Seungwoo memanggil Seungyoun ke ruang kerjanya setelah percakapan dengan Ayana. Ia tidak mengangkat suara, tetapi wajahnya menunjukkan bahwa ia tidak akan menerima jawaban yang disembunyikan.
"Apa yang sebenarnya terjadi di villa?" tanyanya.
Seungyoun terdiam.
"Aku melihat gelang zamrud itu dan mendapat kilasan ingatan. Aku tahu Ayana pernah berada di sana. Aku juga tahu ada sesuatu yang membuatnya pergi."
Seungyoun merapatkan kedua tangannya. "Yang Mulia ingin saya menjawab di hadapan Ayana?"
"Ya. Dia berhak mendengar kebenaran."
Seungyoun sempat menunduk, lalu mengaku bahwa di villa dahulu Seungwoo sendiri memerintahkannya untuk memberi Ayana uang dan menyuruhnya pergi. Raja saat itu merasa hubungan mereka mengganggu tugas dan masa depannya.
"Aku ingat pagi itu," kata Seungwoo pelan. "Aku ingat menyuruhmu mengurusnya. Yang tidak kuingat hanyalah mengapa ia menatapku seolah aku telah berjanji padanya." Seungwoo tampak terpukul.
"Ya, Yang Mulia."
"Apa lagi yang terjadi?"
Seungyoun menelan ludah. "Ancaman bahwa ingatan Ayana akan dihapus bukan perintah Yang Mulia. Itu keputusan saya sendiri. Saya mengatakan hal itu agar ia takut dan tidak kembali."
Seungwoo berdiri, wajahnya pucat karena marah kepada dirinya sendiri dan kepada Seungyoun. Namun ia menahan diri. "Kau akan menjelaskan semuanya kepada Ayana. Tidak ada lagi yang disembunyikan."
Seungyoun mengangguk. Ia tahu pengakuan itu mungkin membuat Ayana semakin sulit memaafkannya, tetapi ia tidak berhak meminta jalan keluar yang mudah.
Mereka sepakat menemui Ayana keesokan harinya bersama Miran. Seungwoo tidak ingin mengagetkannya dengan kabar itu di tengah malam, sementara Seungyoun ingin menyampaikan permintaan maaf tanpa dalih.
***
Ayana duduk di ruang tengah bersama Miran saat Seungwoo dan Seungyoun datang. Ia langsung merasakan suasana berbeda. Seungyoun tampak lebih tegang dari biasanya.
"Aya," kata Seungwoo, "Seungyoun ingin menjelaskan apa yang terjadi di villa. Kau boleh meminta kami berhenti kapan saja."
Seungyoun berdiri beberapa langkah darinya. "Di villa, Raja memang memerintahkanku memberikan uang dan menyuruhmu pergi. Beliau ingin kau menjauh dari kehidupannya."
Ayana menatap Seungwoo. Ia tidak mengatakan apa-apa, tetapi wajahnya menegang.
Seungyoun melanjutkan, "Ancaman bahwa ingatanmu akan dihapus adalah tambahan dariku. Aku yang mengatakan itu untuk membuatmu takut. Aku minta maaf karena mengancammu dan karena membuat perpisahan kalian lebih kejam."
Seungwoo tampak terguncang. "Perintah itu berasal dariku. Aku yang mengusirmu."
Ayana menahan tangis. Ingatan tentang uang yang diletakkan di hadapannya dan kata-kata dingin di villa kembali terasa nyata.
"Kenapa?" tanyanya pelan.
Seungwoo tidak punya jawaban yang bisa memperbaiki keadaan. "Aku tidak tahu. Ingatanku masih kosong, tapi itu bukan alasan untuk menyangkal bahwa aku melakukannya."
"Aku tidak meminta alasan," ujar Ayana. "Aku hanya ingin kalian memahami bahwa tindakan itu meninggalkan luka."
Seungyoun membungkuk dalam-dalam. "Aku memahami itu. Aku tidak meminta kau memaafkanku."
Ayana mengalihkan pandangan. Miran tetap duduk di sisinya, memberi ruang untuknya menenangkan diri.
Seungwoo mengakui bahwa ia ikut bertanggung jawab atas perpisahan mereka. "Aku tidak bisa mengubah apa yang sudah kulakukan. Aku hanya bisa berhenti mengulanginya dan menghormati keputusanmu."
Ayana tidak menjawab. Pengakuan itu tidak membuat luka hilang, tetapi setidaknya kini ia tahu bagian mana yang dilakukan Seungwoo dan bagian mana yang merupakan ancaman Seungyoun.
***
Setelah pertemuan itu, Seungwoo meminta Tabib Baek memeriksa catatan kultivasi yang pernah ia jalani. Ia ingin tahu mengapa ingatannya tentang Ayana terasa kosong, sementara gelang zamrud dan kilasan di villa mulai mengusik pikirannya.
Tabib Baek membaca catatan lama di ruang pemeriksaan. "Kultivasi yang dilakukan Yang Mulia memang memiliki risiko terhadap kestabilan ingatan," katanya. "Namun saya perlu memeriksa beberapa bagian sebelum menjelaskan lebih jauh."
"Apa ingatan itu bisa kembali?" tanya Seungwoo.
"Sebagian mungkin. Saya tidak bisa menjanjikan semuanya akan pulih, dan memaksanya justru berbahaya."
Seungwoo mengangguk. "Jelaskan apa pun yang bisa kau pastikan. Aku tidak ingin Ayana menanggung akibat dari sesuatu yang tidak ia ketahui."
Tabib Baek meminta gelang zamrud yang selama ini dipakai Ayana diperiksa hanya jika ia memberi izin. Gelang itu tampaknya berkaitan dengan kenangan yang mulai muncul, tetapi ia tidak ingin mengambilnya atau menyentuhnya tanpa persetujuan pemiliknya.
Seungwoo menyampaikan hal tersebut kepada Ayana melalui Miran. Ia menegaskan bahwa Ayana bebas menolak pemeriksaan gelang. Ayana belum memberi jawaban. Benda itu pemberian Seungwoo, satu-satunya kenangan nyata dari masa mereka bersama.
Malam itu, Tabib Baek mengatur catatan dan bersiap menjelaskan hasil yang ia pahami kepada mereka. Seungwoo meminta agar Ayana hadir hanya jika ia bersedia. Ia tidak ingin menjadikan rahasia kultivasi sebagai alasan untuk memaksanya membuka kenangan.
Ayana akhirnya setuju mendengar penjelasan, dengan syarat gelangnya tidak dilepas atau diambil. Miran akan menemaninya. Mereka berkumpul di ruang pemeriksaan pada pagi berikutnya.
***
Tabib Baek meletakkan catatan kultivasi di atas meja. Ayana duduk bersama Miran, sedangkan Seungwoo berdiri di sisi lain ruangan. Gelang zamrud tetap berada di pergelangan Ayana.
"Kultivasi itu menyegel bagian ingatan Yang Mulia yang berhubungan dengan sisi lembut dan ikatan pribadinya," jelas Tabib Baek. "Tujuannya dahulu untuk membantu beliau menjalankan tugas tanpa terganggu oleh emosi. Namun segel itu juga menutup ingatan tentang orang yang beliau cintai."
Seungwoo menatap gelang di tangan Ayana. "Dan gelang itu?"
"Benda itu menjadi penghubung dengan kenangan yang disegel. Gelang zamrud tampaknya menyimpan ikatan emosional yang kuat. Kilasan yang muncul bukan pemulihan penuh, tetapi tanda bahwa segel mulai retak."
Ayana menggenggam pergelangan tangannya. "Apakah gelang ini bisa membuat ingatannya kembali?"
"Tidak dengan sendirinya, dan saya tidak menyarankan kita menggunakannya dengan paksa," jawab Tabib Baek. "Kenangan hanya dapat kembali secara bertahap. Yang Mulia harus menghadapinya tanpa tekanan."
Seungwoo mengangguk. "Aku tidak akan meminta Ayana melakukan apa pun demi ingatanku."
Ayana menatapnya. Ia masih marah dan belum bisa mempercayainya, tetapi penjelasan itu membantu memahami mengapa Seungwoo terlihat seperti orang yang sama sekaligus berbeda.
"Jadi, Yang Mulia tidak melupakan semuanya karena memilih begitu?" tanyanya.
"Aku tidak ingat memilih untuk melupakanmu," jawab Seungwoo. "Namun aku tetap bertanggung jawab atas apa yang kulakukan sebelum ingatanku hilang."
Tabib Baek menutup catatannya. "Itulah yang perlu diingat. Segel ini bukan pembenaran atas tindakan siapa pun. Kita hanya perlu berhati-hati agar ingatan yang kembali tidak membahayakan kesehatan Yang Mulia atau Ayana."
Ayana tidak memberikan janji untuk membantu memulihkan ingatan Seungwoo. Ia hanya meminta agar gelang itu tetap menjadi miliknya dan semua orang menghormati batas yang telah ia tetapkan.
Seungwoo menyetujuinya. Untuk saat ini, kebenaran tentang masa lalu sudah mulai terbuka, tetapi kepercayaan di antara mereka masih harus dibangun kembali.