Di dalam lift, Sungchan bersandar pada dinding kaca, menatap pantulan wajahnya yang berantakan. Ia merasa sangat kosong. Ryu benar-benar telah menarik garis tegas; sebuah tembok yang tidak bisa ditembus oleh pesona idola mana pun.
Sesampainya di lantai bawah, Hamin sudah menunggu. Hamin menatap wajah Sungchan yang hancur dan langsung mengerti hasilnya. Tanpa banyak bicara, Hamin menuntun Sungchan menuju ruang VIP tempat manajernya menunggu.
"Sudah selesai?" tanya manajer dengan nada cemas saat melihat Sungchan masuk.
Sungchan hanya mengangguk lemah. Ia tidak sanggup mengeluarkan suara. Ia mengikuti manajernya keluar menuju van yang sudah menunggu di gang gelap samping bar.
Malam itu, saat van melaju menjauhi Itaewon, Sungchan menatap lampu-lampu kota Seoul yang berpijar lewat jendela.