Pada Jumat sore di akhir bulan ketiga hotel, dewan menerima hasil masa uji. Pembukaan bertahap telah dijalankan, biaya serta keterlambatan dinyatakan, dan pembayaran staf yang pernah keliru jadwal sudah dikoreksi. Tidak semua angka sebaik rencana awal. Namun, data yang dipakai kedua pihak sama, sehingga keputusan tidak perlu dibuat melalui dua cerita yang masing-masing menguntungkan keluarga sendiri.
Anita memaparkan bagian proyek. Davina menjelaskan pertanyaan pemilik serta hal yang belum dapat digeneralisasi. Devon menjawab dari sisi Mahawira, termasuk kelemahan pengganti yang kini sedang diperbaiki. Masa uji hotel tiga bulan berakhir; pengelolaan tetap berjalan dengan batas yang telah diterima. Percobaan empat minggu pejabat pengganti belum selesai dan dilaporkan terpisah. Anita menutup berkas hotel dengan lega, lalu berjanji akan mengambil cuti yang beberapa kali ditundanya.
Untuk pembelian kecil berulang, manajemen dapat mengajukan satu rencana bulanan dengan batas total dan jenis yang jelas. Perubahan besar tetap mengikuti kewenangan semula, bukan dipecah agar tidak perlu ditinjau. Davina menerima karena pertanyaan yang pernah datang mengenai alat tulis tidak harus dibahas berulang oleh semua pemilik. Ia ingin mengetahui keputusan yang sungguh mempunyai akibat, bukan menjadi orang yang harus memberi jawaban untuk setiap benda di meja kantor.
Seusai pertemuan, salah seorang manajer menyampaikan bahwa permintaan data Danajaya kadang membuat tim hotel merasa sedang diperiksa mendadak. Devon menanyakan contoh, bukan langsung membela istri. Ada pesan tanpa tujuan serta tenggat yang jelas, sehingga beberapa orang meninggalkan pekerjaan lain untuk menyiapkan jawaban yang ternyata tidak dibutuhkan hari itu.
Davina melihat contoh ketika disampaikan kepadanya. Ia mengakui sebagian pertanyaan timnya kurang memberikan konteks. Ia tidak menarik kebutuhan pemeriksaan, tetapi memperbaiki cara permintaan dikirim. Orang yang menerima perlu mengetahui apa yang diminta, kapan dipakai, dan siapa dapat ditanya. Keluhan yang benar tidak hilang hanya karena disampaikan manajer yang sebelumnya tidak suka peran Danajaya.
Pada Sabtu, sebelum waktu dua minggu sejak pembicaraan rumah berakhir, keluarga menerima perbandingan awal yang diminta. Perbaikan untuk sewa dinilai layak diteruskan ke penawaran rinci. Pak Danajaya menyetujui persiapan itu dengan keluarganya sebagai pemilik, meminta Davina ikut mengurus melalui mandat yang jelas. Pilihan menjual tidak perlu dijalankan sekarang. Hasil sewa kelak tetap mengikuti kedudukan pemilik, bukan hadiah diam-diam bagi Devon.
Davina memberitahu suaminya. Ia mengatakan lega ada langkah yang akhirnya dipilih tanpa harus menjadikan rumah tempat tinggal mereka. Devon menerima kabar, tidak memakai keputusan sewa sebagai bukti ia sebenarnya benar ketika menunggu informasi. Ia juga mengatakan belum berbicara lagi kepada ayahnya mengenai rumah sejak pertemuan terakhir yang diketahui. Bila ada bagian kontribusi Mahawira yang perlu dijawab, ia akan menyampaikan sebagai bagiannya sendiri.
Minggu pagi, Davina mengajak pergi ke toko buku. Devon memandang dari kursi tempat membaca berita, tampak terkejut lebih daripada yang diinginkannya. Istrinya mengatakan ia membutuhkan buku untuk belajar, dan ia boleh ikut bila memang ingin. Devon mengatakan ingin, menaruh perangkat, lalu bersiap tanpa mengubah ajakan menjadi makan siang kejutan dengan seluruh keluarga.
Di toko, Davina berjalan lebih lambat pada bagian desain serta pengelolaan hotel. Ia membuka beberapa buku, membandingkan isi, kemudian menyimpan yang terlalu teknis untuk kebutuhan sekarang. Ia tidak ingin membeli seolah akan menjadi arsitek karena sudah ikut mengunjungi kamar. Ada pengantar yang dapat membantu bertanya lebih baik dan satu novel yang sejak lama ingin dibaca. Ia mengambil keduanya.
Devon menemukan buku masak dan membawanya dengan wajah yang membuat Davina tertawa. Ia bertanya apakah foto sampul menjadi pertimbangan utama. Pria itu mengaku sudah membaca beberapa halaman, lalu membela bahwa semua bahan tampak masih dapat ditemukan. Davina menanyakan apakah ia juga membaca waktu persiapan atau kembali menganggap semua dapat selesai cepat bila diminta cukup tegas.
'Aku akan mulai dari yang sederhana,' katanya.
'Aku ingin hadir saat kamu menyadari sederhana belum tentu berarti lima menit.'
Devon tertawa. Mereka membayar pilihan masing-masing tanpa berdebat di depan kasir. Sesudah itu keduanya duduk di kafe kecil, membuka sampul, dan menunjukkan bagian yang ingin dibaca lebih dahulu. Davina memesan sepotong kue, menyodorkan garpu kedua, kemudian menarik piring ketika Devon hendak mengambil bagian cokelat yang paling besar untuk dirinya sendiri.
Davina menceritakan ia dahulu sering memilih buku karena ingin terlihat mengetahui sesuatu sebelum benar-benar tertarik. Devon mengaku pernah menyimpan buku yang tidak selesai hanya karena orang bertanya ia membaca apa. Mereka tertawa ketika menemukan kebiasaan yang sama pada bidang yang berbeda, kemudian membicarakan bacaan yang justru dinikmati tanpa merasa perlu ditunjukkan kepada orang.
Pada jeda, Devon menanyakan apakah ia masih nyaman pergi bersama setelah semua yang terjadi. Davina mengatakan iya. Ia juga belum ingin pindah kembali ke kamar utama hanya karena hari berjalan menyenangkan. Pria itu mengangguk, menerima kedua jawaban tanpa memilih yang lebih mudah didengar lalu mengabaikan yang lain.
'Aku mengajak karena ingin bersamamu,' kata Davina. 'Bukan karena kamu sudah lulus dan aku perlu memberi hadiah.'
Devon tersenyum, menurunkan pandangan pada halaman yang sejak tadi belum dibaca. Ia mengatakan ia senang, lalu mengaku khawatir ia akan merusak kegiatan bila terlalu sibuk memastikan semua benar. Davina menanyakan apakah mereka dapat mencoba menikmati kopi sebelum memberi penilaian terhadap seluruh hubungan. Ia tertawa dan mengangkat cangkir.
Sore itu mereka membaca pada ruang yang sama di penthouse. Davina sesekali menanyakan satu istilah yang dapat dijelaskan Devon, kemudian kembali pada buku sendiri. Ia tidak harus memilih antara menerima bantuan dan menjadi seseorang yang hanya mengikuti. Ketika akhirnya beranjak menyiapkan makan, ia meninggalkan buku terbuka dengan penanda dan tahu dapat kembali membacanya setelah pekerjaan bersama selesai.
Malamnya ia masih tidur di kamar cadangan. Namun, sebelum pintu ditutup, ia mengatakan ingin mereka mencoba satu resep pada akhir pekan lain. Devon mengatakan ia akan membaca sampai selesai dahulu. Davina tertawa pelan, mengucapkan selamat malam, dan membiarkan sesuatu yang baik tetap benar meski belum dipakai menutup seluruh bagian yang sulit.