Seungwoo berdiri tepat di belakang Ayana. Ia tidak menyentuhnya, tetapi menarik napas perlahan. Ada aroma yang samar, seperti sesuatu yang pernah ia kenal dan hilang dari ingatannya.
Ayana memegang nampan erat-erat. Ia tahu Seungwoo berada dekat, tetapi tidak berani menoleh.
"Kau," ujar Seungwoo. "Apa kita pernah bertemu?"
Pertanyaan itu menghantam Ayana lebih keras daripada yang ia duga. Sesaat, ia kembali mengingat masa ketika Seungwoo memeluknya dan berkata tidak ingin kehilangan dirinya. Lalu ingatan itu berubah menjadi tatapan dingin dan perpisahan yang menyakitkan.
Ayana memaksa dirinya tetap menunduk. "Tidak, Yang Mulia. Saya belum pernah bertemu dengan Anda."
Seungwoo diam. Ia kembali mengendus udara, seolah berharap aroma itu akan memberinya jawaban. Namun ingatannya tetap kosong.
Ayana meletakkan nampan di meja dengan tangan gemetar. Ia tidak sanggup tinggal lebih lama.
"Permisi, Yang Mulia."
Ia keluar sebelum Seungwoo sempat menahannya. Begitu sampai di lorong sempit, langkahnya kehilangan tenaga. Ayana menutup mulut agar isaknya tidak terdengar oleh penjaga, tetapi air matanya tetap jatuh.
Ia berlari menjauh dari kamar itu dan berhenti di sudut lorong yang sepi. Dengan punggung bersandar pada dinding, ia menangis tanpa suara. Seungwoo pernah menjadi rumah baginya. Kini pria itu berdiri hanya beberapa langkah darinya, tetapi tidak mengenalinya.
Di dalam kamar, Seungwoo masih menatap pintu yang tertutup. Ia tidak tahu mengapa jawaban Aya membuat dadanya terasa sesak. Ia juga tidak tahu mengapa aroma samar itu membangkitkan rasa kehilangan yang begitu dalam.
Sementara di lorong, Ayana mengusap pipinya dan berusaha menenangkan diri. Ia harus kembali sebelum ada yang menyadari kepergiannya. Namun satu hal kini jelas: Seungwoo mungkin tidak mengingatnya, tetapi ada bagian dari dirinya yang masih merasakan ikatan itu.
***
Ayana baru kembali ke kamar pelayan setelah memastikan lorong kosong. Ia mencuci wajah dan menunggu sampai matanya tidak lagi merah. Tidak seorang pun boleh tahu bahwa ia baru saja menangis di depan kamar Raja.
Miran memperhatikannya saat ia masuk. "Kau habis dari mana? Madam Ra Mi mencarimu."
"Aku mengantar nampan ke kamar Raja."
"Lalu kenapa wajahmu seperti itu?"
Ayana menunduk. "Aku hanya kelelahan."
Miran tidak terlihat yakin, tetapi tidak memaksanya bercerita. Ia menyerahkan kain bersih dan mengingatkan bahwa jadwal kerja mereka masih berlanjut. Ayana mengambil kain itu. Ia harus kembali terlihat biasa, meski hatinya masih berantakan.
Di kamar raja, Seungwoo berusaha melanjutkan pekerjaannya. Pertanyaan yang ia ajukan kepada Aya terasa tidak masuk akal. Ia tidak mengenal perempuan itu, tetapi aroma yang tercium membuatnya merasa pernah kehilangan sesuatu.
Seungyoun masuk membawa dokumen. "Yang Mulia belum beristirahat?"
"Pelayan tadi," ujar Seungwoo. "Apa kau tahu dari mana asalnya?"
"Namanya Aya. Ia berasal dari Taewan dan baru bekerja di sini."
Seungwoo menatap jendela. "Suaranya terasa akrab."
Seungyoun tidak segera menjawab. Ia sudah curiga pada Ayana, tetapi belum memiliki bukti yang cukup untuk dibicarakan dengan Raja. "Saya akan memastikan catatannya lengkap."
Di tempat lain, Hangyul menerima pesan singkat dari Ayana. Hanya beberapa kata: Seungwoo bertanya apakah kami pernah bertemu. Hangyul segera ingin menemuinya, tetapi ia tahu pergi ke istana saat itu hanya akan menambah kecurigaan.
Ia membalas agar Ayana tetap tenang dan tidak mengubah ceritanya. Setelah itu ia menatap botol ramuan yang tersisa. Waktunya semakin sedikit, sementara Ayana kini harus menghadapi ingatan Seungwoo yang mulai bergerak.
***
Eunha sudah beberapa kali mencoba menghubungi Hangyul, tetapi lelaki itu selalu membalas singkat. Ia berkata sedang sibuk dengan urusan keluarga. Jawaban itu membuat Eunha curiga, terlebih ia belum melihat Hangyul sejak Ayana pergi.
Hari itu, Eunha menutup toko roti lebih awal. Ia membawa sekotak roti dan jaket yang pernah tertinggal di kedai. Kamar Hangyul di kontrakan Nenek Kim selalu kosong; menurut Nenek Kim, Hangyul kini lebih sering menginap di pondok kecil keluarganya di tepi hutan kota.
"Aku cuma mengembalikan barang," gumam Eunha pada dirinya sendiri ketika berdiri di depan rumah kecil Hangyul. Ia mengetuk pintu, tetapi tak ada jawaban.
Pintu tidak terkunci. Eunha mendorongnya sedikit. "Hangyul? Ini aku, Eunha. Aku masuk sebentar, ya?"
Ruangan itu sepi, tetapi terdengar suara benda jatuh dari bagian belakang rumah. Eunha meletakkan kotak roti di meja dan berjalan menuju sumber suara.
"Hangyul?"
Ia menemukan pintu belakang terbuka. Di luar, di dekat pepohonan, Hangyul berdiri membelakanginya. Tubuhnya tampak tegang, seolah menahan rasa sakit.
Eunha hendak memanggil lagi ketika melihat bayangan Hangyul berubah. Bahunya melebar, tubuhnya merunduk, dan bulu gelap tumbuh menutupi kulitnya. Dalam beberapa detik, sosok lelaki itu berganti menjadi serigala besar.
Kotak roti terlepas dari tangan Eunha dan jatuh ke lantai. Ia mundur dengan napas tercekat.
Hangyul menoleh. Mata serigalanya mengenali Eunha. Ia tidak mendekat, tetapi tubuhnya menegang saat melihat ketakutan di wajah gadis itu.
Eunha berlari keluar rumah. Ia berhenti jauh dari pagar, berusaha memahami apa yang baru saja ia lihat. Hangyul bukan manusia biasa. Semua cerita tentang kuliah dan urusan keluarganya ternyata menyembunyikan sesuatu yang jauh lebih besar.
***
Hangyul kembali ke wujud manusianya setelah beberapa saat. Ia mengenakan pakaian yang tersampir di dekat pintu, lalu mencari Eunha. Gadis itu berdiri di tepi jalan dengan wajah pucat dan tangan gemetar.
"Eunha, tunggu."
"Jangan mendekat!" Eunha mengangkat telapak tangannya. "Apa yang tadi kulihat?"
Hangyul berhenti beberapa langkah darinya. "Aku bisa menjelaskan."
"Kau berubah menjadi serigala." Suara Eunha bergetar. "Selama ini kau menyembunyikan itu dariku?"
"Aku memang manusia serigala. Aku berasal dari Taewon dan bertugas menjaga perbatasan. Di dunia manusia, aku berpura-pura menjadi mahasiswa supaya bisa menjalankan tugasku tanpa menarik perhatian."
Eunha menatapnya dengan mata berkaca-kaca. "Kenapa tidak pernah bilang?"
"Karena aku tidak ingin membahayakanmu. Ada hal-hal tentang dunia kami yang tidak aman diketahui sembarang orang."
"Lalu Kak Ayana tahu?"
Hangyul terdiam sejenak. "Ya. Dia tahu siapa aku sebenarnya. Aku membantunya karena dia sedang menghadapi masalah besar."
Eunha mengingat Ayana yang pergi mendadak dan cerita bahwa ia akan bertemu keluarga di luar negeri. Semua potongan itu terasa saling berhubungan, tetapi ia tidak mendesak Hangyul untuk menceritakan rahasia Ayana.
"Aku takut," katanya lirih. "Tapi aku juga tidak ingin berpura-pura tidak melihat apa-apa."
"Aku mengerti." Hangyul menundukkan kepala. "Kau boleh marah. Aku tidak akan memaksamu menyimpan rahasia ini."
Eunha mengusap air matanya. "Kalau orang lain tahu, apa yang akan terjadi padamu?"
"Bisa berbahaya. Bukan hanya untukku."
Eunha gemetar, tetapi ia akhirnya mengangguk. "Aku tidak akan memberi tahu siapa pun. Tapi jangan bohong padaku lagi kalau kebohongan itu menyangkut keselamatan kita."
Hangyul menatapnya dengan rasa bersalah. "Aku akan berusaha jujur."
Eunha masih ketakutan. Ia belum sanggup mendekat, tetapi ia juga tidak pergi. Di antara mereka, rasa percaya yang lama retak—namun belum sepenuhnya hilang.