Sebuah ruangan bernuansa putih tampak menyambut pandangan Hafa yan baru saja saja tersadar. Gadis yang mengenakan kaus biru dongker polos itu tampak terduduk mengitari sekeliling ruangan. Ia tidak bisa melihat siapa pun membuat Hafa mengembuskan napasnya panjang, lalu tersenyum miris.
Namun, saat gadis itu hendak meraih kemejanya yang tergantung sempurna di dekat lemari kecil, tiba-tiba pintu ruangan terbuka pelan. Menampilkan seorang lelaki yang baru saja datang membawa kantung kresek berwarna putih berisikan makanan.
“Fa, lo udah sadar?” tanya Lizian bergegas menghampiri gadis tersebut dan memegang kepalanya yang sudah tidak lagi hangat, lalu mengecek aliran infus masih tetap normal.
“Gue baik-baik aja. Lo jangan terlalu khawatir,” jawab Hafa tertawa pelan melihat ekspresi Lizian yang