Kamis sore, Davina membaca pesan Devon mengenai meja restoran pukul tujuh. Ia pernah menyebut ingin mencoba tempat itu, dan suaminya melihat kalender bersama tampak kosong. Sesaat ia tersenyum, lalu mengingat pertemuan peninjauan laporan pukul setengah tujuh yang baru diterima kemarin. Ia membuka kalender, menemukan dirinya belum memasukkan perubahan. Rasa kecewa langsung datang bersama kelelahan setelah beberapa hari mengurus akibat perubahan proyek.
Ia menelepon, mengatakan tidak dapat hadir. Devon terdiam sebentar sebelum menjawab akan membatalkan. Davina mendengar nada kecewa dan langsung merasa perlu mempertahankan jadwalnya. Ia hampir menuduh suami kembali membuat rencana atas namanya, lalu melihat undangan yang belum disalin. Bagian itu tidak dapat diperbaiki dengan menjelaskan mengapa pekerjaannya penting, seolah Devon sengaja memilih jam yang sudah diketahuinya terisi.
'Aku lupa memperbarui kalender,' katanya. 'Aku minta maaf. Tapi lain kali tanyakan dulu sebelum reservasi, ya.'
'Aku ingin membuat kejutan. Aku juga seharusnya memastikan kamu bisa.'
Davina menghela napas. Ia masih ingin pergi, justru karena itulah pembatalan terasa menyebalkan. Devon mengatakan ia merindukan malam yang tidak diisi rapat, lalu menambahkan bukan berarti Davina harus meninggalkan pekerjaan. Istrinya sempat merasa kalimat itu menambah beban, kemudian menyadari ia sedang mendengar rasa bersalahnya sendiri lebih keras daripada yang benar diucapkan suami.
'Kamu boleh kecewa,' katanya. 'Aku juga. Aku tidak ingin kita jadi bertengkar tentang siapa lebih ingin pergi.'
'Aku tidak sedang membandingkan. Aku cuma sayang sudah membayangkan kita makan di sana.'
Davina diam sejenak, kemudian meminta maaf karena hampir membuatnya terdengar seperti menuntut. Mereka memilih membatalkan meja dan mencari waktu baru setelah pertemuan. Devon mengurus reservasi yang dibuatnya. Davina memasukkan jadwal yang terlupa, lalu mengirim waktu yang benar tersedia pada akhir pekan. Ia tidak ingin membiarkan bagian kesalahannya selesai hanya dengan menyuruh suami bertanya lebih hati-hati.
Pertemuan malam meninjau bahan penilaian awal penguatan dari Rabu. Satu laporan belum dilampirkan pada berkas bersama, meski pembahasannya telah dilakukan. Dokumen diminta kepada tim sebelum pemeriksaan akhir berikut, sehingga tidak tercampur dengan bukti pekerjaan yang memang belum selesai. Davina menyimak sampai bagiannya ditutup, kemudian memberi kabar pulang lebih lambat dari perkiraan. Ia telah makan bersama tim dan tidak meminta Devon menunggu tanpa kepastian.
Ketika tiba, suaminya sedang menyimpan gelas di dapur. Davina datang mendekat, memeluk dari samping setelah ia selesai membawa barang. Ia mengatakan rapat melelahkan dan menanyakan apakah biaya pembatalan harus dibayar. Devon menjawab tidak ada, tetapi restoran meminta kabar lebih awal bila rencana berikut berubah. Istrinya mengangguk, merasa lega lalu malu karena sebelumnya sempat sibuk memikirkan rasa kesal sendiri.
'Aku tidak marah kamu mengajakku,' katanya. 'Aku senang kamu ingat tempat yang kusebut.'
'Aku juga tidak marah kamu punya rapat. Aku cuma ingin waktunya benar kosong untuk kita.'
Davina tersenyum dan mencium pipinya. Mereka membuka kalender bersama, menemukan Sabtu malam dapat dipakai. Kali ini Devon menanyakan jam, Davina memilih sesudah memperhitungkan perjalanan dan suaminya memesan. Tidak perlu pilihan batal ditawarkan berkali-kali untuk membuat ajakan terasa aman. Ia sudah mengatakan ingin, dan keduanya dapat mempercayai jawaban itu sambil tetap memberi kabar bila keadaan berubah.
Jumat, laporan awal yang diminta sudah masuk, sementara bahan penguatan tiba untuk diperiksa sebelum dipasang. Davina menerima kabar singkat dan meneruskannya kepada penasihat sesuai tugasnya. Pekerjaan teknis belum selesai dan dana kedua masih menunggu bukti. Ia tidak menyebut urusan pemeriksaan sudah beres hanya karena satu lampiran akhirnya ditemukan. Sesudah tugasnya selesai, ia mengerjakan latihan untuk kelas berikut pada waktu yang memang masih tersedia.
Sabtu, mereka bersiap pergi tanpa tergesa. Devon menanyakan apakah kemejanya terlalu resmi, dan Davina mengatakan ia tidak sedang menghadiri rapat investor. Pria itu menunjuk pakaian istrinya yang tampak lebih rapi daripada biasanya, menuduhnya membuat standar berbeda. Davina tertawa, merapikan kerahnya lalu mengatakan ia menyukai yang dipilih. Suaminya tersenyum dan mengambil kunci.
Di restoran, mereka mendapat meja pada bagian yang tidak terlalu ramai. Davina membaca menu lama karena beberapa pilihan terdengar menarik, lalu Devon mengingatkan alasan awal ia ingin mencoba tempat itu. Ia menepuk dahi, tertawa karena telah melupakan hidangan yang dahulu dilihat. Mereka memesan dan membicarakan bagaimana mudahnya sesuatu yang diinginkan berubah menjadi daftar lain ketika terlalu banyak pilihan diberikan.
'Yang ini bukan salah kalender,' kata Devon.
'Aku belum menyalahkan siapa pun.'
Mereka tertawa. Makan malam terasa ringan setelah percakapan Kamis tidak lagi dibawa sebagai utang. Davina bertanya mengenai persiapan menu rumit yang pernah ingin dicoba suami. Devon mengaku belum membaca semua bahan, tetapi kali ini belum mengundang siapa pun untuk mencicipi. Ia mengatakan ia belajar tidak menjanjikan hasil sebelum mengetahui waktu yang diperlukan. Istrinya tersenyum, menyodorkan bagian makanannya yang ingin dibagi.
Pelayan datang menanyakan hidangan dan Devon sempat menjawab terlalu panjang tentang bahan yang ingin dicoba memasak sendiri. Davina melihat wajah orang itu yang hanya membutuhkan jawaban apakah makanan sesuai, lalu tertawa setelah ia pergi. Suaminya mengakui ia terlalu bersemangat. Ia kemudian menanyakan bagian yang paling disukai istrinya, sungguh menunggu pendapat yang berbeda dari ceritanya sendiri. Davina menunjuk piring yang hampir habis, mengatakan jawabannya mungkin sudah cukup jelas dari awal.
Seusai makan, mereka berjalan sebentar. Davina mengulurkan tangan dan Devon menggenggam tanpa menanyakan ulang jawaban yang sudah jelas dari geraknya. Ia mengatakan ingin malam seperti itu lagi, lalu menambahkan ia akan memastikan kalender tidak mengkhianati mereka. Suaminya tertawa, mengatakan yang memakai kalender tetap dua orang dengan ingatan yang kadang keliru.
Dalam perjalanan pulang, Davina bersandar pada kursi dan menikmati musik yang dipilih bersama. Ia tidak ingin setiap kesalahan dianggap bukti Devon tidak berubah atau dirinya selalu benar karena pernah disakiti. Yang lama tetap perlu ditanggung orang yang melakukannya. Yang terjadi sekarang dapat mereka nilai dengan jujur, termasuk bagian ketika ia sendiri lupa lalu hampir menjadikan rasa bersalah alasan untuk marah. Ia menyentuh lengan suami ketika mobil berhenti dan tersenyum saat pria itu menoleh.