Seorang gadis cantik dengan gamis berwarna biru navy serta jilbab pasmina syar'i berwarna hitam yang terlihat pas di tubuhnya yang kini tengah duduk di salah satu cafe di daerah bandung dengan laptop serta beberapa buku cetak di samping kiri dan kanannya di temani secangkir minuman favoritnya
Gadis manis yang baru saja menginjak umur 23 tahun dengan kulit hitam manis turunan ibunya yang asli dari timur Ntt sedangkan abahnya? Oke skip!
Perempuan tunggal yang memilih pindahh ke Bandung bersama ibunya sejak 4 tahun lalu dari kalimantan dan ternyata itu akhirnya sedikit menyembuhkan lukanya
Dia Zeira pemilik nama lengkap Zeira Adiba Humayrah yang kini menjadi mahasiswa Di salah Satu kampus di bandung dengan jurusan Agama Islam Prodi KPI
Tidak hanya sendiri ia mempunyai dua sahabat yang sudah ia anggap pengganti saudara untuknya karena ia putri tunggal
Mereka adalah dzakira hasanah izzatunisa dan Nur safira Khanza, keduanya adalah sahabat sekaligus pengganti sosok kakak untuknya selama 10 tahun lamanya tidak dapat di pungkiri jika sekarang kedekatan ketiganya layaknya saudara walaupun beda rahim
Walaupun memiliki sifat yang tidak sama dan berbeda-beda tapi itulah yang membuat ketiganya Saling melengkapi contohnya Hasanah atau ana si sulung yang hobinya tidur, si paling lembut di antara ketiganya dan paling posesif berbeda dengan aza si paling tomboy paling receh dan paling b****k tapi dia adalah orang pertama jika ada yang mengusik ana dan zei sedangkan zei? Si bungsu yang slalu bersikap bodoh amat, cuek jutek muka datar tapi itu hanya berlaku untuk orang luar karena aslinya zei hanya ana dan aza yang tahu
Saat sedang fokus dengan laptop dan beberapa lembar kertas di tangannya ia di kagetkan dengan kedatangan aza dan ana
"Assalamu'alaikum warohmatulohi wabarokatuh bungsu" salam keduanya begitu sampai di meja yang di tempati Zeira
"Astaghfirullahalazim naudzubillahi mim dzalik" latahnya
"Serius banget sih zei sampai kaget gitu pas kita datang"
"Ya lo berdua juga kek dedemit tiba-tiba aja salam depan gue "
"Haha maaf deh lo pasti lama ya nungguin kita? "
"Lumayan sih" Jawabnya santai
"Maaf ya ze biasalah lo tau kan sulung kalau mau keluar ngaretnya luar binasa naudzubillah"
"eh lo juga salah ya za udah tau kita janjiannya jam 8 lo malah jemput gue lima menit lagi jam 8 ya jelas gue belum siap lah" Ujar ana berusaha membela dirinya
"Haha iya gak pp juga kok gue juga belum lama nunggin" Ucap Zeira melerai keduanya
"Lo udah pesen makan zei? " tanya ana
"Belum sih nunggu kalian biar sama-sama"
"Ya udah kayak biasa kan ya? "
"Iya kayak biasa aja na" jawab keduanya
"Astaghfirullah lo pesen kopi zei? " tanya aza saat menyadari sebuah cangkir kopi di atas meja
"Hehe iya soalnya gue ngantuk semalam gue begadang baca novel jadinya gue pesen kopi biar gak ngantuk"
"Hadeh lo ya zei gak sayang banget ama lambung lo yang udah gak berdaya karena ulah lo"
"Ck pak" ucap ana sambil mengangkat tangan kanannya sebagai kode agar waiter mendatanginya
"Iya kak ada yang bisa saya bantu? "
"Ini kak pesanan tadi di tambah satu lagi ya s**u coklat anget 1 dan ini kopinya di ambil aja"
"Loh kok di ganti sih ana" Rengek Zeira
"Udah cukup minum kopinya zeira lanjut kerja tugas" ujar ana tegas
Perhatian kecil tapi sangat di sukai oleh Zeira, ia tidak marah ataupun kesal karena ia tahu sebagai yang paling kecil di antara ketiganya mereka sesayang itu padanya, bahkan bukan hanya Zeira saja melainkan ketiganya saling menjaga entah soal makanan pekerjaan perkuliahan keseharian terutama kesehatan mereka
Selesai mengerjakan tugas dari kampus ketiganya memilih untuk sekedar me refresing kan pikiran mereka ke tempat favorit ketiganya
Tempat di mana hanya ada beberapa orang yang berlalu lalang mengontrol perkebunan teh miliknya dan juga hamparan pohon-pohon rindang dengan warna hijaunya yang bisa menangkan pikiran
Udara yang segar tanpa adanya asap maupun polusi serta kesejukan yang senantiasa memeluk tubuh seolah memberikan kehangatan
Ketiganya duduk di atas rerumputan dataran tinggi memandang lurus kedepan sambil memejamkan mata menikmati semilir angin yang menyapu setiap sudut wajah mereka
"Huft gak terasa ya kita udah semakin dewasa" ucap Zeira membuka suara memecah keheningan sedari tadi
"Kita mah udah lo yang belum kali zei kan lo masih bocil" jawab aza di sertai kekehan membuat zei dan ana langsung membuka matanya
"Haha serah dah za"
"Kalian inget gak dulu waktu Sma Kita slalu buat planing di umur berapa kita nikah" Sontak ketiganya langsung tertawa
"Haha segila itu ya kita dulu mikirnya udah jauh banget"
"Tapi nih ya kalau nanti gue nikah nih gue maunya Di alam terbuka kayak gini terus gaunya gue mau yang simpel tapi elegan terus nanti lo berdua jadi bridesmaid gue terus malamnya kita party di sini sampai pagi" tutur aza asal membuat mereka tertawa
"Kalau gue nih za gue maunya nikahannya mewah tapi tetap di alam terbuka kayak gini terus nanti acaranya sore gak pagi atau siang biar nanti acaranya sampai malam supaya pas Resepsinya gue menari bareng suami gue bak Putri kerajaan dan Pangeran beuh keren banget pasti"
"Haha ngehalunya ketinggian kali na" timpal aza
"Kalau lo gimana zei? " sambungya tapi yang di tanya hanya diam lalu menggeleng pelan kemudian menghela nafas gusar sebelum menjawab pertanyaan aza
Namun diamnya dia serta gelengan kepalanya sudah membuat aza dan ana tau
"Huft Gue__________ masih_" belum sempat melanjutkan perkataannya aza dan ana sudah lebih dulu memeluknya dari sisi kanan dan kiri
"Kita ngerti keadaan lo zei"
"Jangan di inget lagi ya bungsu cantik" Perlahan Zeira mengangguk lalu tersenyum lebar layaknya bulan sabit
"Thanks girl for everything for me"
Selang beberapa menit berpelukan ketiganya mengurai pelukanya lalu saling menatap satu sama lain kemudian tertawa lepas
"Ya udah yuk pulang udah mau zuhur"
"Yuk ayuk lang pulang pulang pulang pulang lang " jawab aza Sambil Bernyanyi
sampai di sini dulu ya
jangan lupa Love and comment karena aku masih butuh saran dari kalian semua
Ilmu