Fasilitas tahanan federal itu berdiri di luar kota, di tengah padang rumput yang dipotong rapi dan dikelilingi pagar yang tidak perlu terlihat mengancam karena semua orang tahu fungsinya. Ethan diantar masuk lewat pintu samping, melewati empat pemeriksaan, dan akhirnya duduk di sebuah ruangan kecil bercat krem dengan meja logam dan selembar kaca tebal yang membelahnya menjadi dua.
Seorang petugas Kepala Pertahanan berdiri di sudut ruangan, tangan terlipat di depan, wajahnya dibuat sedatar dinding.
Mereka membawa Volkov sepuluh menit kemudian.
Ia lebih kurus. Itu hal pertama yang Ethan lihat. Setelan biru tua telah diganti seragam tahanan berwarna jingga pudar, dan pergelangan tangan kanannya masih terbungkus penyangga hitam. Rambutnya yang dulu disisir rapi kini dipotong pendek, memperlihatkan kulit kepala yang pucat. Tetapi matanya tidak berubah. Masih menghitung. Masih dingin.
Ia duduk perlahan di seberang kaca, mengangkat gagang telepon dengan tangan kiri, dan menunggu Ethan melakukan hal yang sama.
"Nak," katanya. "Kau terlihat lebih tua."
"Kau terlihat lebih kecil."
Volkov tersenyum. "Pengacaraku akan sangat marah ketika tahu aku menerima tamu tanpa kehadirannya."
"Pengacaramu dibayar yayasan di Zurich," kata Ethan. "Kau tahu siapa pemilik yayasan itu?"
Senyum Volkov tidak goyah, tetapi ada jeda setengah detik sebelum ia menjawab. "Teman-teman lama."
"Teman-teman lamamu muncul di televisi dua hari lalu." Ethan mengeluarkan ponsel dari sakunya, ponsel yang sudah diperiksa dan disetujui petugas di pintu, dan menempelkan layarnya ke kaca. Rekaman pernyataan Julian Crawford II diputar tanpa suara. Lalu Ethan menyalakan suaranya, sedikit, cukup untuk terdengar lewat gagang telepon.
"... seorang mantan pejabat negara, Victor Volkov, selama bertahun-tahun menyalahgunakan nama dan dana perusahaan..."
Volkov menonton sampai habis. Ia tidak berkedip. Ketika layar menjadi gelap, ia meletakkan gagang telepon di meja sebentar, menatap kaca, lalu mengangkatnya lagi.
"Julian yang kedua," katanya. "Selalu ingin menjadi kakaknya. Sekarang ia mendapatkan kesempatannya."
"Mereka menjadikanmu tempat sampah untuk semuanya," kata Ethan. "Tungku proyek pribadimu. Dana itu kau curi. Dewan direksi tidak tahu apa-apa. Dan kau duduk di sini dan diam, sementara orang yang membayar pengacaramu memastikan kau tetap diam."
"Kau datang jauh-jauh untuk menunjukkan berita?"
"Aku datang untuk memberitahumu sesuatu yang tidak akan diberitahukan pengacaramu." Ethan mencondongkan badan sedikit. "Thomas Sterling ditahan di sel seperti ini. Pengacaranya juga dibayar teman-teman lama. Ia tidak pernah sampai ke ruang sidang. Pembersih masuk ke selnya, dan besoknya laporan menyebut serangan jantung."
Volkov diam.
"Orang yang melakukannya duduk di gedung lain, dua puluh mil dari sini, sedang menawar perlindungan dengan menyebut nama-nama," lanjut Ethan. "Ia ditangkap di gurun. Ia bisa saja membakar dirinya bersama arsip Tungku. Ia memilih tidak. Kau tahu kenapa?"
"Uskup tidak pernah memberitahuku apa pun yang tidak perlu kuketahui."
"Karena ia tahu persis apa yang terjadi pada orang yang gagal bagi Hesperus. Ia yang melakukannya. Dan ia memilih duduk di sel negara, karena itu satu-satunya tempat di dunia yang tidak bisa dimasuki orang-orangnya sendiri." Ethan berhenti. "Kau tidak punya kemewahan itu, Victor. Selama kau diam, kau berguna bagi mereka. Hari kau berhenti berguna, atau hari sidangmu mulai terlihat buruk, seseorang akan berkunjung. Mungkin pengacaramu sendiri yang membawakan kabar."
Untuk pertama kalinya, Volkov memalingkan wajah. Ia menatap dinding krem di sebelah kaca, dan Ethan melihat rahangnya bergerak, seperti orang yang mengunyah sesuatu yang pahit.
"Kau mengancamku," kata Volkov akhirnya.
"Aku tidak perlu mengancammu. Aku hanya memberitahumu apa yang kau sendiri ajarkan pada mereka."
Hening panjang. Petugas di sudut ruangan tidak bergerak.
"Ayahmu," kata Volkov tiba-tiba, dengan suara yang berbeda, lebih pelan. "Tahun pertama kuliah, kami tinggal di kamar yang sama. Kamarnya kecil sekali. Ia selalu bangun lebih pagi dariku untuk membaca, dan ia membaca dengan bersuara, berbisik, karena katanya otaknya tidak percaya pada mata. Aku membencinya karena itu." Ia tertawa kecil. "Aku membencinya karena banyak hal. Ia tidak pernah perlu berusaha untuk disukai. Orang hanya menyukainya."
Ethan tidak menjawab. Tangannya di atas meja tetap terbuka.
"Ketika ia menunjukkan risetnya padaku, aku melihat sesuatu yang tidak ia lihat," lanjut Volkov. "Ia melihat orang lumpuh berjalan. Aku melihat orang yang berjalan ke mana pun diperintah. Ia bilang aku sakit. Ia bilang ia akan melaporkanku." Volkov menatap Ethan lagi. "Ia memberiku kesempatan untuk mundur. Kau tahu itu? Satu kesempatan. Ia tidak mengerti bahwa pria seperti aku tidak mundur. Kami membeli orang yang tidak akan mundur bersama kami."
"Dan kau membeli Dewan Lima."
"Mereka sudah dijual jauh sebelum aku datang. Aku hanya membayar harganya." Volkov meletakkan tangan kirinya di atas penyangga pergelangan tangan kanan, gerakan yang hampir tidak disadarinya. "Memo itu. Penyelesaian Aset Thorne. Kau sudah melihatnya?"
"Aku melihatnya di gurun."
"Huruf V di bawahnya milikku." Volkov berkata begitu tanpa nada, seperti membaca angka di kuitansi. "Tetapi aku tidak menulis memo itu. Memo itu datang kepadaku sudah diketik. Dari atas. Aku hanya menandatangani dan menyerahkan pelaksanaannya kepada Julian. Begitulah cara Hesperus bekerja. Mereka tidak pernah memegang korek api. Mereka menulis memo yang membuat orang lain memegangnya."
"Siapa yang mengetik memo itu?"
Volkov tersenyum, dan kali ini senyumnya tidak sepenuhnya mengejek. "Itu kalimat yang harganya sangat mahal, Nak. Lebih mahal dari satu jam di ruangan ini."
"Kalau begitu jual kepada orang yang bisa membayar," kata Ethan. "Bukan kepadaku. Kepada negara. Di ruang sidang. Dengan perlindungan."
"Dan sesudah itu? Kau ingin aku dimaafkan?"
"Tidak," jawab Ethan. "Aku ingin kau hidup cukup lama untuk dihukum dengan benar. Kau berutang pada ayahku satu hal yang tidak pernah kau berikan padanya. Kebenaran. Di depan orang-orang yang bisa mendengarnya."
Volkov menatapnya lama sekali. Lalu matanya bergeser ke petugas di sudut ruangan.
"Kau," katanya kepada petugas itu, tanpa gagang telepon, suaranya teredam kaca tetapi cukup jelas. "Kau orang Kepala Pertahanan?"
Petugas itu mengangguk sekali.
Volkov kembali kepada telepon. "Mulai hari ini, aku tidak memerlukan pengacara dari Zurich. Katakan pada atasanmu, Nak, aku ingin pengacara yang dibayar negara. Dan aku ingin dipindahkan dari blok ini sebelum orang Zurich itu tahu aku memecatnya."
"Kau akan bersaksi?"
"Aku akan bicara tentang memo itu, tentang siapa yang mengirimkannya, dan tentang uang yang membiayai Tungku. Aku tidak akan bicara tentang hal-hal lain." Volkov menurunkan suaranya. "Jangan salah paham. Aku tidak melakukannya untukmu. Aku tidak melakukannya untuk ayahmu. Aku melakukannya karena aku tidak mau mati di sel seperti Sterling, sementara Julian kecil itu tersenyum di televisi."
"Aku tidak peduli kenapa," kata Ethan. "Aku hanya peduli kau melakukannya."
Ia meletakkan gagang telepon. Volkov tetap duduk sebentar, menatapnya melalui kaca, lalu berdiri ketika penjaga datang dan berjalan keluar dengan langkah seorang pria tua yang akhirnya merasakan berat tubuhnya.
Di luar, hujan sudah berhenti. Ethan berdiri di tempat parkir dan menarik napas panjang, dan rusuknya tidak lagi memprotes.
Ponselnya bergetar. Pesan dari Kepala Pertahanan, satu baris.
Pengacara Zurich baru saja dipecat. Apa yang Anda katakan padanya?
Ethan mengetik balasan.
Hanya kebenaran.