Tabib Baek memeriksa Ayana dengan teliti. Rasa kramnya mulai mereda, tetapi tubuhnya lemah karena ramuan penyamaran hampir habis dan ia terlalu lama berada dalam keadaan panik.
Miran membasahi kain dan mengusap dahi Ayana. "Tarik napas pelan-pelan. Kau sudah aman sekarang."
Ayana tetap menutupi wajahnya. Ia takut Seungwoo melihatnya dan mengenali dirinya sebelum ia siap menjelaskan. Namun menyembunyikan keadaan bayi juga semakin sulit.
"Apakah ia baik-baik saja?" tanya Seungwoo kepada Tabib Baek.
"Untuk saat ini, denyutnya sudah lebih tenang. Saya perlu memeriksanya lagi setelah ia beristirahat."
"Denyutnya?" Seungwoo mengulang kata itu. "Apa maksudmu?"
Tabib Baek terdiam. Ia mengingat hukum istana dan permohonan Ayana untuk merahasiakan kehamilannya. Namun situasi malam ini telah berubah. Seungwoo mendengar sendiri bahwa Ayana takut bayinya diambil, dan keselamatan keduanya memerlukan perlindungan Raja.
Ayana meremas selimut. "Jangan..."
"Aku tidak akan memaksamu menjawab sekarang," kata Seungwoo. Ia tetap menjaga jarak. "Tapi aku perlu tahu apakah kau dalam bahaya."
Tabib Baek meminta waktu untuk menyelesaikan pemeriksaan. Seungwoo mengangguk dan keluar ke ruang tengah bersama Miran. Ia tidak meninggalkan lorong, tetap menunggu kabar.
Di dalam bilik, Ayana akhirnya menurunkan tangannya sebentar untuk menerima air. Ia belum sadar Seungwoo sempat melihat sisi wajahnya. Setelah minum, ia kembali memejamkan mata.
Miran duduk di dekat ranjang. "Kau boleh tetap diam kalau belum siap. Tapi biarkan Tabib Baek membantu."
Ayana mengangguk lemah. Ia tahu malam itu tidak mungkin kembali seperti semula. Aroma manusia yang tercium Seungwoo, tangisnya, dan nama yang ia panggil mungkin telah membuka jalan menuju rahasia yang selama ini dijaga.
***
Tabib Baek selesai memeriksa Ayana dan keluar ke ruang tengah. Seungwoo berdiri ketika melihatnya.
"Aya hamil, Yang Mulia," kata tabib. "Denyut yang saya periksa menunjukkan kandungan itu gelisah ketika ia terlalu jauh dari ayahnya. Malam ini, karena ramuan penyamaran mulai habis dan bulan purnama memperkuat aromanya, kondisinya memburuk."
Seungwoo menatapnya tanpa bicara. "Ayahnya siapa?"
Tabib Baek tidak menjawab. Ia memandang pintu bilik, menyerahkan keputusan itu kepada Ayana.
Seungwoo kembali masuk, kali ini ditemani Miran dan Tabib Baek. Ayana sudah menurunkan tangannya dari wajah. Ketika ia berusaha duduk, lengan bajunya tersingkap dan memperlihatkan gelang zamrud.
Seungwoo membeku.
Ia mengenali wajah itu. Bukan sebagai Aya, pelayan baru, melainkan sebagai perempuan yang pernah ia temui di villa. Ingatan singkat menyambar pikirannya: dirinya memeluk Ayana dengan erat, berjanji tidak akan melepaskannya.
"Tidak mungkin..." gumamnya.
Ayana memalingkan wajah. Ia tidak tahu apakah Seungwoo mengingat semuanya atau hanya melihat bayangan masa lalu.
"Yang Mulia, saya bisa menyiapkan kamar tamu di sebelah kamar Anda," kata Tabib Baek. "Ia sebaiknya ditemani dan tidak dibiarkan sendirian malam ini."
Seungwoo menatap Ayana, lalu berbicara dengan hati-hati. "Kau boleh pindah ke kamar tamu itu bersama Miran. Aku tidak akan memaksamu tinggal di sana. Tapi jaraknya lebih dekat dan Tabib Baek bisa memeriksamu."
Ayana mengangguk kecil. "Saya setuju."
"Semua yang hadir merahasiakan kehamilan Aya," perintah Seungwoo. "Tidak ada yang boleh membicarakannya di luar ruangan ini."
Miran mengangguk. Tabib Baek berjanji akan menjaga rahasia itu selama keselamatan Ayana dan bayi tetap terjamin.
Seungwoo menatap gelang zamrud di pergelangan Ayana sekali lagi. Ingatannya belum kembali utuh, tetapi ia tahu perempuan di hadapannya bukan orang asing seperti yang selama ini ia kira.
***
Setelah Ayana dipindahkan ke kamar tamu di sebelah kamar Raja, Miran membantunya beristirahat. Seungwoo tidak masuk lagi malam itu. Ia meminta Tabib Baek memastikan keadaan Ayana stabil, lalu menunggu di ruang tengah sampai mendapat kabar bahwa ia dan bayinya aman.
Pagi berikutnya, Seungwoo meminta Miran menyampaikan bahwa ia ingin bicara dengan Ayana. Ia menegaskan pertemuan itu dilakukan di ruang tengah, dengan Miran tetap menemani, dan Ayana boleh menolak atau menghentikan percakapan kapan saja.
Ayana membaca pesan itu beberapa kali. Ia belum siap menghadapi Seungwoo, tetapi ia juga tahu bahwa kehamilannya sudah bukan rahasia di istana. Jika ia ingin melindungi Baby Wulf, ia perlu menjelaskan batas-batas yang tidak boleh dilanggar.
Miran duduk di sisi ranjang. "Kau tidak harus menjawab semua pertanyaannya."
"Aku tahu. Tapi aku harus memastikan dia mengerti bahwa bayi ini bukan miliknya untuk diambil."
"Kalau kau ingin, aku akan tetap di sampingmu."
Ayana mengangguk. Ia membasuh wajah, merapikan pakaiannya, lalu menunggu sampai tubuhnya cukup kuat untuk berdiri. Di balik pintu, Tabib Baek memastikan ia tidak dipaksa berjalan terlalu cepat.
Seungwoo menunggu di ruang tengah tanpa penjaga. Ia sengaja membiarkan pintu terbuka dan berdiri ketika Ayana tiba bersama Miran. Ia tidak mendekat.
"Aku ingin bertanya tentang bayi itu dan tentang masa lalu kita," katanya. "Tapi aku tidak akan menginterogasimu. Kau boleh pergi kapan saja."
Ayana menatapnya dengan hati-hati. Ia belum tahu apakah kata-kata itu dapat dipercaya. Namun ia memutuskan untuk mendengarkan, selama Miran tetap berada di sampingnya.
"Baik," jawabnya. "Tapi saya yang menentukan apa yang akan saya ceritakan."
Seungwoo mengangguk. "Kau yang menentukan."
Mereka duduk saling berhadapan. Keheningan memenuhi ruang tengah, sementara pertanyaan pertama Seungwoo masih tertahan di bibirnya.
***
Ruang tengah terasa terlalu luas ketika mereka duduk berhadapan. Miran tetap berada di samping Ayana, sementara Seungwoo duduk di kursi seberang dengan kedua tangan bertaut.
"Aku tidak ingin memaksamu," kata Seungwoo. "Aku hanya ingin tahu apa yang kau anggap aman untuk bayimu."
Ayana menarik napas. "Bayi ini milik saya. Saya yang akan menjaganya. Saya tidak akan menyerahkannya kepada siapa pun, termasuk Yang Mulia."
Seungwoo mengangguk. "Aku mengerti."
"Kalau saya ingin pergi dari istana, saya harus bisa pergi. Saya tidak mau ditahan karena mengandung anak Raja."
"Kau boleh pergi kapan saja. Aku tidak akan menggunakan kekuasaanku untuk menahanmu."
Ayana menatapnya, memastikan tidak ada ancaman tersembunyi di balik kata-katanya. "Apa Yang Mulia benar-benar tidak mengingat masa ketika tinggal di dunia manusia? Termasuk waktu kita bersama?"
Seungwoo menundukkan wajah. "Aku tidak mengingatnya. Setelah menjalani kultivasi, ada bagian dari diriku yang terasa tertutup. Aku tidak tahu persis apa yang hilang atau mengapa."
"Jadi Yang Mulia tidak ingat pernah mencintaiku?"
Seungwoo tidak menghindari pertanyaan itu. "Aku tidak bisa mengaku mengingat sesuatu yang memang kosong. Tapi aku percaya padamu ketika kau mengatakan kita pernah dekat."
Ayana menggigit bibir. Ia tidak mengharapkan jawaban itu, tetapi rasa sakitnya tetap ada. "Percaya saja belum cukup untuk menghapus apa yang terjadi."
"Aku tahu. Kau tidak perlu memaafkanku sekarang."
Miran menyentuh lengan Ayana dengan lembut. Ia membiarkan Ayana menentukan kapan percakapan harus berhenti.
"Ada hal lain yang harus saya pikirkan," kata Ayana. "Saya ingin waktu."
Seungwoo berdiri tanpa mendekat. "Kau akan mendapatkannya. Aku juga akan mencari tahu apa yang terjadi di villa."
Ayana menatapnya tajam. "Jangan mencari jawaban dengan memaksaku bercerita."
"Aku tidak akan melakukannya."
Percakapan berakhir tanpa pelukan atau janji untuk kembali bersama. Namun untuk pertama kalinya, Seungwoo menerima batas Ayana tanpa membantahnya.