Cara paling aman untuk menghilang, Elias tahu, bukanlah lari ke kegelapan kosong tempat satu sosok bergerak akan menonjol seperti tinta di atas salju. Cara paling aman adalah menjadi satu wajah di antara ratusan.
Maka ia tidak lari menjauh dari keramaian. Ia lari menujunya.
Kebakaran di kantor penaksir telah mengubah malam lelang menjadi kekacauan. Lonceng darurat berdentang, dan ratusan orang yang tadi berkumpul di balai kota kini tumpah ke jalan utama, sebagian berlari menuju api dengan ember, sebagian hanya menonton dengan mulut ternganga, sebagian — yang sudah terlalu mabuk oleh minuman gratis Vance — tertawa dan terhuyung dan menyangka kebakaran itu bagian dari pertunjukan. Asap menggulung di atas atap-atap. Dalam kekacauan itu, satu lagi pria berlumpur dengan lengan tersayat tidak berarti apa-apa.
Elias menyeka darah dari lengannya dengan lumpur agar tak terlihat segar, menundukkan kepala, dan menyelipkan diri ke barisan para pendulang yang berdesakan di mulut jalan. Ia membungkuk seolah ikut mengangkut ember, berpindah dari kelompok ke kelompok, membiarkan tubuhnya menyerap ritme orang banyak. Seorang pendulang gemuk yang teler menabraknya dan menawarkan botol; Elias menerimanya, menumpahkan sedikit ke bajunya supaya berbau alkohol, lalu mengembalikannya sambil tertawa serak. Menjadi tak penting. Menjadi salah satu dari mereka. Itu penyamaran yang lebih kuat daripada janggut mana pun.
Di atas panggung balai kota, ia melihat Pearl.
Perempuan itu telah membaca kekacauan lebih cepat daripada siapa pun. Saat sheriff dan anak buah Deglan mulai menyibak kerumunan, jelas mencari seseorang, Pearl naik ke atas kursi dan mulai berteriak — bukan soal api, melainkan soal lelang. Suaranya, yang terlatih mengatasi keributan saloon, memotong kegaduhan seperti pisau. Ia menuduh Vance sengaja menyalakan kebakaran untuk membatalkan lelang klaim Hu karena takut harga naik. Itu tuduhan yang tak masuk akal dan ia tahu itu, tapi tujuannya bukan kebenaran, tujuannya adalah keributan. Selusin pendulang yang sudah benci pada lelang itu langsung menyahut, berteriak balik, dan dalam sekejap mulut jalan menjadi lautan suara dan tubuh yang dorong-mendorong, persis di tempat anak buah Deglan butuh ruang untuk menyisir.
Di tengah dinding manusia itu, Elias bergerak menyamping, keluar dari arus, masuk ke gang sempit antara kantor pos dan kandang kuda, dan menghilang ke arah deret gubuk di tepi utara.
Ia tidak langsung ke gubuknya. Ia memutar, melewati tepi sungai, berhenti dua kali untuk memastikan tak ada yang mengikuti, sebelum akhirnya menyelinap masuk lewat celah dinding belakang yang ia tahu tak terlihat dari jalan. Di dalam, dalam gelap, ia akhirnya berhenti.
Ia duduk di lantai papan, punggung ke dinding, dan untuk pertama kalinya membiarkan tangannya gemetar. Bukan ketakutan — kelelahan, dan sesuatu yang lebih besar dari kelelahan. Ia mengeluarkan halaman robekan dan segel timah dari saku dada, meletakkannya di pangkuan, dan menatapnya dalam cahaya tipis dari celah dinding.
Bukti fisik. Untuk pertama kalinya dalam empat tahun, kebenaran yang ia bawa bukan lagi sekadar angka di kepala atau keyakinan yang tak bisa dibuktikan. Itu kertas yang bisa disentuh, logam yang bisa ditimbang. Tapi ia juga tahu, dengan kejernihan yang dingin, harga dari malam ini. Penyamarannya — Amos Teller, pendulang lugu yang luput dari perhatian — kini retak di mata satu orang. Roy Deglan telah melihat wajahnya di bawah lampu terang dan menyebut namanya. Selama orang itu masih bernapas, Elias Crane tidak lagi mati di Cedar Gulch. Ia hidup, dan diburu.
Ia menyimpan kembali bukti itu, menutupinya dengan papan lantai yang longgar, dan berbaring tanpa tidur, mendengar lonceng darurat akhirnya berhenti dan kota perlahan kembali ke keheningannya yang gelisah. Di luar, api telah dipadamkan sebelum melahap seluruh kantor. Vance, ia tahu, akan bangun pagi ini dengan brankasnya yang terbuka, satu halaman yang hilang, dan pertanyaan dingin di benaknya tentang siapa yang cukup berani — atau cukup bodoh — untuk menyentuh timbangannya.