Sesampainya di perusahaan, kedatangan mobil Regina yang dikendarai oleh Rafif pun sambut seorang gadis cantik berdiri tepat di depan pintu masuk perusahaan. Tepat ketika mobil Regina berhenti gadis cantik itu berlari kecil ke arah pintu kemudi membuat Rafif menoleh ke arah sang kakak dengan bingung.
“Kak, lo enggak lagi janjian, ‘kan?” tanya Rafif sembari membuka sabuk pengaman bingung, sebab tepat bersekat pintu kemudi mobil lelaki itu nyaris berhadapan dengan seorang gadis asing yang tidak dikenalinya.
Regina menggeleng pelan, lalu menjawab sembari membenarkan make up sebelum benar-benar turun, “Itu Ningsih, sekretaris yang gue bilang kemarin. Dia bener-bener bekerja keras buat menyesuaikan diri sama gue yang biasanya ikut jam terbang di kota, jadi sedikit lebih cepat dibandingkan peru