Pagi ini Dania bangun dengan tubuh yang lebih bugar, lalu memastikan Rena masih nyenyak dalam tidurnya dan turun ke lantai bawah, langsung menuju ke dapur. Mengisi air ke dalam cerek elektrik lalu mengambil dua gelas cangkir untuk menyeduh dua teh yang berbeda. Untuk Rani dan dirinya walau sejak dua hari yang lalu Rani mulai terlihat tidak senang dan kesal setelah tahu bahwa Rumah dan perusahaan jatuh ke tangan Dania.
Jujur, Dania masih belum memahami yang dijelaskan oleh Shaka tentang warisan. Dia sama sekali tidak memikirkan tentang hal itu. tidak sama sekali. Dia dan Bhani bahkan masih sempat merencanakan untuk memiliki anak yang kedua. Tetapi musibah ini menghempaskan rencana-rencana yang mereka susun berdua. Sebutir cairan bening mengending turun dari mata Dania. Dengan cepat dia menghapus air mata itu ketika mendengar suara pintu dibuka dari pintu yang berada di lantai bawah. Lalu dengan cepat dia mengalihkan perhatiannya pada dua bungkus teh yang akan dibuka setelah air mendidih.
“Apa yang kau lakukan!” hardik Rani dengan garang.
“Aku akan membuat teh seperti biasa, Bu,” jawab Diana pelan. Dadanya sedikit mencelos mendengar hardikan Ibu mertuanya itu.
Tapi Dania tidak mengambil hati atas hardikan Rani. Setelah meminum sedikit teh chamomile yang dibuatnya, dia naik ke kamarnya untuk melihat apakah Rena sudah bangun atau belum. Tepat ketika dia membuka pintu kamar, Rena berbalik dan gadis kecil itu tersenyum manis pada Dania setelah mendengar sapaan ibunya pada dirinya.
“Sudah bangun, Sayang? Pagi ini kau ingin makan apa? Bubur dengan abon seperti kemarin? Atau bubur dengan ayam kecap? Ibu sudah memasaknya khusus untukmu. Kau mau?” tanya Dania lembut.
Bocah itu tersenyum dan mengangguk cepat. Entah dia mengerti apa yang dibicarakan ibunya atau tidak.
“Baiklah, mandi dulu, ya. Sudah mandi, bersih, baru makan, oke?” ucap Dania dengan suara dan nada yang riang. Hanya dengan begitu dia bisa sedikit melupakan ketidaksenangan Rani padanya.
Setelah memandikan Rena dan gadis kecil itu sudah segar dan bugar, Dania membawanya turun ke lantai satu, lalu menyiapkan bubur yang sudah dimasaknya sejak pagi. Rena menyukai bubur yang dimasak sendiri oleh Dania dibanding bubur instan. Dia sudah pernah memberikannya sewaktu Bhani mengusulkan agar Dania tidak terlalu repot untuk masak bubur yang hanya dimakan oleh Rena.
Setelah bubur yang dicampur dengan sedikit kuah ayam kecap, lalu ditambah abon ayam siap, dia menyiapkan minuman dalam gelas khusus untuk Rena. Lalu membawanya ke ruang keluarga di depan televisi. Bocah kecil itu melonjak gembira ketika melihat piring bubur kecil yang biasa digunakannya, juga gelas dengan mainannya yang bisa berputar saat diminum.
Ketika Dania sedang menyuapi Rena, Bu Rani mertuanya keluar dari kamarnya dan langsung membanting pintu dengan kuat hingga membuat Rena hampir tersedak kaget. Dia mulai mengomentari makanan yang diberikan Dania pada anaknya.
“Anak kecil butuh makanann lebih banyak. Jangan beri makanan instan seperti itu,” protes Rani dengan nada sedikit tinggi.
Dania menghela napas panjang. Rasanya dia ingin langsung menjawab protes Rani yang tidak berdasar itu. Dia bahkan selalu memasak untuk makanan Bhani dan Rena dengan memastikan makanan itu bersih dan sehat untuk mereka.
“Bu, ini bukan makanan instan. Ini bubur yang aku masak sendiri,” jawab Dania dengan sabar dan tenang.
“Masakanmu selalu seperti ini. Tidak heran Bhani sering makan di luar!” lengos Rani dengan tajam.
Konflik antara Rani dan Dania semakin sering terjadi. Rani terus menerus menyerang cara pengasuhan Dania pada Rena. Membanding-bandingkan pola asuh Dania pada Rena dengan yang dilakukan Fitri pada Deki cucunya dari adik almarhum Bhani, juga Siwi pada Ariel anaknya.
Dia semakin kesal karena Dania selalu menjawab setiap protes yang diberikannya pda Dania.
***
“Sabar, Dania. Jangan kau tanggapi setiap ucapannya. Dia mungkin masih sedih dengan kematian Bhani,” tukas Bu Ratih ketika Dania dan Rena bermain ke rumahnya.
“Iya,Bu. Tapi Dania hanyalah manusia biasa yang bisa emosi mendengar sindiran dan umpatan Bu Rani,” ucap Dania menunduk menahan rasa kesalnya.
“Ibu tahu, Dania. Tapi coba kau tempatkan dirimu pada Rani. Ibu yakin kau pun akan berbuat yang sama yang dilakukan Rani padamu, Sayang. Kalau kau merasa berat, kesal, datanglah pada Ibu. Ceritakan pada Ibu semua kelu kesahmu, Dania,” ucap Ratih sambil mengusap bahu Dania dengan lembut.
Dania hanya menunduk lesu. Dia belum menceritakan kedatangan Pak Shaka ke rumah pada ibunya. Tidak tahu seperti apa tanggapan ibunya nanti. Dania mengatupkan kedua tangannya menutupi wajahnya. Dadanya terasa sesak dan dia hanya bisa mengusap pucuk kepala Rena yang tidur dengan nyenyak di kamarnya dulu, sebelum menikah. Berada di rumahnya dia merasa kembali ke masa-masa sebelum menikah dengan Bhani. Semua terasa tenang dan menyenangkan. Hingga akhirnya Dania ikut tertidur bersama Rena.
Menjelang malam hari, Dania memutuskan untuk pulang ke rumah suaminya yang diwariskan padanya. Dia ingin membaca kembali surat-surat yang ditemukannya di kamar kerja Bhani dan mungkin nanti akan digunakannya setelah dia memutuskan untuk bekerja menggantikan almarhum suaminya di perusahaan itu. Untuk sementara ini jalannya perusahaan akan dipegang oleh sekretaris Bhani.
“Hei kau masih ingat pulang, ya?” hardik Rani ketika dia menggendong Rena yang sudah tertidur di pelukan Dania.
Dania tidak menjawab hardikan sang Ibu mertua. Dia hanya diam dan masuk ke rumah dan naik ke kamarnya di lantai dua meninggalkan Rani yang masih terus mengomel karena merasa dongkol pada Dania.
Setelah menaruh Rena yang sudah tertidur ke atas ranjang, Dania segera menuju ke kamar kerja Bhani yang berada tepat di sebelah kamar tidur.
Malam sudah semakin larut, memasuki kamar itu membuat Dania kembali merindukan Bhani. Aroma tubuh Bhani masih terhidu di penciuman Dania. Dia duduk di lantai bersandar pada meja dan memeluk ke dua lututnya erat.
“Bagaimana aku bisa melupakan dirimu, Bhani. Semakin aku berusaha melupakanmu, semakin aku terikat erat padamu. Aku merindukanmu, suamiku …”
Air mata kerinduan bercampur dengan air mata kesedihan membuat air mat aitu terus mengalir tanpa henti. Hingga akhirnya Dania tertidur sambil memeluk lututnya bersandar di kaki meja.
Menjelang tengah malam wanita itu terbangun dan terkejut menyadari dirinya masih berada di kamar kerja Bhani. Menghapus air mata yang sudah mengering, dia ingat pada beberapa surat yang belum sempat dibukanya saat itu. Dia lalu menarik kembali laci di deret terakhir di meja itu dan mengeluarkan setumpuk surat. Hatinya masih terasa sakit jika meningat isi surat pertama yang dibacanya.
“Aku tidak tahu apakah Ibu menyadari bahwa aku tertekan dengan semua sifatnya? Dia tidak pernah melihat keberhasilanku di setiap usaha yang kujalankan ….”
Dania kembali menitikkan air mata pedih ikut merasakan kefrustasian Bhani menghadapi Rani.
***