Terowongan itu basah dan berbau lumut. Lampu jalan layang di atasnya berdengung samar. Renjana berdiri di balik truk yang sengaja "mogok", jantungnya berdetak terkontrol — lambat, dipaksa lambat, walau setiap saraf berteriak.
"Konvoi masuk distrik industri," suara Kelana di earpiece, datar tapi tegang. "Dua mobil. Tepat jadwal. Tiga menit."
"Radio internal?"
"Sudah aku susup. Kode keamanan cocok. Aku sudah tes ping diam-diam, mereka tidak curiga. Begitu mereka masuk titik buta, aku kirim perintah pengalihan."
Arsa, berpakaian seperti petugas keamanan Wijanarko — seragam asli yang ia ambil dari gudang divisinya, lengkap dengan tanda pengenal yang sah — berdiri di sisi lain truk. Wajahnya pucat di bawah lampu. "Kalau mereka mengenaliku—"
"Mereka penjaga vila. Kau direksi. Kalian tak pernah bertemu. Tetap dingin," bisik Renjana.
Lampu konvoi muncul di ujung terowongan. Dua sorot kuning menembus kegelapan basah.
"Sekarang, Kelana."
"Mengirim... perintah pengalihan terkirim. 'Kode merah, ancaman intelijen, alihkan aset ke titik darurat Delta, serahkan pengawalan pada tim lapangan yang menunggu.' Mereka menerimanya. Tunggu—" Jeda yang terasa seribu tahun. "Mobil depan memperlambat. Mereka berhenti di depan truk. Mereka percaya."
Renjana menahan napas.
Konvoi berhenti tepat di tengah titik buta. Sopir mobil depan membuka kaca, melongok ke truk melintang. Arsa melangkah keluar dari bayangan, mengangkat tanda pengenalnya, suaranya tegas dengan otoritas yang dilatih.
"Tim lapangan Delta. Kalian sudah terima perintah pengalihan. Ada kebocoran lokasi, kami ambil alih dari sini. Serahkan aset, kalian kembali ke vila amankan perimeter."
Penjaga di kursi penumpang ragu. "Aku belum dapat konfirmasi langsung dari Pak Damar—"
"Pak Damar yang mengeluarkan perintahnya. Mau kau telepon dia tengah malam saat dia sedang menangani kebocoran dan tanya kenapa kau menghambat protokol darurat?" Arsa membentak dengan kejengkelan sempurna seorang atasan. "Cek kode di radio kalian. Kode K-merah. Itu sah. Bergerak."
Penjaga itu melihat layar radionya. Kode merah K, hijau, valid — kode yang Kelana kloning dengan sempurna. Keraguan luruh menjadi kepatuhan. Otoritas, di tengah panik buatan, mengalahkan akal sehat.
Pintu mobil belakang terbuka.
Dan Renjana melihatnya.
Dani melangkah keluar, dikawal seorang penjaga. Lebih tinggi dari pantulan di rekaman, nyata, hidup, bernapas di udara yang sama dengan kakaknya untuk pertama kalinya dalam tujuh tahun. Renjana, masih di bayangan, merasakan seluruh tubuhnya ingin berlari ke depan, memeluknya, menangis. Ia memaksa kakinya membeku. Belum. Bukan sekarang. Jangan rusak operasi.
"Pindahkan ke kendaraan kami," kata Arsa, menunjuk van yang sudah disiapkan.
Penjaga vila menyerahkan Dani. Sesederhana itu. Tujuh tahun, dan kebebasan adiknya tergantung pada sembilan belas detik dan sebuah kode yang dipalsukan. Dani melangkah menuju van, tenang, menuruti — karena bagi dia, ini hanya perpindahan dari satu tangan Reksa ke tangan Reksa yang lain.
Lalu Dani melihat Renjana.
Hanya sekejap, ketika Renjana keluar dari bayangan truk untuk membuka pintu van. Mata mereka bertemu. Dan ada sesuatu di wajah Dani — bukan pengenalan, bukan kelegaan. Kebingungan. Lalu kewaspadaan. Anak yang dilatih untuk membaca ancaman menangkap sesuatu yang salah dalam cara orang asing ini menatapnya — terlalu intens, terlalu penuh.
"Kau bukan orang vila," kata Dani pelan, berhenti. "Aku tak pernah lihat kau."
"Dani—" Nama itu lolos dari mulut Renjana sebelum ia bisa menahannya.
Itu kesalahan. Mata Dani melebar. Bukan orang Reksa yang memanggil namanya seperti itu. Bukan dengan suara yang gemetar, dengan air mata di matanya.
"Bagaimana kau tahu namaku?" Suara Dani naik, tajam, panik. "SIAPA KAU?"
"Dani, dengarkan aku, kita harus pergi—" Renjana melangkah ke depan, tangannya terulur.
Dani menepisnya keras, mundur. "JANGAN SENTUH AKU!" Ia menoleh ke penjaga vila yang sudah setengah masuk mobil. "Ini bukan pengalihan! Mereka penculik! TOLONG—"
Semuanya runtuh dalam dua detik.
Penjaga vila menarik senjata. Arsa berteriak, menarik Renjana ke balik truk saat tembakan pertama meledak, memantul di beton terowongan, memekakkan. Kelana berteriak di earpiece. Renjana, di tanah, mengulurkan tangan ke arah adiknya yang justru berlari menjauh darinya — menjauh, menuju para penculiknya yang sebenarnya, menjerit minta tolong pada orang-orang yang merampas hidupnya.
"DANI!" Renjana berteriak, suaranya tenggelam dalam dentum tembakan.
Tapi adiknya tidak menoleh. Adiknya berlari ke pelukan musuh, percaya ia diselamatkan dari kakaknya sendiri.