Seorang lelaki tampan termenung menatap layar komputer mati yang berada di hadapannya. Sudah semalaman suntuk Lizian termenung tanpa melakukan apa pun membuat Hafa yang berada di sampingnya mengembuskan napas panjang. Lelaki itu benar-benar bertingkah aneh sejak kembali dari pabrik yang terlihat seperti sebuah lab penelitian. Namun, sayang sekali mereka tidak mendapatkan apa pun, selain sisa-sisa kegiatan yang seakan ditinggalkan begitu saja.
“Zian, mau sampai kapan lo seperti itu?” celetuk Hafa mendengkus kesal.
“Gue cuma penasaran aja, kenapa dari sekian banyak sidik jari yang ditemukan. Hanya milik Rafif yang terdeteksi di sana. Apa dia benar-benar datang untuk melihat sesuatu?” ucap Lizian mengernyit bingung dengan mendongak menatap seorang gadis yang melangkah mendekat.
“Seperti ya