Sabtu pagi, agen meneruskan kabar keran rumah sewa berbunyi saat ditutup. Teknisi garansi sudah menjadwalkan pemeriksaan dan penghuni menerima waktunya. Davina tidak menebak penyebab dari pesan atau meminta Devon datang membawa alat. Ia memastikan kontak serta garansi tersedia, lalu menyerahkan penanganan kepada orang yang akan memeriksa. Keluarga penyewa juga mengundang mereka singgah singkat pada siang hari, karena anaknya ingin memberikan gambar taman yang baru dibuat.
Davina memeriksa jadwal dan menerima bersama Devon. Mereka datang membawa salinan berkas yang memang diminta penghuni, tidak menambah daftar pemeriksaan ruangan. Rumah kini berisi perabot, beberapa kardus dan suara percakapan yang terdengar dari dapur. Ibu anak itu menyambut, menunjukkan tempat duduk sebelum memanggil putrinya. Davina merasa aneh sekaligus senang mendapati dirinya benar menjadi tamu.
Anak perempuan itu menunjukkan gambar dengan bunga jauh lebih besar daripada pot yang pernah dibawa. Devon menanyakan bunga mana yang sudah ditanam, lalu mendengar sebagian ternyata masih rencana. Ia tertawa ketika anak itu mengatakan halaman harus mempunyai semua warna yang ada pada pensil. Davina menerima gambar, berjanji menyimpan dan menanyakan apakah pembuatnya ingin nama ditulis pada bagian belakang.
Setelah beberapa cerita, mereka berpamitan sesuai waktu singkat yang dijanjikan. Mereka tidak meminta keluarga menyiapkan makan siang atau memperlihatkan lemari kamar yang belum ditata. Di mobil, Davina memandang gambar sebelum memasukkan pada map kecil agar tidak tertekuk. Rumah yang dahulu dipenuhi pertanyaan tentang kewajibannya kini dapat mengirim gambar bunga tanpa meminta ia mengubah tempat tinggal.
'Kamu tersenyum terus,' kata Devon.
'Aku senang. Dan aku ingin tahu bagaimana bunga bisa lebih tinggi daripada rumah.'
'Mungkin tanahnya sangat bagus.'
Davina tertawa, lalu mengajak suami berhenti di taman yang pernah dilihat tetapi belum didatangi. Devon memeriksa arah, sempat ingin memilih tempat makan yang sudah dikenal karena khawatir mereka tersesat. Istrinya mengatakan mereka tidak punya janji sesudahnya. Ia mengangguk, mengubah arah dengan petunjuk yang disepakati dan menerima bahwa tidak mengetahui semua jalan tidak akan merusak hari.
Mereka tiba ketika udara mulai panas. Davina membeli minuman dan memilih duduk sebentar pada tempat teduh sebelum berjalan. Devon menatap beberapa jalur yang terbagi, lalu mengusulkan satu. Ia mengikutinya, baru menyadari beberapa menit kemudian jalur tersebut kembali pada tempat yang hampir sama. Suaminya berhenti dengan wajah yang membuatnya langsung tertawa.
'Kamu yakin kita belum lewat sini?'
'Aku ingin mengatakan belum. Tapi aku mengenali bangku itu.'
Devon tertawa dan menghampiri petugas untuk bertanya. Davina menunggu sambil memotret daun yang jatuh di dekat kaki. Ia mengingat pria yang dahulu mempermalukannya untuk mendapatkan kendali pembicaraan. Sekarang ia melihatnya dapat mengaku salah jalan kepada orang yang tidak mengenal jabatan atau keluarganya. Hal kecil itu tidak menghapus yang pernah terjadi, tetapi membuat jalan bersama siang itu terasa lebih mudah.
Mereka menemukan bagian yang ingin dilihat setelah menerima petunjuk. Ada orang duduk membaca, beberapa pengunjung berbicara dan seorang anak memanggil orangtuanya dari dekat tanaman. Devon membelikan makanan kecil yang dapat dibagi. Davina mengambil bagian yang masih terlalu panas dan hampir menjatuhkan, membuat suaminya menahan wadah sambil tertawa. Ia memukul lengannya pelan setelah berhasil menaruh kembali.
'Jangan ketawa. Tadi kamu juga tidak tahu jalan.'
'Aku sudah bertanya. Kamu mau bertanya bagaimana menunggu makanan dingin?'
Davina mendengus, kemudian ikut tertawa. Mereka duduk lama, membicarakan hal yang ingin dikerjakan tanpa seluruhnya menjadi tugas. Devon ingin mencoba memasak satu menu yang selalu ditunda karena banyak persiapan. Davina ingin membaca buku yang sudah dibeli sebelum menambah tumpukan lain. Keduanya tidak langsung membuat daftar janji untuk diselesaikan pada minggu depan.
Ketika bangkit, Devon baru melihat bagian belakang bajunya terkena debu dari sandaran. Davina berusaha membersihkan, tetapi tangannya yang sedikit basah justru membuat noda tampak lebih jelas. Ia berhenti, menatap hasil dengan wajah bersalah. Suaminya tertawa dan mengatakan kali ini ia akan pulang dengan bukti benar pernah duduk santai. Davina ikut tertawa, lalu menyuruhnya tidak bersandar di mobil sebelum dibersihkan lebih baik.
Pada jeda, Davina menanyakan apakah ia ingin mengajak orang lain pada kegiatan berikut. Devon berpikir lalu mengatakan mungkin Hawa, kalau saudaranya menyukai tempat tersebut. Istrinya mengatakan ia ingin mengajak Em ketika waktunya sesuai. Tidak semua acara harus hanya berdua agar tetap terasa sebagai pasangan. Namun, hari itu ia senang suaminya datang dan tidak ingin waktu mereka dipersingkat oleh pesan yang tidak mendesak.
Sore menjelang pulang, Devon menunjukkan telepon yang sejak tadi disimpan. Ada beberapa pemberitahuan kantor, tidak ada panggilan yang memerlukan keputusan saat itu. Ia memeriksa singkat lalu memasukkan kembali. Davina tidak menyita atau menuntut ia melaporkan semua pesan. Ia mengatakan ingin membeli satu minuman lagi sebelum pergi, dan suaminya ikut mengantre sambil membela pilihan rasa yang tadi dianggap terlalu manis.
Malamnya mereka memasang gambar taman pada sisi meja dekat foto keluarga, setelah Davina memastikan tempat itu tidak membuatnya rusak. Devon menyarankan bingkai yang terlalu besar, dan istrinya mengatakan ia tidak perlu memperlakukan satu gambar seperti pameran pribadi. Pria itu menyerah memilih ukuran yang tersedia. Mereka mundur beberapa langkah untuk melihat, tertawa karena bunga yang lebih tinggi daripada rumah tampak semakin mencolok.
Senin, agen mengirim hasil pemeriksaan keran yang diselesaikan melalui garansi. Teknisi sudah menyesuaikan bagian yang diperlukan dan menguji bersama penghuni; tidak ada biaya diteruskan kepada mereka. Davina menerima laporan lalu menutup berkas rumah. Ia tidak membuat kunjungan baru hanya untuk membuktikan pekerjaan sudah dilakukan. Penghuni telah memberi tanggapan, dan orang yang bertugas mempunyai bukti hasil.
Saat berangkat bekerja, Devon melihat gambar sekali lagi dan mengatakan mereka sebaiknya mencari tempat berjalan lain pada akhir pekan kosong. Davina mengangguk, mengingatkannya bahwa ia akan ikut bertanya arah jika salah jalan. Suaminya tertawa dan membuka pintu. Ia berangkat dengan senyum yang masih ada ketika lift turun, sebelum perhatian keduanya beralih pada pekerjaan yang menunggu di tempat masing-masing.