“Hah …!”
Erangan panjang penuh emosi sembari merentangkan kedua tangan seiring dengan mulut menguap mengumpulkan rasa kantuk. Rafif menyandarkan tubuhnya lemas menatap layar lebar monitor komputer yang ada di hadapannya. Memperlihatkan seorang lelaki terduduk di kursi pengaman tanpa bergerak sama sekali.
Sudah dua jam Lizian dan Hafa melakukan interogasi yang cukup berbelit sekaligus mempersulit diri sendiri. Meskipun begitu, mereka hampir tidak menemukan kebenaran apa pun, sebelum akhirnya mendesak orang tersebut untuk mengaku. Bahkan Zyrach yang berada di samping Rafif tampak sangat gemas sampai tanpa sadar mengepalkan tangannya kuat seiring dengan bibir menipis menahan emosi.
“Menurut lo, kenapa dia begitu gigih?” tanya Lizian menoleh sesaat dan kembali menatap ke arah monitor yang t