Pagi itu hujan turun dengan deras hingga membuat Dania merasa enggan untuk bangkit dari ranjang, apalagi Rena yang tidur seranjang dengan Dania tidak berniat bangun. Udara dingin ditambah dengan bunyi hujan membuat kedua Ibu dan anak itu tidur dengan nyenyak.
Sejenak kemudian pikiran Dania kembali teringat akan surat yang dibacanya semalam. Dia merasa sakit saat mengetahui suaminya tertekan dengan tingkah ibunya yang tidak mempercayai semua keputusan yang diambil Bhani. Dania memang tidak banyak berinteraksi dengan Rani karena itu dia sama sekali tidak melihat kefrustasian Bhani terhadap Rani.
“Mau sampai kapan kau tidur, Dania? Bahkan setelah Bhani tiada kau tetap bermalas-malasan. Sungguh memalukan!” seru Rani tiba-tiba muncul di depan kamar tidur Dania dengan wajah memerah melihat menantunya belum juga bangun, padahal waktu sudah menunjukkan pukul tujuh pagi.
Dania terkejut dan langsung bangkit terduduk di tepi ranjangnya, bahkan Rena terbangun mendengar seruan sang nenek yang tidak biasanya dan mulai menangis kencang.
“Aku sudah bangun, Bu. Hanya saja Rena masih tidur dan aku tidak punya pekerjaan bangun di pagi hari,” jawab Dania sambil mendekap Rena agar dia berhenti menangis.
“Kau memang pemalas! Pantas saja Bhani bisa terkena stroke karena tidak tahan dengan sikap malasmu itu!” umpat Rani dengan wajah memerah marah mengetahui Dania masih tidur. Dania tersentak. Rasanya ingin membalas umpatan tak teralasan Rani, tetapi di pelukannya Rena masih menangis walau tidak sekencang tadi. Dia hanya bisa mengelus d**a melihat kelakukan sang Ibu mertua.
Tangisan Rena mulai mereda menyisakan isakan kecil gadis itu, akhirnya Dania berinisiatif untuk membuat s**u untuknya.
“Jangan menangis, Rena. Tidak apa-apa, Sayang. Nenek hanya kesal pada Ibu karena masih tidur saat matahari sudah naik. Ayo tidur lagi, ya. Di luar masih hujan, nanti kalau hujan sudah berhenti, Ibu akan mengajakmu ke mini market. Kita beli kukis dan s**u, ya,” bujuk Dania menghapus air mata gadis kecil itu dengan punggung tangannya sambil memberi s**u dengan botol yang berbentuk sedikit bulat dan besar. Gadis kecil itu sangat menyukai botol susunya.
Rena terdiam sambil memegang erat botol s**u itu dan terus menyesap dot di pelukan Dania. Tak butuh waktu lama, gadis kecil itu kembali tidur dan memejamkan matanya dengan erat. Perlahan Dania meletakkan Rena di atas Kasur sambil memeriksa apakah popoknya harus diganti atau tidak.
Rena sudah tidur kembali dan saatnya Dania turun sebelum Ibu Mertuanya naik dan marah lagi melihat dia masih berbaring di atas ranjang. Dia segera memanaskan air untuk membuat teh seperti biasanya. Ada gelas berisi teh yang tersisa sedikit di dalam wastafel. Wanita itu mengernyit saat mengetahui gelas itu berisi teh jahe yang biasa dibuatnya untuk Rani. Akhirnya Dania hanya mengeluarkan satu cangkir untuk menyeduh teh chamomile untuknya.
Menjelang siang, seorang tamu datang tanpa diundang. Dia berpakaian rapi dan membawa satu buah map folder, dia adalah Pak Shaka seorang notaris. Biasanya dia ke rumah mencari Bhani tetapi kali ini dia mencari Dania dan Rani, dua orang yang ada di rumah besar itu.
Dania turun dari lantai dua setelah memandikan Rena dan meletakkan gadis kecil itu di atas karpet di ruang tengah dengan setumpuk boneka agar bocah itu bisa bermain sendiri. Mulut kecil itu langsung membuat rumah yang sepi dan tenang menjadi ramai dengan celotehannya.
Tanpa diduga, Pak Shaka mengeluarkan sebuah surat dari map foldernya dan membacanya dengan tenang dan jelas di depan Rani dan Dania.
“Ini adalah surat wasiat yang dibuat Almarhum Bhani bulan lalu sebelum dia meninggal. Isi surat ini adalah pada siapa dia akan mewariskan semua harta miliknya,” ucap Pak Shaka menjelaskan. Dania terhenyak dan langsung berpikiran inilah saatnya dia untuk kembali ke rumah ibunya dan dia akan membesarkan Rena di sana.
“Surat ini aku buat dengan penuh kesadaran dan hati yang tenang. Tidak ada paksaan ataupun tuntutan dari siapapun.
Semua aset perusahaan, kandang ternak, tanah dan ladang yang aku miliki akan beralih kepemilikan pada Dania istri sah dan satu-satunya yang menikah dengan sah.
Rumah yang aku tempati saat ini bersama ibu, istri dan anakku kuberikan pada Dania, istriku dan Rena anakku. Keputusan ini aku buat demi masa depan anak kami kelak dan aku yakin Dania bisa memanfaatkan sebaik mungkin. Aku percaya atas semua keputusan yang diambil Dania.
Sementara untuk Ibu, beliau masih boleh tinggal di rumah itu selagi ibu menginginkannya, tetapi keputusan tetap di tangan Dania.
Sejumlah saham milik Ayah akan diberikan pada Ibu agar beliau tetap bisa menikmati hari tua dengan baik dan nyaman.
Perhiasan dan emas milik Ayah juga diberikan pada Ibu.
Demikianlah surat wasiat ini aku buat dengan sejujur-jujurnya, dan atas nama Tuhan Yang Maha Esa.”
Dania kembali terhenyak untuk kedua kalinya, dia sungguh tidak menduga kalau Bhani akan memberikan rumah yang sudah mereka tempati sejak mereka menikah. Dia tahu rumah itu adalah milik almarhum ayah mertuanya karena itu Dania tidak pernah berharap akan mendapatkan rumah itu. Tanpa sadar wanita itu menitikkan air mata, lalu dengan cepat menghapusnya dengan punggung tangannya dan mengalihkan pandangan pada Rani. Karena Bhani memberinya kuasa penuh pada perusahaan, rumah dan semua aset-asetnya.
Wajah Rani memerah marah ketika Pak Shaka selesai membaca surat waiat itu.
“Tidak mungkin!” seru Rani dengan suara menggelegar dan tangannya menggebrak meja dengan kuat hingga membuat Rena terkejut dan kembali menangis.
“Bhani tahu dengan jelas kalau rumah ini adalah rumah keluargaku. Seharusnya dia tahu di mana tempatnya!” seru Rani sambil menujuk pada Dania. Dia diliputi emosi.
“Ibu Rani, … Ibu masih tetap memiliki hak untuk tinggal di rumah ini sesuai keinginan almarhum,” tegas Pak Shaka melihat Rani yang sudah emosi memandang Dania dengan marah.
“Tidak bisa! Anakku bukan hanya Bhani seorang. Harus kuakui memang hanya Bhani seorang anakku yang laki-laki, tapi itu tidak berarti dia bisa seenaknya memberi rumah ini pada istrinya!” seru Rani protes dengan suara keras. Dia merasa keputusan ini tidak adil sama sekali.
“Tapi almarhum Pak Jono sudah memberikan surat kuasa pada almarhum Bhani kala itu, kalau Bu Rani ingat. Saya masih menyimpan surat yang dituliskan Pak Jono,” ucap Pak Shaka yang langsung membuat mertua Dania menunduk lesu.
Dania terdiam, di satu sisi dia merasa lega karena merasa dilindungi oleh suaminya tetapi di sisi lain dia merasa bersalah atas sesuatu yang bukan haknya. Air mata Dania kembali mengalir. Kepalanya terasa pusing dengan semua hal yang terjadi belakang ini. Untung Rena sudah tidak menangis dan tertidur dipelukan Dania.
***