Selama tiga hari Elias tidak keluar dari gubuknya lebih dari yang diperlukan untuk membeli sepotong roti dan terlihat seperti pendulang yang sakit. Deglan dan anak buahnya menyisir kota, dan Elias menjadi tak terlihat dengan menjadi tak menarik: pria kurus yang batuk-batuk, yang tak punya apa-apa, yang setiap orang yakin terlalu lemah untuk membuka brankas.
Tapi pada malam hari, dengan papan lantai ditutup rapat dan celah dinding disumbat kain, ia bekerja.
Halaman robekan itu terbentang di bawah cahaya lilin yang ia tutupi dengan kaleng berlubang agar cahayanya tak bocor keluar. Ia mempelajarinya seperti dulu mempelajari rel sebelum keberangkatan: baris demi baris, tanpa terburu, mencari pola yang bersembunyi di antara angka.
Dan polanya ada di sana, jelas sekali begitu ia tahu apa yang dicarinya.
Setiap baris memuat tiga hal. Pertama, sebuah tanggal dan nama pendulang — sebagian ia kenal, sebagian tidak. Kedua, dua angka kadar yang berdampingan: satu rendah, satu tinggi. Angka rendah, ia yakin, adalah angka yang dicap Lyle di buku umum dan ditulis di surat keterangan yang dibawa pulang para pendulang. Angka tinggi adalah kadar yang sebenarnya. Dan ketiga, di kolom paling kanan, sebuah kode yang berulang lagi dan lagi di sepanjang halaman, deretan huruf yang sama: C.R.H.
Elias menatap ketiga huruf itu untuk waktu yang lama. Lalu, dengan perlahan, ia mengeja apa yang mungkin disingkatnya. Sebuah nama. Sebuah perusahaan. Tangan yang menampung emas yang dirampas, yang menggali kembali klaim yang disita, yang membeli tanah Hu lewat lelang malam itu seandainya lelang tak terbakar. Tangan yang namanya tak pernah disebut di jalan, tapi yang tanda tangannya ada di setiap penyitaan.
Ia belum tahu kepanjangannya. Tapi ia tahu bahwa kode itu adalah jantung dari segalanya.
Lalu ia melakukan apa yang paling ia kuasai. Ia menimbang.
Ia memilih tiga baris — tiga pendulang yang masih ada di kota, yang surat keterangannya mungkin bisa ia lihat lewat Pearl. Untuk masing-masing, ia menghitung selisih antara kadar palsu dan kadar asli, mengubahnya ke dalam berat sesungguhnya, troy ounce demi troy ounce. Pendulang pertama, yang menurut surat keterangannya hanya menghasilkan emas senilai tiga dolar, sebenarnya menyerahkan hampir empat belas troy ounce kadar tinggi — selisih yang, dengan harga emas saat itu, berarti lebih dari dua ratus dolar yang dicuri dari satu kantong, dalam satu kunjungan. Pendulang kedua, selisih sembilan ounce. Pendulang ketiga, sebelas.
Elias meletakkan pensilnya dan menatap angka-angka itu sampai matanya perih.
Ini bukan sekadar penipuan. Ini panen. Sebuah ladang manusia yang digarap dengan sebuah pena, di mana setiap pendulang adalah satu petak yang dituai habis dan dibuang. Dan halaman tipis di tangannya hanyalah satu lembar dari sebuah buku yang tebal — satu musim panen dari bertahun-tahun.
Tapi ia juga melihat batas dari yang ia pegang, dan batas itu membuatnya dingin. Satu halaman, di pengadilan yang dikuasai Vance, tidak akan berarti apa-apa. Vance akan menyebutnya pemalsuan, buatan musuh yang dendam, secarik kertas tanpa konteks. Kode C.R.H. tidak menyebut nama manusia mana pun; ia hanya menunjuk ke sebuah bayangan. Untuk membuat halaman ini berbicara di hadapan hukum yang jujur — hukum dari luar kota, ia mulai sadar, karena hukum di dalam kota ini adalah milik Vance — ia harus menautkan tiga huruf itu ke sebuah nama yang bernapas, sebuah tangan yang menandatangani, seseorang yang bisa dipanggil ke kursi saksi atau diseret ke kursi terdakwa.
Ia menyimpan halaman itu kembali di bawah papan, meniup lilin, dan berbaring dalam gelap. Di kepalanya tiga huruf itu berputar seperti tiga anak timbangan yang belum ia temukan cawan lawannya. C. R. H. Besok, ia memutuskan, ia akan mencari cawan itu — dan ia tahu persis siapa yang akan membantunya menggalinya.