Sabtu, mereka tiba di penginapan dekat pantai setelah perjalanan yang diselingi satu pemberhentian terlalu lama karena Devon salah memperkirakan antrean. Davina menertawakannya ketika makanan akhirnya dibawa ke mobil. Suaminya membela pilihannya sampai istrinya mencoba dan mengangguk, lalu meminta bagian lebih banyak. Mereka melanjutkan dengan musik yang dipilih bergantian, tanpa menghitung ketidaktepatan kecil sebagai tanda liburan akan gagal.
Kamar yang diterima lebih sederhana daripada vila perjalanan pertama. Ada jendela menghadap arah laut, tempat duduk yang cukup untuk dua orang dan ruang untuk menyimpan tas tanpa meletakkannya pada ranjang. Davina membuka jendela sebentar, mendengar suara dari luar lalu tersenyum. Devon datang di sampingnya, menanyakan apakah ingin makan dahulu atau berjalan setelah barang selesai ditaruh.
'Aku ingin duduk beberapa menit,' jawabnya. 'Tidak melakukan apa-apa.'
'Aku bisa ikut tidak melakukan apa-apa.'
Mereka tertawa dan duduk. Davina mengirim kabar tiba kepada Mama serta Em, Devon memberi tahu ibunya lalu menyimpan perangkat. Ia memperhatikan suami yang akhirnya melepaskan sepatu, tampak lega tidak ada tempat lain yang perlu dicapai hari itu. Davina meraih tangannya sebentar, kemudian melepas untuk mengambil minum. Kebersamaan tidak harus selalu ditahan dalam satu gerakan agar dapat tetap dirasakan.
Menjelang sore, ia berganti pada pakaian renang yang dibawa dan mengenakan penutup sesuai kenyamanan. Ia sempat melihat pantulan sendiri, mengingat masa ketika pandangan Devon membuat ia ingin melawan atau menyiapkan cara membalas. Suaminya kini menoleh, tersenyum dan mengatakan ia cantik. Davina menerima pujian itu dengan wajah sedikit hangat, lalu mengambil barang yang ingin dibawa ke pantai.
Mereka berjalan pada bagian yang boleh digunakan pengunjung, menaruh barang lalu mendekati air. Davina berhenti ketika ombak menyentuh kaki, tertawa karena lebih dingin daripada perkiraan. Devon berdiri di sisinya, membiarkan ia memilih seberapa jauh ingin masuk. Ketika ia mengulurkan tangan, suaminya menggenggam dan berjalan bersamanya sampai keduanya berhenti pada tempat yang dirasa cukup.
Untuk beberapa lama, mereka menikmati air tanpa banyak bicara. Davina membasahi tangan lalu memercik sedikit ke arah Devon, segera menyesal ketika pria itu membalas pada sisi yang membuatnya terkejut. Ia tertawa, menuduhnya terlalu serius pada permainan yang dimulai kecil. Devon mengangkat tangan menyerah dan mundur ketika istrinya ingin kembali mengambil handuk. Ia tidak mengubah keinginannya berhenti menjadi tantangan yang harus dimenangkan.
Davina duduk mengeringkan diri, menatap laut serta beberapa orang yang berjalan di kejauhan. Ia tahu tempat yang berbeda tidak membuat ingatan pulau hilang. Ada ucapan serta perbuatan yang tetap menjadi bagian sejarah mereka. Namun, sore itu ia juga dapat merasakan dingin air, panas pada pasir dan keinginan duduk dekat suami sebagai kejadian yang benar miliknya. Ia tidak sedang mengulang sesuatu agar akhirnya memberi jawaban yang diinginkan orang lain.
Devon datang membawa minuman yang dipilih, duduk dan mengaku ia lapar lagi meski baru beberapa waktu sejak pemberhentian jalan. Davina tertawa, menunjukkan bungkusan yang masih tersisa. Mereka membagi dengan protes kecil mengenai bagian yang paling banyak, kemudian menghabiskan sambil melihat warna langit berubah. Tidak ada makan malam kejutan yang memerlukan ia segera tersentuh agar hari dapat dianggap indah.
'Aku senang kita datang,' katanya.
'Aku juga. Meski camilanku hampir habis sebelum duduk di sini.'
'Itu sudah menjadi risiko yang seharusnya kamu pahami.'
Devon tertawa, meraih tangannya yang diletakkan pada kursi. Davina menoleh dan memandang wajah pria yang dahulu dipikir tidak mungkin akan menjadi tempat ia pulang dengan keinginan sendiri. Ia tidak melihat orang yang selalu tahu cara benar menghadapi rasa takut atau kecewa. Ia melihat suami yang kini dapat mengakuinya, menerima teguran dan mengerjakan perubahan tanpa meminta dirinya melupakan.
'Aku mencintaimu,' kata Devon.
'Aku juga mencintaimu.'
Kalimat itu tidak lagi terdengar seperti sesuatu yang harus diperoleh dengan memenangkan permainan panjang. Davina telah mengatakannya pada hari kerja, di depan orangtua serta ketika keduanya belum sependapat. Ia ingin tetap dapat mengucapkan dalam keadaan biasa, tanpa seluruh keluarga atau perusahaan harus membuat alasan mengapa mereka semestinya bertahan. Ia mendekat dan mencium suami, lalu tertawa pelan ketika Devon hampir menjatuhkan gelas karena berusaha menyambut terlalu cepat.
Mereka membereskan barang sebelum cahaya terlalu redup untuk berjalan nyaman. Devon menanyakan apakah ingin foto bersama dan Davina menyetujui. Seorang pengunjung membantu mengambil, menunggu keduanya berdiri dengan handuk serta pakaian yang sudah tidak serapi ketika keluar kamar. Pada hasilnya, rambut Davina sedikit tertiup dan Devon tertawa pada sesuatu yang tidak lagi diingat kalimatnya. Ia menyukai gambar itu lalu menyimpan, tidak mengirim kepada siapa pun sebelum sempat menikmatinya sendiri.
Malamnya mereka makan pada tempat dekat penginapan. Devon sempat hendak memesan terlalu banyak, lalu bertanya kepada istrinya dan mengubah jumlah. Davina memilih satu hidangan yang belum dicoba, menerima bahwa hasilnya mungkin tidak sepenuhnya sesuai harapan. Mereka tidak perlu mengetahui semua lebih dahulu untuk menikmati yang dipilih. Ketika makanan datang, keduanya mendekatkan piring dan mencicipi bergantian.
Setelah kembali, Davina membuka jendela sebentar sebelum bersiap tidur. Ada hari esok untuk berjalan lagi, lalu rumah serta pekerjaan yang akan diteruskan bersama orang-orang yang mempunyai tugas. Ia tidak merasa perlu memeriksa salinan perjanjian agar dapat berbaring tenang. Keputusan tinggal bersama telah disebut sebagai pilihannya, dan kehangatan yang menunggu di ranjang tidak meminta ia kehilangan pilihan itu untuk dapat mendekat.
Devon menarik sedikit selimut pada sisinya lalu bertanya apakah terlalu dingin. Davina menggeleng, mendekat dan meletakkan kepala pada bahunya. Mereka bercakap pelan sampai kata-kata menjadi tidak perlu. Sebelum tidur, ia mengingatkan sarapan jangan dilewatkan hanya karena suaminya ingin berjalan terlalu pagi. Devon tertawa, mengatakan kali ini ia akan menunggu ia bangun.
Pagi berikutnya, Davina membuka mata ketika cahaya mulai memenuhi kamar. Devon sudah terjaga, membaca beberapa halaman buku yang dibawa lalu menutup ketika ia bergerak. Ia mengulurkan tangan dan Davina menerimanya, bangun perlahan untuk melihat laut dari jendela. Setelah beberapa menit mereka bersiap, menertawakan handuk yang belum kering serta satu sandal yang terselip di bawah tas.
'Ikut aku?' tanya Devon di depan pintu.
'Iya,' jawab Davina, menggenggam tangannya. 'Tapi sarapan dulu.'
Devon tertawa dan berjalan di sisinya. Davina menahan langkah sebentar untuk mengambil benda yang hampir tertinggal, lalu kembali menggandeng suami. Mereka turun menuju meja makan dengan rencana yang dapat diubah berdua, suara laut terdengar dekat dan waktu yang ingin mereka jalani bersama.
TAMAT