Ethan keluar dari fasilitas federal pada pagi yang cerah di akhir musim panas, membawa satu tas kanvas berisi pakaian, beberapa buku, dan kotak kecil dari kayu kenari.
Silas menunggunya di tempat parkir, bersandar pada sebuah mobil tua berwarna hijau tua yang jelas bukan Maybach. Ia tidak lagi memakai tongkat. Ia memakai kemeja lengan pendek bermotif kotak-kotak yang tidak akan pernah ia pakai di masa lalu, dan ia tampak sepuluh tahun lebih muda dan sepuluh tahun lebih tua sekaligus.
"Kau terlambat lima menit," kata Silas.
"Petugasnya ingin bersalaman."
"Semua orang selalu ingin bersalaman denganmu sekarang. Kau tahu itu menjengkelkan?"
Ethan memeluknya. Silas kaku sesaat, lalu menepuk punggung Ethan dua kali, seperti tentara, lalu sekali lagi, lebih pelan, seperti bukan tentara.
Mereka berkendara melintasi River City dengan jendela terbuka. Kota itu masih kota yang sama. Masih ada neon di distrik pusat, masih ada gedung kaca yang terlalu tinggi dan gang-gang yang terlalu gelap. Tetapi di papan reklame dekat jembatan, tempat dulu wajah Julian Crawford II tersenyum di samping logo Hesperus, kini terpasang iklan Rumah Sakit Veteran River City, dengan gambar seorang pria tua yang berdiri dari kursi roda sambil berpegangan pada palang.
Silas melihat Ethan memandanginya. "Dana yang kau kirim dari rekening Julian. Mereka membangun sayap rehabilitasi baru. Elena bilang antreannya sudah enam bulan."
Mobil berbelok ke distrik Thorne lama. Ethan merasakan dadanya mengencang sebelum ia sempat bersiap.
Tempat rongsokan itu sudah tidak ada.
Gunungan besi karat, mobil-mobil penyok, dan sisa-sisa C-130 yang dulu ia jatuhkan di atas tanah ini, semuanya sudah diangkut. Yang tersisa adalah hamparan tanah cokelat yang baru diratakan, dengan rumput liar yang mulai tumbuh di pinggirnya. Gerbang batu yang hangus masih berdiri, satu-satunya bagian yang tidak diangkut, karena Ethan meminta lewat surat dari fasilitas federal agar gerbang itu dibiarkan.
Di dekat gerbang ada sebuah rumah kayu kecil yang baru selesai dibangun, berlantai satu, dengan teras lebar dan jendela-jendela besar. Di sebelahnya, sebuah pondok yang lebih kecil lagi.
"Pondok itu punyaku," kata Silas. "Aku sudah membayar uang sewanya padamu untuk tiga bulan ke depan. Jangan menolak. Aku tidak suka berutang."
"Kau tidak pernah berutang padaku."
"Itu menurutmu."
Elena berdiri di ujung tanah itu, di tempat yang dulu menjadi taman mawar ibu Ethan. Ia mengenakan celana kerja yang berlumpur di bagian lutut dan sarung tangan berkebun. Di sekelilingnya, deretan semak mawar muda baru ditanam, masih kecil, masih diikat ke tiang-tiang bambu.
Ia melepas sarung tangannya ketika Ethan mendekat.
"Aku tidak tahu jenis mawar yang ditanam ibumu," katanya. "Jadi aku bertanya ke tetangga-tetangga lama. Ada seorang nenek di ujung jalan yang masih ingat. Katanya putih, dengan pinggiran merah muda. Ibumu memberinya stek setiap musim semi." Ia menunjuk deretan paling depan. "Itu dari stek nenek itu. Dari tanaman ibumu."
Ethan berlutut di depan semak-semak itu. Daunnya kecil dan hijau terang. Belum ada bunganya.
Ia tidak bisa bicara untuk beberapa saat.
"Kerja sosialku selesai bulan lalu," kata Elena, duduk di rumput di sampingnya. "Aku masih ke rumah sakit tiga hari seminggu. Mereka membayarku sekarang. Tidak banyak. Cukup untuk menyewa kamar di atas toko roti di Eastside." Ia diam sejenak. "Itu pertama kalinya aku punya uang yang tidak berasal dari ayahku."
"Bagaimana rasanya?"
Elena tersenyum, karena itu pertanyaan yang sama yang selalu mereka ajukan satu sama lain.
"Kecil," katanya. "Dan milikku."
Di dekat gerbang batu, di tempat yang dulu menjadi pintu depan rumah besar bergaya Victoria, berdiri sebuah batu peringatan sederhana dari granit kelabu. Ethan memesannya dari fasilitas federal, lewat Silas, dan ini pertama kalinya ia melihatnya. Di permukaannya terukir dua nama, Arthur Thorne dan istrinya, dua tanggal lahir, dan satu tanggal kematian yang sama.
Di bawahnya, satu baris yang Ethan tulis sendiri.
Mereka membantu orang lain berjalan.
Ia berdiri di depan batu itu lama. Silas dan Elena tetap di belakangnya, memberi jarak.
Lalu Ethan merogoh saku dalam jaketnya dan mengeluarkan salah satu liontin perak, kembaran yang ia rebut di malam lelang dari panggung Julian Crawford. Logamnya hangus di satu sisi, persis seperti yang satu lagi. Ia memegangnya di telapak tangan, merasakan beratnya, yang tidak pernah lebih dari beberapa gram dan tidak pernah sekali pun terasa ringan.
Ia meletakkannya di atas batu peringatan, di dalam ceruk kecil yang ia minta dibuat di bawah ukiran nama ibunya. Liontin itu pas, seperti sudah lama menunggu.
Yang satu lagi tetap di lehernya, di balik kemeja, tempatnya sejak malam di jembatan yang menghadap kota.
"Ayah, Ibu," katanya pelan. "Hutangnya sudah dibayar."
Angin bergerak di antara semak mawar muda dan membawa bau tanah basah, bukan bau besi atau asap. Untuk pertama kalinya dalam sebelas tahun, tanah ini berbau seperti tanah.
Ethan berbalik. Silas sudah berjalan ke pondoknya, berpura-pura tidak sedang mengusap mata. Elena masih berdiri di tempatnya, menunggu.
"Kau akan tinggal?" tanyanya.
"Aku akan tinggal," kata Ethan. "Ada rak buku yang harus kubuat untuk rumah itu. Dan bangku untuk teras. Dan seseorang harus menyiram mawar-mawar itu kalau kau bekerja."
"Aku bisa datang hari Sabtu."
"Datanglah hari Sabtu."
Elena tersenyum. Ia menyelipkan tangannya ke lengan Ethan, ringan, tanpa menarik, dan mereka berjalan bersama menuju rumah kayu kecil di dekat gerbang batu, tempat Silas sudah berdiri di ambang pondoknya dan berteriak bahwa makan siang akan dingin kalau mereka terlalu lama bersikap puitis.
Malam itu mereka makan bertiga di teras yang belum punya bangku, duduk di atas peti kayu, di bawah lampu gantung yang berayun pelan. Di kejauhan, neon River City berkedip seperti biasa. Kota itu masih punya banyak dosa. Tetapi beberapa di antaranya sudah dibawa ke ruang sidang, dibacakan dengan suara keras, dan dihukum dengan nama-nama yang benar.
Ethan menatap gelap di arah taman mawar, tempat semak-semak muda itu tidak terlihat lagi tetapi ia tahu sedang tumbuh.
Hutang darah telah dibayar. Bukan dengan darah. Dengan kebenaran, yang ternyata jauh lebih berat untuk dibawa dan jauh lebih sulit untuk dikubur.
Ethan Thorne sudah pulang.
TAMAT