-----------
Alexa memejamkan matanya saat Philip membisik padanya. Rasanya ia dapat merasakan deru nafas Philip yang berdesir di daerah lehernya membuat gelenyar aneh manaungi dirinya.
Setelah sadar, pipi Alexa langsung memerah padam. Sontak ia langsung berlari ke dalam tempat yang dinamakan kamar mandi itu.
Philip tak bisa menahan tawanya ketika melihat reaksi Alexa.
"Stop it jerk!" Ucap Alexa di dalam kamar mandi.
Philip tetap tak memedulikan dan ia tetap tertawa kencang mendengar Alexa menggerutu jengkel padanya.
----------
Setelah selesai mandi, Alexa beranjak menuju kamar yang tadi ia tempati dan ia tak melihat Philip disitu. Akhirnya Alexa memutuskan untuk menuju balkon kapal untuk menikmati deburan ombak dan semilir angin yang selama ini ia rindukan.
Alexa memejamkan matanya dan membiarkan angin menerpa rambutnya yang ia gerai. Lalu tiba-tiba ia merasakan tangan seseorang sedang merengkuhnya dari arah belakang. Alexa tak asing dengan tangan itu.
"Kau sangat cantik," ucap Philip.
"Aku tau," ucap Alexa sembari terkekeh.
Philip kembali mengencangkan rengkuhannya pada Alexa sembari menenggelamkan kepalanya pada lekukan leher Alexa. Philip mencium aroma tubuh Alexa yang begitu memabukan sekaligus menenangkannya.
"Aku merindukan ayah dan kakek ku," ucap Alexa.
Kemudian Alexa merasakan Philip mengangkat kepalanya namun tetap tak melepaskan rengkuhannya.
"Aku tau itu," ucap Philip.
"Terima kasih sudah mengizinkanku mengunjungi negeri ku," ucap Alexa.
Philip mengangguk. Kemudian Philip memandang lautan yang begitu biru membuat matanya berbinar melihatnya. Alexa seakan menyadari.kalau Philip begitu menyukai laut itu kemudian Alexa membalikkan tubuhnya sehingga ia berhadapan dengan Philip dalam jarak yang dekat.
"Kau menyukai lautnya?" Tanya Alexa.
"Iya aku menyukainya, mereka terlihat indah," ucap Philip.
Alexa tersenyum.
"Lautan memang indah Philip, matahari, awan, hujan, laut, angin, semua nya indah jika kau menyadarinya," ucap Alexa.
"Aku menyadarinya sekarang," ucap Philip.
"Tapi kau adalah yang terindah diantara semuanya," ucap Philip menambahkan.
"Kau tak usah merayuku," ucap Alexa sembari tertawa kecil.
"Aku tidak merayumu Alexa, aku bahkan sudah menyadari sejak awal kalau kau adalah satu-satu nya hal terindah yang pernah ku temui," ucap Philip.
"Sejak kapan?" Tanya Alexa.
"Sejak kau memberikan luka gigitan singa," ucap Philip dengan wajah seperti meringis.
Alexa tertawa pelan mendengar itu.
"Pada saat itu aku sangat marah padamu karena kau pergi dan hanya meninggalkan selembar surat," ucap Philip.
"Itu karena aku tidak tega membangunkanmu yang sedang kelelahan karena sudah menyelamatkanku," ucap Alexa.
"Yang mulia, kapal akan segera berlabuh," ucap Niell yang sudah berdiri di samping Alexa dan Philip.
Akhirnya Alexa pun menjauhkan tubuhnya dari Philip dan mendekat menuju pagar balkon kapal agar dapat melihat lebih jelas pulau yang ada di depan matanya.
"Ya," jawab Philip.
"Baik, permisi yang mulia," ucap Niell.
Philip mengangguk dan Niell pun segera menundukan tubuhnya dan pergi meninggalkan Philip dan Alexa.
***
Saat ini Alexa dan Philip sedang berada di kamar kakeknya Alexa. Alexa menatap kakeknya dengan tatapan rindunya. Ia melihat kakeknya sedang tertidur pulas.
"Kakek, aku sudah datang," ucap Alexa pelan agar tak membangunkan kakeknya itu.
Philip berdiri di samping Alexa sembari merangkul pinggangnya.
Sejak pertama ia dan Alexa sampai di sini, ia merasa seperti ada yang mengikutinya. Tentu saja Philip selalu siaga karena bisa saja fraksi musuh mengetahui keberadaannya dan menyerangnya di saat ini juga, karena pengamanan untuknya ke negeri ini sengaja ia longgarkan demi liburannya bersama Alexa.
"Alexa, mari kita berkumpul bersama," ucap seseorang yang sudah nerada di belakang mereka.
"Maaf yang mulia, mari kita berkumpul bersama keluarga kami negeri Luxembourg," ucap Henry.
"Baik," ucap Philip.
Kemudian Philip berjalan tetapi tetap tak melepaskan rangkulan tangannya dari pinggang Alexa. Alexa dan Philip mengikuti Henry sembari Philip yang sesekali mengedarkan pandangannya pada istana Negeri Luxembourg.
Philip menengok ke kanan dan mendapati lukisan keluarga kerajaan di situ, sekilas Philip melihat ada lukisan Alexa di situ ketika ia masih berumur 3 tahun dan masih digendong oleh kakeknya. Melihat wajah polos Alexa di situ membuat Philip menyunggingkan senyum tipisnya.
"Kita sudah sampai yang mulia,"ucap Henry.
Philip mengangguk. Philip melihat ada sebuah meja pendek panjang yang penuh dengan makanan dan banyak cangkir teh di situ.
"Silakan duduk yang mulia," ucap Henry.
Kemudian mereka bertiga pun mendudukan tubuh mereka.
"Ayah tak usah kaku dengannya," ucap Alexa yang sedari tadi jengah mendengar ayahnya memanggil Philip dengan sebutan 'yang mulia' dan itu hanya membuat Philip yang selalu bersifat bossy kembali mengeluarkan sifat bossy nya.
"Hei, kau ini seharusnya memanggilnya juga yang mulia kau ini sungguh mempermalukan ayah Alexa," ucap Henry dengan nada sedikit jengkel.
"Aah ayah tak usah terlalu kaku seperti itu, lagipula kita kan sedang berlibur jadi kita akan menikmati waktu santai di sini," ucap Alexa.
"Baiklah, ayah tak bisa menolak keinginan puteri ayah yang satu ini," ucap Henry sembari tertawa.
Philip merasakan kekeluargaan di sini, dan ia pun merasa nyaman. Sejak kecil Philip hidup hanya dengan kasih sayang ibunya bahkan itupun hanya sampai ia berumur 10 tahun. Namun, sejak ia datang ke sini ia tak pernah melihat ibu dari Alexa bahkan dalam lukisan keluarga.
"Mari kita mulai makannya dan kemana tiga kakakmu?" Ucap Henry.
"Kami di sini ayah," ucap Maria sembari berjalan menuju meja makan itu. Alexa memandang ketiga kakaknya dan sepertinya penampilan mereka sungguh berbeda. Mereka terlihat menggunakan make up dan gaun yang bagus.
"Bisa di mulai saja jamuannya?" Ucap Philip.
"Tentu yang mulia," ucap Henry.
Mereka pun makan bersama dan Alexa dapat melihat ekspresi kesal ketiga kakaknya karen sedari tadi Philip bahkan tak melirik mereka.
Henry sudah menceritakan masa kecil Alexa yang sangat berbeda dengan ketiga kakaknya. Alexa kecil yang nakal, dan sebagainya sudah diceritakan semuanya oleh Henry pada Philip. Dan sepertinya Philip lebih tertarik pada cerita tentang Alexa dari ada melirik ketiga kakak Alexa.
"Anda bisa istirahat sekarang yang mulia Alexa akan mengantar anda menuju kamar kalian," ucap Henry.
"Baik-" ucap Philip terpotong.
"Kamar kami? Maksudnya kami akan satu kamar?" Ucap Alexa.
Philip menatap Alexa bingung. Lalu sesaat kemudian Philip tersenyum nakal memikirkan sesuatu.
"Aku tidak keberatan, bahkan kebih baik jika kasurnya dengan ukuran yang sempit," ucap Philip sembari megedipkan matanya pada Henry seperti mengode sesuatu.
Sontak Alexa membulatkan matanya tak pecaya.
Henry yang mengetahui hal itu pun langsung tertawa.
"Tenang saja yang mulia, anda akan puas malam ini," ucap Henry sembari tertawa.
"Tentu, jangan ganggu kami malam ini," ucap Philip sembari berlenggang dan menggandeng Alexa bersama nya.
Henry hanya mengangguk lalu sesaat kemudian ia menggelengkan kepalanya seperti terkekeh pada tingkah anak muda di hadapannya.
Alexa yang menyadari maksud dari perkataan Philip dan ayahnya pun langsung mencubit perut Philip dengan lumayan keras membuat Philip meringis kesakitan.
"Jangan sampai kau sentuh aku malam ini atau kau akan mati di tanganku," ucap Alexa dengan nada penuh penekanan.
"Aku tak bisa menjamin, kau tau kan kalau aku juga seorang laki-laki? Aku tak bisa mengetahui apa yang akan terjadi nanti malam," ucap Philip.
"Aku akan berpindah kamar jika kau macam-macam denganku," ucap Alexa.
"Baiklah Alexa, aku tidak akan macam-macam, tapi kau janji tak akan pindah kamar," ucap Philip.
Alexa mengangguk.
"Kau ke kamar dulu saja, aku akan menyusul," ucap Alexa.
Kemudian tanpa persetujuan Philip, Alexa malah langsung berlenggang dan meninggalkan Philip di depan pintu kamarnya.
Philip menghela nafasnya. Kemudian perlahan ia membuka pintu kamar di hadapannya. Philip melihat kamar yang tak sebesar kamarnya di istananya namun Philip menyukai gaya sederhana dan klasik di kamar ini.
"Jadi kau Raja Swedia yang itu?" Ucap seorang lelaki dari arah belakang. Philip terlonjak kaget mendengarnya dan langsung membalikan tubuhnya.
"Maaf, kau siapa?" Ucap Philip. Philip sudah menduga kejadian seperti ini akan terjadi mengingat sejak tadi seperti ada yang mengamatinya sejak pertama kali ia datang kemari.
"Ku dengar kau akan menikah dengan Alexa?" Ucap lelaki asing itu.
Philip berjaga-jaga dan hendak mengeluarkan sebuah pisau dari saku celananya.
"Ya kau benar, apa urusanmu?" Ucap Philip.
"Kau ingin tau sebuah rahasia? Alexa sama sekali tak menginginkan pernikahan itu apalagi dengan raja sepertimu," ucap lelaki asing itu.
"Kau pikir aku percaya?" Ucap Philip.
"Kita lihat saja," ucap lelaki asing itu.
Lelaki itu kemudian mengeluarkan sebuah panah di hadapannya sembari dengan perlahan ia menarik busur panah itu.
Philip siaga dan ketika busur di lepaskan, anak panah itu menuju ke arah Philip. Namun, Philip dengan sigap menghindar dan anak panah itu meleset mengenainya.
Tapi, ia merasakan sesuatu menusuk di punggungnya. Dan saat itu juga Philip baru menyadari jika lelaki asing itu tidak sendirian. Ada seorang lelaki lagi yang menancapkan anak panahnya dari belakang. Philip mengakui itu strategi yang bagus bahkan ia sendiri tak menyadarinya.
Sesaat kemudian Philip merasa kepalanya begitu berat dan pandangannya mulai memburam hingga kemudian semuanya menjadi hitam pekat.
***