Ayana menghitung sisa ramuan penyamaran aroma di dalam botol kecilnya. Cairan ungu itu tinggal sedikit. Ia masih menggunakannya sesuai petunjuk Jungwoo, tetapi tugas membersihkan kamar raja setiap malam membuatnya khawatir persediaan itu tidak akan cukup.
Ia menemukan kesempatan mengirim pesan kepada Hangyul melalui jalur yang biasa mereka pakai. Pesannya singkat: ia membutuhkan ramuan tambahan dan meminta Hangyul berbicara kepada Jungwoo.
Hangyul menerima pesan itu ketika sedang berada di dekat perbatasan. Ia membaca tulisan Ayana beberapa kali, lalu segera pergi menemui Jungwoo.
"Dia butuh ramuan lagi," kata Hangyul tanpa basa-basi. "Apa kau masih bisa membuatnya?"
Jungwoo memeriksa beberapa botol dan kantong bahan di rak. Wajahnya berubah serius. "Bahan yang paling penting sulit didapat sekarang. Persediaan yang tersisa hanya cukup untuk sekitar sepuluh hari."
Hangyul menatapnya tajam. "Sepuluh hari? Setelah itu bagaimana?"
"Aku sedang berusaha mencari bahan pengganti, tapi aku tidak bisa menjanjikan hasilnya. Ramuan itu harus aman untuk Ayana dan bayinya."
Hangyul menunduk. Ia tahu Ayana akan panik jika mendengar kabar itu. "Jangan katakan dulu kepadanya. Aku akan mencari cara agar dia tidak terlalu khawatir."
"Jangan berbohong terlalu lama. Dia berhak tahu keadaan yang menyangkut dirinya."
"Aku tahu." Hangyul mengambil botol kecil yang masih tersedia. "Untuk sekarang, beri dia persediaan ini. Aku akan menjelaskan ketika sudah menemukan jalan keluar."
Jungwoo tidak setuju sepenuhnya, tetapi ia menyerahkan beberapa botol. "Pastikan ia tidak mengubah dosisnya sendiri."
Hangyul kembali menuju istana dengan pikiran berat. Ketika bertemu Ayana di tempat yang aman dekat gerbang belakang, ia memberikan botol-botol itu.
"Jungwoo bisa membuat tambahan," katanya, menyembunyikan kabar sebenarnya. "Gunakan sesuai petunjuk. Jangan menambah dosis."
Ayana menerima botol itu dengan lega. "Syukurlah. Aku takut aromaku mulai tercium."
Hangyul hanya mengangguk. Ia berjanji pada dirinya sendiri akan menemukan bahan yang dibutuhkan sebelum persediaan itu habis.
***
Ayana menyimpan ramuan baru di bagian terdalam laci. Ia merasa sedikit lebih tenang, tetapi tetap berusaha menghematnya tanpa mengubah takaran. Ia tidak tahu bahwa persediaan itu hanya akan bertahan beberapa hari jika ia terus bekerja di kamar Raja.
Sore itu, ia berpapasan dengan Hangyul di jalur belakang istana. Mereka hanya punya waktu sebentar sebelum penjaga kembali berpatroli.
"Jungwoo bilang kapan ramuan berikutnya siap?" tanya Ayana.
Hangyul menjaga wajahnya tetap biasa. "Dia sedang mencari bahan. Katanya akan memberi kabar secepat mungkin."
"Aku tidak mau membuatmu repot. Tapi kalau ramuan itu habis, aku tidak tahu apa yang akan terjadi."
"Kau tidak membuatku repot, Ay. Aku yang akan memastikan kau dan Baby Wulf aman."
Ayana menatapnya penuh harap. "Kau janji?"
Hangyul terdiam sepersekian detik sebelum mengangguk. "Aku janji akan melakukan semua yang bisa kulakukan."
Ia sengaja tidak mengatakan bahwa ramuan yang tersisa hanya cukup untuk sepuluh hari. Ia ingin memberi waktu pada Jungwoo untuk mencari bahan, sekaligus mencegah Ayana mengambil keputusan nekat.
Setelah berpisah, Hangyul kembali ke dunia manusia untuk mencari bahan yang disebut Jungwoo. Ia menghubungi beberapa kenalan dan mengunjungi tempat-tempat yang mungkin menyimpan tanaman langka. Setiap kali gagal, pikirannya kembali kepada Ayana yang bekerja di istana tanpa mengetahui ancaman yang mendekat.
Sementara itu, Ayana menjalankan tugas malamnya seperti biasa. Ia mengoleskan ramuan sesuai petunjuk sebelum masuk ke kamar Seungwoo, lalu menyelesaikan pekerjaannya sebelum Raja kembali. Rasa kramnya tidak muncul selama berada di sana. Itu membuatnya percaya bahwa ia masih punya waktu untuk mencari jalan keluar.
Di sayap utama, Seungwoo kembali tidur nyenyak setelah kamarnya selesai dibersihkan. Ia mulai menganggap kehadiran Aya sebagai bagian dari rutinitas baru, walau ia belum pernah benar-benar berbicara dengannya lebih dari beberapa kalimat.
***
Hari-hari berlalu dengan jadwal yang sama. Ayana membersihkan kamar raja setiap malam, sementara Hangyul berusaha mendapatkan bahan ramuan dari dunia manusia dan Taewon. Ia belum menemukan bahan pengganti yang aman.
Ayana mulai menyadari botol-botolnya berkurang lebih cepat daripada perkiraannya. Ia mengirim pesan lagi kepada Hangyul, menanyakan apakah Jungwoo sudah menyelesaikan ramuan tambahan.
Hangyul membalas bahwa mereka masih menunggu beberapa bahan. Ia menambahkan agar Ayana tidak khawatir dan tetap mengikuti jadwal. Setiap pesan yang dikirimnya terasa semakin berat karena ia menyimpan kabar bahwa hanya sepuluh hari tersisa.
Di istana, tugas Ayana bertambah. Selain membersihkan kamar, ia kadang diminta membawa air minum atau nampan ringan ke ruang utama sebelum Seungwoo pulang. Ia selalu menyelesaikan pekerjaan itu lebih awal agar tidak berhadapan dengannya.
Suatu malam, seorang pelayan dapur jatuh sakit. Madam Ra Mi meminta Ayana membantu mengantarkan nampan berisi minuman hangat ke kamar Raja. Ayana menatap nampan itu dengan cemas.
"Letakkan saja di meja kecil, lalu segera kembali," kata Madam Ra Mi. "Raja belum ada di kamar."
Ayana memeriksa ramuan penyamar aromanya dan memastikan takarannya sesuai. Ia tidak ingin mengecewakan Madam Ra Mi, juga tidak ingin kehilangan tugas yang membuatnya dekat dengan Seungwoo.
Saat ia berjalan menuju kamar raja, lorong terasa lebih sunyi dari biasanya. Nampan di tangannya bergetar sedikit. Ia mengingat pesan Hangyul untuk tidak panik dan menjawab seperlunya jika ada yang bertanya.
Ayana sampai di depan pintu. Penjaga membukakannya, lalu membiarkannya masuk.
***
Kamar Raja kosong ketika Ayana masuk. Ia meletakkan nampan di meja kecil, memastikan cangkir tidak bergeser, lalu mulai merapikan beberapa barang yang berada di dekat jendela.
Pekerjaannya seharusnya hanya sebentar. Namun ia mendengar langkah kaki dari lorong dan menyadari Seungwoo mungkin kembali lebih awal. Ia tidak ingin meninggalkan nampan di tempat yang salah, jadi ia memeriksa susunannya sekali lagi.
Pintu terbuka tanpa suara keras. Ayana tidak melihat siapa yang masuk karena ia sedang membungkuk di sisi meja. Ia hanya mendengar pintu tertutup dan langkah yang berhenti beberapa langkah di belakangnya.
"Minuman sudah saya siapkan, Yang Mulia," katanya sambil tetap menunduk.
Tidak ada jawaban.
Ayana merasakan suasana kamar berubah. Ia berusaha menyelesaikan pekerjaannya, lalu mengangkat nampan dengan kedua tangan. Ia akan meletakkannya di meja utama dan segera keluar, seperti yang diperintahkan.
Langkah di belakangnya bergerak mendekat.
Ayana menegang, tetapi tidak berbalik. Ia dapat mencium aroma khas Seungwoo meski ramuan penyamaran masih bekerja. Jantungnya berdegup semakin cepat.
"Yang Mulia, apakah ada yang bisa saya bantu?" tanyanya pelan.
Seungwoo belum menjawab. Ayana menunduk lebih dalam dan menunggu perintah, tangannya tetap menjaga nampan agar tidak bergetar.