal.
Dan kapalpun berlayar, Alexa bisa melihat ayahnya yang menatapnya.
"Dah ayah," Teriak Alexa sembari melambaikan tangannya kepada ayahnya.
"Ayah akan sangat merindukanmu," Jawab ayahnya dengan nada rendah.
"Ayah, ayo kita pulang," Ucap Maria.
"Baik," Ucap Henri.
Sedangkan di kapal, Alexa mencoba menenangkan kakeknya yang tak ingin berpisah dengannya.
"Kakek sudahlah," Ucap Alexa.
"Bagaimana aku bisa tenang saat cucuku yang paling aku sayang harus pergi hanya karena pernikahan konyol itu," Ucap Kakeknya Alexa.
"Ini demi kerajaan, lagipula aku sudah siap menerimanya, dan lagi ini bukan sebuah perpisahan, aku bisa saja berkunjung kapanpun aku mau, bukan begitu kakek?" Ucap Alexa menenangkan kakeknya.
"Kau harus berjanji, kau harus mengunjungiku walaupun hanya sekali," Ucap kakeknya.
"Aku berjanji kakek," Ucap Alexa.
Sekitar setengah hari sudah kapal berlayar hingga hari terlihat sudah petang.
"Ada pelabuhan," Teriak salah seorang awak kapal.
"Kita berlabuh di sana," Ucap Alexa.
"Siap yang mulia," Ucap semua awak kapal.
"Wah hebat semua orang di situ masih bangun," Ucap Alexa.
"Kau yakin? Kita berpisah di sini," Ucap kakeknya.
"Jaga kesehatanmu kakek," Ucap Alexa.
Kakeknya mengangguk.
"Apakah tak apa kau menuju Istana Kerajaan Swedia tanpa ada pengawal yang menjagamu?" Ucap Kakeknya.
"Tak apa, aku ingin melihat lihat negeri ini terlebih dahulu, kalau ada pengawal pasti akan tiba di istana dengan cepat," Ucap Alexa.
Kakeknya hanya terkekeh melihat cucunya yang sangat berani.
Dan kapal kembali berlayar.
"Tuan Puteri," Ucap semua awak kapal dengan nada seperti menangis.
"Tak usah menangis, ini bukan perpisahan," Ucap Alexa.
Ketika alexa hendak melangkahkan kakinya ia merasa ada sesuatu yang berbeda di negeri ini.
Ia merasakan angin yang berbeda dari biasanya.
Akhirnya ia memutuskan untuk kembali berjalan dan ternyata itu adalah pasar.
Terlihat banyak sekali orang berlalu lalang, tak jarang juga ada orang yang menawarkan dagangannya.
"Nona, mau mencoba?" Tanya salah satu pedagang buah.
"Wah, aku belum pernah malihat buah seperti ini," Ucap Alexa.
"Ini namanya buah ochelot silakan dicoba nona," Ucap pedagang itu.
Alexa pun mulai mencoba buah itu.
"Enak," Ucap Alexa.
"Jika nona mau membeli ini harganya 2sek," Ucap pedagang itu.
"2sek sama dengan 24euro, hah?! Mahal sekali," Ucap Alexa.
"Mahal? Nona orang miskin ya? Lebih baik kau pergi dari toko ku nanti miskinmu menular," Ucap pedagang itu.
"Kau tak tau aku siapa? Mana bisa miskin menular?" Ucap Alexa namun pedagang itu tak mengadahkannya.
Akhirnya Alexa kembali melanjutkan perjalanannya menuju istana.
Sekian lama berjalan akhirnya Alexa merasa lapar.
"Sekarang aku menyesal tak bersama pengawal," Ucap Alexa.
Ia melihat sisa uang yang di dalam tasnya dan beruntung ia masih menyimpan cukup uang untuk perjalanannya.
Seketika ia merasa ada yang sedang mengikutinya.
Dengan takut Alexa menoleh dan benar saja sudah ada dua orang lelaki berperawakan menakutkan sedang mengikutinya dengan tersenyum. Bukan senyuman senang tetapi seperti senyuman menakutkan.
Alexa berusaha memercepat langkahnya dan dua orang itu juga ikut memercepat langkahnya.
Akhirnya Alexa menghentikan langkahnya dengan tiba-tiba. Ia ingin teriak di situ juga.
"Kalian tak usah mengikutiku," Ucap Alexa.
"Kau cepat berikan uangmu atau kau ingin mati?" Ucap salah satu dari mereka.
"Kau yang ingin mati," Ucap Alexa tak sadar pada ucapannya.
Dan akhirnya kedua preman itu memajukan langkahnya membuat Alexa semakin takut.
"Hei," Panggil seorang lelaki membuat Alexa terlompat kaget.
"Cepat pergi atau aku akan mematahkan rahang kalian," Ucap lelaki itu.
"Heh?! Kau anak muda tak usah ikut campur," Ucap preman itu.
Dan lelaki itu mendaratkan tinjunya pada preman itu membuat darah segar mengalir di salah satu sudut bibir preman itu.
"Pergi sekarang atau aku benar-benar akan mematahkan rahang kalian, apakah kalian tak tau siapa aku?" Tanya lelaki itu.
"Ma-maaf kami akan pergi," Ucap mereka dan mereka lari terbirit b***t.
Alexa terkekeh melihat tingkah preman itu baru sekali kena pukul sudah kabur hanya badan saja yang besar tapi nyalinya sebagai preman kecil.
"Kau, sebaiknya jangan berjalan sendirian di malam hari seperti ini," Ucap lelaki itu.
"Ah ya, terimakasih sudah menolongku," Ucap Alexa.
Dan sejenak Alexa menatap pria itu, dia sangat tampan.
"Sebelumnya siapa nama-" ucap Alexa terpotong ketika lelaki itu sudah berlenggang pergi. Alexa ingin mengejar dan menanyakan siapa nama pemuda itu.
Ia urungkan ketika ia melihat ada tempat seperti penyewaan kuda. Ia pun masuk ke dalamnya.
"Permisi, ada yang bisa dibantu kak?" Ucap gadis seumuran Alexa sembari tersenyum manis.
"Ah iya, aku ingin menyewa kuda," Ucap Alexa.
"Maaf kak tapi ini sudah malam jadi kami tak bisa mengantarkan kakak," Ucap gadis itu.
"Apakah kau tau di mana penginapan dekat sini?" Tanya Alexa pada gadis itu.
"Sepertinya tak ada penginapan lagi kak," Ucap gadis itu.
"Siapa namamu?" Tanya Alexa.
"Namaku Lila siapa namamu kak? Sepertinya kau baik," Ucapnya sembari tersenyun manis.
"Namaku Alexandra, aku harus bermalam di mana jika begini urusannya, tadi aku hampir saja kecopetan untung ada pria tampan yang menolong," Ucap Alexa.
"Kakak kesuliatan ya? Bagaiman jika bermalam di tempat ku," Ucap Lila.
"Benarkah? Kau sangat baik Lila, aku tak akan pernah melupakannya," Ucap Alexa.
"Ayo ikut ke kamarku," Ucap Lila. Sedangkan Alexa mengekor di belakangnya.
"Sebenarnya kau berasal dari mana kak?" Ucap Lila.
"Aku berasal dari Negeri Luxembourg," Ucap Alexa.
"Untuk apa kau datang kemari?" Ucap Lila.
"Untuk menikah dengan Raja Swedia," Ucap Alexa. Dan seketika Lila menghentikan langkahnya.
"Berarti kau adalah ratu? Apakah kau puteri?" Ucap Lila.
"Ah ya, aku puteri dari Luxembourg," Ucap Alexa cangung.
Dan Lila segera membungkukan badannya.
"Tidak usah seperti itu," Ucap Alexa.
"Tapi kau adalah yang mulia puteri," Ucap Lila.
"Panggil aku Alexa saja Lila," Ucap Alexa canggung.
"Baiklah," Ucap Lila.
Dan Alexa pun tersenyum.
Malam itu Alexa bermalam di kamar Lila.
Dan keesokkan harinya Alexa sudah bersiap untuk berangkat dan dengan di antar seorang kusir di depan kereta kudanya.
Alexa melambaikan tangannya dan juga Lila.
Alexa menyusuri jalanan, hutan, dan bahkan ia harus menyeberangi sungai dan melewati jalan berlumpur untuk menuju kota.
Setelah sekian perjalanan yang melelahkan akhirnya Alexa pun sampai di depan gerbang yang sangat besar dan tinggi dan tentu saja terdapat dua prajurit yang menjaga di kedua sisi gerbang.
"Siapa kau?" Tanya salah satu prajurit sembari menghalangi Alexa untuk masuk.
Alexa pun mengeluarkan surat yang sudah dibuat oleh ayahnya.
"Aku Puteri Alexa dari Luxembourg," Ucap Alexa sembari menyodorkan kertas itu.
"Silakan masuk yang mulia," Ucap prajurit itu.
Alexa pun masuk dengan dua pengawal mengikutinya. Alexa ternganga melihat kemewahan dan kebesaran istana itu. Bahkan ini jauh lebih besar dan mewah dari istana di negeri nya.
"Raja ada di dalam," Ucap prajurit dan meninggalkan Alexa sendirian di depan pintu besar dan tinggi dengan ukiran kayunya yang sangat mewah.
"Baiklah Alexa, kau pasti bisa," Ucap Alexa menyemangati dirinya sendiri.
Dan Alexa mulai membuka pintu itu dengan sangat pelan membuat suara decitan di pintu terdengar.
Alexa mulai berjalan maju mendekati kursi yang di baliknya terdapat seseorang dengan mahkota yang ia kenakan.
Alexa menunduk dan berlutut. Ia takut bahwa Raja itu botak, jelek, dan lain sebagaianya. Pikiran buruk sudah mulai mengahantui kepalanya.
Dan seorang di balik kursi itu mulai memutar kursinya dan melihat ke arah orang yang sedang menghadapnya.
"Apakah mereka ingin bermain main denganku? sudah kubilang kirim yang paling cantik," ucap Raja Philip yang merupakan Raja Swedia dengan angkuhnya.
"Puteri Alexa angkat wajah anda," ucap penasehat Raja yang setia di samping sang raja.
Raja Philip yang sedari tadi menonton seketika tersenyum puas melihat gadis di hadapannya.
'Heh?! ini rajanya? Tampan sekali dan tunggu bukankah dia yang menolongku waktu itu?' Batin Alexa sembari tak memalingkan pandangannya dari sosok tampan dengan jubah kebesarannya tak lupa mahkota besar tertengger rapi diatas kepalanya.
Ia sangat sempurna. Hidung mancung, rahang tegas, mata yang dalam dan tajam, wajahnya benar-benar sempurna bak dewa. Tapi, ia merasakan ada yang berbeda di mata Raja Philip, ia merasakan ada kebencian yang mendalam di mata indah itu.
Ia sudah sangat berbeda saat terakhir kali bertemu hingga Alexa tak yakin bahwa yang di sana adalah Philip yang waktu itu menolongnya. Tubuhnya jauh lebih besar dan tinggi, wajahnya jauh lebih tampan, dan matanya... Sangat indah.
"Terkejut hmm?" Ucap Philip sembari berjalan mendekati Alexa.
"K...kau bukankah-" ucapan Alexa terpotong.
"Ya aku yang sudah menolongmu tadi malam dan juga waktu itu dan sekarang aku meminta bayarannya," Ucap Philip.
Alexa sama sekali tak bisa memalingkan pandangannya dari wajah tampan sekaligus menawan itu.
Philip berlutut dan menundukan kepalanya agar bisa melihat dengan jelas wajah gadis cantik di hadapannya.
Sejenak pandangan mata mereka bertemu dan baik Alexa maupun Philip sama-sama terhanyut dalam tatapan mereka.
"Berapa yang harus ku bayar?" Ucap Alexa sembari memalingkan pandangannya karena sudah tak kuat dengan mata indah itu.
"Aku tak meminta uang," Ucap Philip santai.
"Lalu?" Tanya Alexa bingung.
"Ini," Ucap Philip sebelum sedetik kemudian bibirnya menyentuh bibir Alexa.
Mata Alexa membulat dan dengan segera ia mendorong tubuh Philip dan menamparnya.
Alexa tau bahwa tenaganya bahkan tak berefek pada pipi Philip.
Para penjaga dan pengawal kaget melihat hal itu. Biasanya jika setiap wanita yang pertama bertemu sudah di cium oleh Raja Philip pasti mereka akan meminta lebih dan berujung pada membatalkan kerja sama negara mereka. Namun, Philip tak pernah menolak keinginan puteri bangsawan bodoh yang memberikan tubuh mereka secara cuma-cuma. Bahkan Philip selalu memandang mereka seperti jalang dan setelah melakukan hubungan intim mereka langsung diberikan uang dalam jumlah yang besar dan sekaligus membawakan berita bahwa kerja sama antara negara mereka dibatalkan.
Sedangkan Philip malah tersenyum devil seperti tak merasakan sakit sama sekali akibat tamparan Alexa.
"Kau adalah wanita pertama yang berani menyentuhku, tapi aku suka itu," Ucap Philip dengan nada yang pelan membuat jantung Alexa berdetak tak karuan.
***