Beberapa hari setelah penunjukan itu, Ayana mulai menjalani jadwal rutin untuk membersihkan kamar Raja. Ia menghafal letak perlengkapan, mencatat barang yang tidak boleh disentuh, dan memastikan pekerjaan selesai sebelum Seungwoo kembali.
Pagi itu ia membawa kain bersih melewati lorong sempit di sisi ruang kerja. Seorang pria muncul dari arah berlawanan sambil membawa setumpuk dokumen. Ayana segera menepi dan menunduk dalam-dalam.
"Permisi, Tuan."
Pria itu berhenti. Ayana mengenalinya sebagai Seungyoun, asisten pribadi Raja. Pria itulah yang dulu menjemput Seungwoo di villa dan mengancamnya; sejak masuk istana, Ayana hanya berani melihatnya dari jauh.
"Kau Aya, pelayan yang mengurus kamar Raja?" tanya Seungyoun.
"Benar, Tuan."
Seungyoun tidak langsung melanjutkan langkah. Wajah Ayana yang tertunduk hanya terlihat sekilas, tetapi ada sesuatu pada garis wajahnya yang terasa akrab.
Ayana merapatkan kain di tangannya. Jangan menatapnya terlalu lama, pikirnya. Jangan membuatnya mengingat.
"Siapa yang mencatat namamu saat masuk istana?"
"Chang bin, Tuan. Saya mengikuti prosedur yang diberikan Madam Ra Mi."
Jawabannya terdengar tenang, meski jemarinya mulai dingin.
Seungyoun mengamati wajahnya sekali lagi. "Baik. Lanjutkan pekerjaanmu."
Ayana kembali menunduk dan melewatinya. Ia baru menghela napas setelah mencapai ujung lorong. Tidak ada pertanyaan tentang asal-usulnya, tetapi ia merasakan tatapan Seungyoun masih mengikuti punggungnya.
Seungyoun tetap berdiri beberapa saat. Ia yakin pernah melihat wajah itu sebelumnya, tetapi tidak tahu di mana. Mungkin hanya kemiripan dengan seseorang yang pernah ditemuinya di kota manusia. Namun, mengapa ingatan itu terasa begitu dekat?
Ia akhirnya meneruskan perjalanan menuju ruang kerja, berusaha menyingkirkan pikiran tersebut. Ada banyak urusan istana yang harus diselesaikan. Meski begitu, nama Aya tertinggal di benaknya.
***
Ayana menyelesaikan tugas rutinnya menjelang tengah hari. Saat membawa ember kembali ke ruang cuci, ia melihat Seungyoun berbicara dengan dua penjaga di dekat tangga. Ia langsung menundukkan kepala dan mempercepat langkah.
"Aya."
Langkahnya berhenti. Ayana berbalik perlahan. Seungyoun kini berdiri sendirian di lorong.
"Ya, Tuan?"
"Sudah berapa lama kau bekerja di istana?"
"Belum lama. Saya masih baru."
"Dari kota mana kau berasal?"
Ayana teringat kebohongan yang disepakati bersama Hangyul. "Saya tinggal di Taewan sebelum datang ke sini."
"Taewan," ulang Seungyoun. Tatapannya menyempit, seolah-olah sedang mencocokkan potongan ingatan. "Apa kita pernah bertemu di sana?"
Ayana menggenggam pegangan ember lebih kuat. "Saya rasa tidak, Tuan. Saya belum pernah bertemu dengan Anda."
Jawaban itu keluar cepat. Seungyoun tidak tampak puas, tetapi ia tidak menahannya.
"Baik. Kau boleh pergi."
Ayana membungkuk dalam-dalam lalu melangkah pergi. Ia baru berani bernapas lega setelah berbelok di persimpangan. Ia tahu pertanyaan seperti itu bisa muncul lagi. Seungyoun pernah berdiri di hadapannya di villa pagi itu; cepat atau lambat ia bisa mengingatnya.
Sementara itu, Seungyoun masih memikirkan pertemuan mereka. Ia hanya sekali menginjak dunia manusia, saat menjemput Seungwoo, dan hari itu pikirannya penuh urusan Raja, bukan wajah orang lain. Ada kesan ganjil pada cara Aya menghindari tatapannya, seperti seseorang yang takut dikenali.
Ia tidak ingin membuat tuduhan tanpa bukti. Untuk sementara, ia akan mengamati dan memastikan tidak ada masalah yang mengancam Raja.
Ayana kembali ke kamar pelayan dengan pikiran penuh. Ia tidak menceritakan percakapan itu kepada Miran. Ia hanya duduk sebentar, meminum air, lalu memeriksa apakah ramuan penyamaran masih bekerja. Ia harus tetap tenang. Jika Seungyoun curiga, kepanikan hanya akan membuatnya semakin mudah terbaca.
***
Malam itu, Ayana sulit tidur. Pertanyaan Seungyoun terus terulang dalam pikirannya: apa mereka pernah bertemu? Ia tahu Seungyoun tidak memiliki bukti, tetapi satu kecurigaan kecil bisa berkembang menjadi penyelidikan.
Pagi harinya, Ayana meminta izin kepada Madam Ra Mi untuk mengambil perlengkapan kamar raja lebih awal. Ia ingin menyelesaikan tugasnya sebelum banyak orang memenuhi lorong. Madam Ra Mi mengizinkan, selama Ayana tetap mengikuti aturan dan tidak masuk ke ruang kerja yang terkunci.
Saat menata kain bersih di keranjang, Miran menghampirinya. "Kau kelihatan tidak fokus. Ada masalah?"
"Tidak. Aku hanya masih menyesuaikan diri dengan jadwal baru."
Miran memandangnya sejenak, lalu menawarkan diri untuk membantu mengangkat ember. Ayana berterima kasih, tetapi menolak. Ia tak ingin Miran ikut terseret ke dalam rahasianya.
Di sayap utama, Seungyoun menyampaikan kepada Seungwoo bahwa pelayan baru bernama Aya bekerja dengan baik. Ia tidak menyebut kecurigaannya. Belum ada alasan untuk membebani Raja dengan dugaan yang mungkin keliru.
"Pastikan semua pelayan mengikuti aturan," jawab Seungwoo tanpa mengangkat wajah dari berkasnya.
"Baik, Yang Mulia."
Seungyoun beranjak pergi. Ia berniat memeriksa daftar pelayan jika kecurigaan itu terus mengganggunya, tetapi untuk sekarang ia menunggu. Barangkali ia hanya salah mengenali wajah.
Ayana tidak tahu percakapan itu terjadi. Ia menyelesaikan pekerjaannya dengan teliti, menjaga jarak dari barang-barang pribadi Seungwoo, lalu membersihkan meja kecil di dekat jendela. Saat berada di kamar itu, tubuhnya terasa lebih nyaman. Ia tetap mengingat pesan Hangyul: rasa kram yang mereda bukan jaminan bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Sebelum meninggalkan ruangan, Ayana mengatur napas dan memastikan ramuan penyamaran aromanya masih menempel. Ia tidak boleh ceroboh. Suatu hari Seungwoo mungkin akan berada di kamar ketika ia sedang bekerja.
***
Pagi berikutnya, Madam Ra Mi memanggil Ayana sebelum ia mulai bekerja.
"Raja mungkin kembali ke kamarnya lebih cepat hari ini," katanya. "Selesaikan semua pekerjaan sebelum beliau datang. Jangan mengganggu, apa pun yang terjadi."
Ayana mengangguk. "Saya mengerti, Madam."
Ia menyiapkan kain, air, dan perlengkapan lain. Kali ini ia memeriksa setiap botol dan memastikan tidak ada aroma sabun yang terlalu kuat. Ramuan Jungwoo masih bekerja, tetapi Ayana tidak ingin mengambil risiko.
Kamar itu sunyi ketika ia masuk. Ia mulai dari sisi jendela, membersihkan meja dan merapikan tirai. Setelah itu ia mengganti kain di meja kecil dan menyapu lantai. Setiap gerakan dilakukan cepat namun hati-hati.
Di tengah pekerjaannya, Ayana teringat Seungyoun. Jika asisten Raja saja merasa pernah melihatnya, Seungwoo mungkin juga akan merasakan sesuatu ketika melihat wajahnya. Ia berharap bisa menyelesaikan tugas sebelum pria itu kembali.
Langkah kaki terdengar di lorong.
Ayana berhenti. Suara itu semakin dekat, lalu berhenti tepat di depan pintu. Ia menundukkan kepala, merapikan kain di tangannya, dan berusaha mengendalikan napas.
Gagang pintu bergerak.
Ayana tak sempat pergi. Ia tetap berdiri di sisi meja, kepala tertunduk, sementara pintu kamar mulai terbuka.
***
Pintu kamar terbuka. Ayana membeku di dekat meja, kepala tertunduk dan kain lap masih berada dalam genggamannya.
Seungwoo masuk tanpa tergesa. Ia baru saja melewati rapat panjang dan berharap bisa beristirahat, tetapi kehadiran pelayan di kamarnya membuat langkahnya terhenti.
"Kau siapa?"
"Saya Aya, pelayan yang ditugaskan membersihkan kamar, Yang Mulia." Ayana berusaha menjaga suaranya tetap stabil.
Seungwoo memandangnya sekilas, lalu menarik napas. Hidungnya bergerak sedikit, menangkap sesuatu di antara aroma kayu, kain bersih, dan udara dingin dari jendela.
"Wangi apa itu?" tanyanya.
Ayana menahan napas. Ramuan Jungwoo seharusnya menyamarkan aroma manusia dan bayi serigala, tetapi ia tak tahu apakah wanginya benar-benar hilang.
"Mungkin aroma roti panggang dari dapur, Yang Mulia," jawabnya. "Saya tadi melewati lorong dekat dapur sebelum kemari."
Seungwoo menatapnya beberapa detik. "Kau yakin?"
"Ya, Yang Mulia."
Ayana menunduk lebih dalam. Ia tidak berani menatap mata pria itu. Seungwoo masih terasa seperti orang yang pernah ia kenal, tetapi tatapan dingin tersebut membuat jarak di antara mereka terasa nyata.
"Pekerjaanmu sudah selesai?"
"Sebentar lagi."
"Kalau begitu, selesaikan dan pergi. Jangan menyentuh barang-barang di meja."
"Baik, Yang Mulia."
Seungwoo berjalan menuju sisi lain kamar tanpa berkata lagi. Ayana menyelesaikan pekerjaannya secepat mungkin, memeriksa lantai dan merapikan kain yang ia bawa. Ia menunggu sampai Raja tidak lagi memperhatikannya, lalu membungkuk dan keluar.
Di lorong, ia baru berani mengembuskan napas. Lututnya terasa lemas. Ia berhasil menyembunyikan identitasnya, tetapi Seungwoo telah mencium sesuatu yang berbeda. Kebohongan tentang roti panggang mungkin hanya memberinya waktu.
Di dalam kamar, Seungwoo masih berdiri dekat jendela. Aroma itu sudah memudar, tetapi rasa ganjil yang ditinggalkannya belum hilang. Ia mencoba mengingat apakah pernah mencium wangi serupa. Tidak ada jawaban yang muncul.