"Mundur! Sekarang!" Arsa mencengkeram lengan Renjana dan menyeretnya ke balik truk saat peluru kedua memercikkan beton di tempat kepalanya tadi berada.
Renjana hampir tak mendengarnya. Dunianya menyempit menjadi satu bayangan: punggung Dani yang berlari menjauh, menghilang ke balik mobil konvoi, dilindungi oleh penjaga yang menembaki kakaknya. Setiap nalar yang ia bangun selama tujuh tahun berteriak agar ia mundur. Setiap serat di tubuhnya berteriak agar ia maju, merebut adiknya bahkan kalau itu berarti mati di terowongan ini.
Arsa-lah yang menyelamatkannya dari pilihan itu. "Kalau kau ke sana, kau mati, dan Dani tetap di tangan mereka selamanya. MUNDUR!"
Akal sehat menang, sedikit lebih kuat dari keputusasaan. Renjana bergerak.
Mereka berlari menyusuri sisi gelap terowongan menuju jalur mundur yang sudah disiapkan — gang sempit di balik dinding beton, motor menunggu. Tembakan terus menggema, tak terarah dalam kepanikan para penjaga. Kelana, yang seharusnya sudah menjauh di van umpan, malah berteriak di earpiece bahwa ia memutar balik untuk menjemput mereka.
"Jangan!" perintah Renjana. "Jalankan rencana mundur! Jangan dekati terowongan!"
Tapi Kelana muda dan loyal dan takut kehilangan satu-satunya orang yang pernah memperlakukannya sebagai keluarga sejak Karyo. Ia tidak patuh. Van itu masuk ke mulut terowongan, lampunya menyilaukan, dan salah satu penjaga menembaki ban dan kaca.
Renjana mendengar pekikan Kelana lewat earpiece. Bukan teriakan mati — pekikan kesakitan, tajam dan tinggi.
"Kelana terkena!" Arsa sudah berlari ke arah van. Mereka menariknya keluar dari kursi pengemudi — peluru menyerempet bahunya, darah membasahi lengan kemejanya yang kebesaran, wajahnya putih syok. Tapi hidup. Hidup.
"Aku cuma mau jemput kalian," Kelana terisak, "aku cuma—"
"Diam. Tahan di sini." Renjana menekan bahunya dengan jaketnya yang dilipat, tangannya basah merah, dan untuk sesaat ia kembali ke tepi sungai tujuh tahun lalu — tangan kecilnya menekan luka di tubuhnya sendiri, sendirian, sekarat. Tidak. Tidak lagi. Tidak orang ini.
Mereka melarikan diri dengan van yang pincang, ban kempes berdecit, keluar terowongan ke jalan belakang distrik industri, lampu dimatikan, menyeberangi kegelapan kota Pradipa seperti binatang terluka. Di belakang, konvoi tidak mengejar — para penjaga lebih memilih mengamankan "aset" mereka, membawa Dani kembali ke tempat aman, melaporkan ke atas.
Subuh menjelang saat mereka mencapai rumah aman. Renjana memanggil dokter — seorang dokter tua yang dulu juga merawat orang-orang dunia bawah tanpa bertanya, yang ia bayar mahal untuk diam. Peluru hanya menyerempet; Kelana akan pulih. Fisiknya, setidaknya.
Renjana duduk di lantai, menyandar di dinding, tangannya masih bernoda darah yang mengering. Arsa duduk di sampingnya, sama-sama diam, sama-sama hancur.
"Aku mendengar namaku dari mulutnya," kata Renjana akhirnya, suaranya kosong. "Dan dia berlari ke arah mereka. Dia menjerit aku penculik. Adikku sendiri."
"Dia tidak tahu—"
"Aku tahu dia tidak tahu." Renjana menutup matanya. "Itu yang lebih pahit dari kalah, Arsa. Kalau aku gagal melawan Reksa, aku hanya kalah. Tapi ini — adikku melihatku sebagai musuh. Mereka tidak hanya menyekap tubuhnya. Mereka mengubah hatinya jadi senjata yang diarahkan padaku. Aku menghadapi musuh yang lebih sulit daripada Reksa, dan musuh itu adalah kebohongan yang sudah menjadi kebenaran di kepala anak yang kucintai."
Mereka diam lama. Di luar, kota mulai terang.
Tapi yang Renjana belum tahu adalah apa yang sedang terjadi di sisi lain kota, di lantai empat puluh menara Wijanarko, di mana Reksa Wijanarko berdiri menghadap jendela mendengar laporan Damar tentang malam itu.
"Seseorang mencoba mengambil anak itu," kata Damar, tegang. "Mereka tahu jadwal pemindahan rahasia. Mereka punya kode keamanan internal kita. Mereka punya orang dalam, atau peretas tingkat tinggi, atau keduanya. Ini bukan amatir, Pak. Ini terorganisir. Direncanakan berbulan-bulan."
Reksa tidak segera menjawab. Ia menatap kota di bawahnya, sepatu kulitnya mengilap memantulkan lampu lantai. Sesuatu yang sudah lama terkubur dalam nalurinya — naluri predator yang membawanya ke puncak — bergerak. Ada kebocoran yang ia kira soal bisnis: Hendra jatuh, Hartono hilang, manajer tambang yang membelot. Ia kira itu pesaing, atau pengkhianat kecil. Tapi ini berbeda. Ini bukan soal uang.
"Siapa yang menginginkan anak itu?" gumam Reksa, lebih pada dirinya sendiri. "Anak itu tidak berharga bagi siapa pun. Tidak ada yang tahu dia ada. Kecuali..."
Ia tidak menyelesaikan kalimatnya. Tapi sesuatu yang dingin menjalar di tengkuknya — sebuah kemungkinan yang ia tolak selama tujuh tahun, yang ia kira sudah mati dan terkubur di dasar sungai.
"Ini personal, Damar," kata Reksa akhirnya, suaranya rendah. "Siapa pun ini, dia tidak mengincar uangku. Dia mengincar masa laluku. Dan satu-satunya orang yang punya alasan melakukan itu — satu-satunya orang yang akan mempertaruhkan segalanya demi anak itu—" Ia berhenti.
"Mereka semua mati, Pak," kata Damar. "Tujuh tahun lalu. Anda sendiri yang—"
"Periksa lagi," potong Reksa, dan untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, ada nada di suaranya yang menyerupai ketakutan. "Periksa setiap jenazah malam itu. Aku ingin tahu. Aku ingin yakin bahwa semua yang seharusnya mati, benar-benar mati."
Di rumah aman di sisi lain kota, Renjana akhirnya membuka buku catatan empat namanya. Hartono — dicoret, kini saksi. Hendra — dicoret, sebuah keping diambil. Dua target kecil benar-benar tumbang. Babak pertama dari perangnya telah selesai dengan kemenangan yang nyata.
Tapi kemenangan itu terasa seperti abu. Karena di seberang sana, adiknya membencinya. Dan musuh utamanya kini mulai mencium bahwa ada hantu yang berjalan di antara mereka — hantu seorang gadis yang dibuang ke sungai dan menolak mati.
Perang baru saja memanas. Dan Renjana tahu, untuk membebaskan jiwa Dani, ia harus meruntuhkan seluruh dunia Reksa lebih dulu — batu demi batu, nama demi nama.