Pagi berikutnya, Ayana menerima kabar bahwa Hangyul akan datang setelah menyelesaikan urusannya di luar istana. Ia membaca pesan itu dua kali sebelum menyimpannya di balik celemek. Kelegaan kecil muncul di wajahnya, tetapi ia segera kembali bekerja ketika seorang pelayan lewat.
Hari itu tugas membersihkan kamar raja terasa lebih berat. Ayana memeriksa setiap sudut, namun berusaha tidak menghirup aroma ruangan terlalu dalam. Ia tetap merasakan tubuhnya lebih tenang di sana. Rasa kram yang datang dan pergi sejak kemarin tidak muncul selama ia merapikan sisi ranjang dan meja.
Ia menyelesaikan pekerjaan sebelum Seungwoo kembali. Setelah menyerahkan kunci, ia berjalan ke halaman belakang untuk membantu Miran. Sepanjang hari, ia menunggu waktu istirahat tanpa terlihat gelisah.
Menjelang sore, seorang penjaga memanggilnya ke gudang kecil dekat dapur. "Ada kerabatmu menunggu di luar pagar belakang. Katanya hanya sebentar."
Ayana tahu Hangyul menggunakan alasan yang sama seperti sebelumnya. Ia mengikuti penjaga itu dengan langkah terkendali. Di balik pagar, Hangyul berdiri membawa bungkusan yang dibungkus kain.
"Kau datang," kata Ayana pelan.
"Aku sudah berjanji akan memastikan keadaanmu." Hangyul melirik penjaga yang masih berdiri tidak jauh. "Kita bicara sebentar saja. Jangan sampai ada yang curiga."
Ayana mengangguk. Ia ingin segera menceritakan semuanya, tetapi menunggu sampai penjaga berpaling untuk memeriksa gerbang.
"Aku sekarang ditugaskan membersihkan kamar Seungwoo," bisiknya. "Rasa kramku berkurang saat aku berada di dekat kamarnya."
Hangyul tampak lega, tetapi tidak sampai tersenyum lebar. "Itu pertanda Baby Wulf mungkin merasakan kehadiran ayahnya. Namun jangan menganggapnya jaminan. Kita tetap harus memantau keadaanmu."
"Aku tahu. Aku hanya merasa sedikit lebih tenang."
Hangyul menyerahkan bungkusan itu. "Steak setengah matang. Kau bilang akhir-akhir ini sulit makan. Mudah-mudahan ini bisa membantu."
Ayana membuka sedikit kainnya dan mencium aroma daging. Perutnya yang sejak tadi terasa kosong memberi respons. "Kau membawa ini jauh-jauh?"
"Jangan banyak tanya. Makanlah selagi hangat."
Ayana menahan senyum. "Terima kasih, Gyul."
Hangyul mengamati wajahnya. "Apa ada yang mencurigaimu?"
"Belum ada yang bertanya macam-macam. Hanya Kirao yang tidak senang aku mendapat tugas itu."
"Jangan sendirian dengan Kirao, dan jangan berhenti minum ramuan sesuai petunjuk Jungwoo. Kalau Seungwoo bertanya tentang aromamu, jawab seperlunya. Jangan panik."
Ayana mengangguk. Ia paham bahwa berada dekat kamar Seungwoo bukan berarti ia aman. Setiap hari di istana tetap penuh risiko.
Penjaga kembali mendekat. Hangyul segera mundur selangkah dan menaikkan suara. "Aya, aku pamit dulu. Semoga tugasmu lancar."
Ayana membalas dengan anggukan seolah-olah mereka hanya kerabat yang bertemu sebentar. Setelah Hangyul pergi, ia menyimpan bungkusan itu dan kembali ke kamar pelayan.
***
Ayana menunggu sampai kamar pelayan sepi sebelum membuka bungkusan dari Hangyul. Steak setengah matang itu masih hangat. Ia duduk di tepi ranjang dan memakannya sedikit demi sedikit, memastikan tubuhnya tidak menolak makanan tersebut.
Rasa gurihnya membuat Ayana teringat pada malam-malam sederhana di kota Taewan. Dahulu, Hangyul sering mampir ke toko rotinya untuk meminta roti hangat sebelum berangkat kuliah. Saat itu, hidup terasa lebih mudah. Ia belum tahu bahwa tetangganya sendiri manusia serigala, belum tahu bahwa dirinya mengandung Baby Wulf, dan belum harus menyembunyikan siapa dirinya di sebuah istana asing.
Ia meletakkan tangan di perut. "Ayahmu ada di dekat kita sekarang," bisiknya. "Aku belum tahu apakah dia akan mengingatku, tapi aku akan berusaha menjagamu."
Pintu kamar diketuk. Ayana buru-buru menutup bungkusan itu dan memasukkannya ke dalam laci.
"Aya, kau di dalam?" suara Miran terdengar dari luar.
"Ya. Ada apa?"
Miran membuka pintu sedikit. "Madam Ra Mi ingin semua pelayan baru berkumpul di ruang cuci. Ada pembagian jadwal untuk besok."
Ayana berdiri dan merapikan celemeknya. "Aku segera ke sana."
Sebelum keluar, ia memeriksa kembali laci tempat makanan itu disimpan. Ia tidak ingin ada orang menemukan jejak Hangyul. Miran menunggunya di lorong, lalu mereka berjalan bersama menuju ruang cuci.
Di sana, Madam Ra Mi membagikan jadwal. Ayana mendapat giliran membersihkan kamar raja pada pagi hari. Kirao berdiri di sisi meja dengan rahang mengeras.
"Kenapa Aya yang mendapat jadwal itu lagi?" tanyanya.
"Karena Raja meminta demikian," jawab Madam Ra Mi tegas. "Jadwal ini bukan bahan perdebatan."
Kirao menunduk, tetapi sorot matanya tetap tertuju pada Ayana. Ayana menahan diri agar tidak menunjukkan kecemasan. Ia tahu perselisihan itu belum selesai.
Setelah pembagian jadwal usai, Ayana kembali ke kamar. Tubuhnya terasa lebih ringan setelah makan, dan rasa kram belum kembali. Ia tidak menyimpulkan terlalu jauh. Hangyul sudah mengingatkannya bahwa keadaan itu belum menjadi jaminan keselamatan.
Namun, untuk pertama kalinya sejak masuk istana, Ayana merasakan harapan kecil. Ia kini memiliki tugas yang membawanya dekat dengan Seungwoo, seorang teman yang bersedia membantunya, dan alasan untuk terus bertahan.
Di sayap utama, Seungwoo menutup berkas yang sedang dibacanya. Ada aroma samar yang mengganggunya sejak pagi, tetapi ia belum mampu mengenali sumbernya. Ia memandang ke arah pintu kamar, lalu kembali pada pekerjaannya.
"Aya," gumamnya, mencoba mengingat nama pelayan yang disebut Madam Ra Mi.
Nama itu terasa asing. Namun entah mengapa, bunyinya tertinggal lebih lama daripada yang seharusnya.
***
Sejak Ayana mendapat tugas membersihkan kamar Raja, sikap Kirao berubah. Ia tetap tersenyum di depan Madam Ra Mi, tetapi selalu mencari kesempatan untuk mengingatkan Ayana bahwa pelayan baru seharusnya tidak mendapat perhatian khusus.
Pagi itu, Kirao menumpuk beberapa kain kotor di dekat ember Ayana.
"Sekalian bawa ini ke ruang cuci. Setelah itu, bersihkan halaman belakang," katanya.
Ayana melihat jadwal yang dipegangnya. Ia seharusnya menyiapkan perlengkapan kamar raja sebelum siang. "Aku harus menyelesaikan tugas yang diberikan Madam Ra Mi."
"Semua pelayan punya banyak pekerjaan. Jangan merasa tugasmu paling penting." Kirao mendorong kain-kain itu ke arahnya.
Ayana menahan jawabannya. Ia tidak ingin membuat keributan yang bisa membuatnya kehilangan tugas dekat kamar Seungwoo. Dengan hati-hati ia memindahkan kain itu ke keranjang, lalu mencari Madam Ra Mi setelah menyelesaikan pekerjaan mendesak.
Madam Ra Mi mendengarkan penjelasannya tanpa memotong. "Kirao tidak berhak mengubah jadwalmu sendiri. Mulai besok, kau akan mengikuti daftar tugas yang sudah ditetapkan. Jika ada perubahan, laporkan kepadaku."
"Baik, Madam."
"Jangan pula memaksakan diri. Wajahmu terlihat pucat."
Ayana menunduk, menyembunyikan kegelisahannya. "Saya hanya kurang tidur."
Madam Ra Mi tidak mendesak. Ia menyerahkan selembar jadwal baru dan memintanya beristirahat sejenak sebelum kembali bekerja.
Di lorong, Kirao melihat Ayana membawa jadwal itu. "Kau mengadu?"
"Aku hanya memastikan pekerjaan tidak tertukar."
Kirao mendengus. "Jangan kira kau akan terus dilindungi."
Ayana tidak membalas. Ia menyadari bahwa tugas barunya telah mengubah hubungan di antara para pelayan. Untuk menjaga rahasianya, ia harus bekerja dengan baik tanpa membiarkan Kirao mengatur langkahnya.
Malam itu, ia menyiapkan perlengkapan kamar raja sesuai jadwal. Sebelum tidur, ia memeriksa ramuan penyamaran aroma yang diberikan Jungwoo. Botolnya masih cukup, tetapi ia harus segera meminta persediaan berikutnya melalui Hangyul.