Akhza mengangkat kelopak itu dengan ujung sekop dan menjatuhkannya ke kantong sampah kecil yang ia siapkan. Ia bergerak hati-hati, seolah benda itu bisa hancur jika tersentuh terlalu keras. Begitu kelopak masuk, ia mengikat kantong itu dan membawanya ke tempat sampah luar.
Aku tetap di dekat pintu, menatap lubang kecil yang terbuka. Tanah yang tergali hanya sedikit, tetapi terlihat lebih gelap daripada permukaannya. Aku tidak tahu apakah warna itu memang berbeda atau hanya karena cahaya lampu teras. Bau tajam tadi mulai berkurang setelah Akhza menjauhkan kelopak tersebut.
Saat kembali, ia membawa sekop dan sarung tangan. Ia tidak langsung berkata apa-apa. Ia hanya berjongkok, mengambil tanah yang tadi tersisih, lalu menimbunnya kembali ke dalam lubang. Gerakannya perlahan agar tanahnya tidak tercecer ke teras. Setelah itu ia meratakan permukaan dengan sisi sekop. Tanah tujuh kuburan itu tetap berada di tempatnya; ia hanya menutup bagian yang kubuka.
“Sudah,” katanya. “Tidak ada yang perlu kita pindahkan dulu.”
Aku mengangguk, meski pandanganku masih tertuju pada tanah itu. “Kelopak tadi benar-benar segar.”
“Mungkin ada tanaman lain yang kelopaknya terbawa saat tanah dipindahkan.”
“Tanahnya datang dari tujuh kuburan, Za. Tidak ada tanaman yang dipindahkan.”
Akhza melepas sarung tangannya. “Aku tahu. Tapi kita juga tidak tahu bagaimana kelopak itu bisa ada di sana. Aku tidak mau membuat kesimpulan sebelum ada alasan yang jelas.”
Aku tidak membalas. Akhza memang tidak percaya pada hal gaib. Ia tidak pernah mengolok-olok ketakutanku, tetapi baginya setiap kejadian pasti memiliki sebab yang bisa diterangkan. Aku menghargai sikapnya yang tenang. Hanya saja, kali ini aku berharap ia bisa melihat sesuatu yang sama denganku.
Ia menaruh sekop di dekat keran dan membasuhnya sampai bersih. Aku menunggunya di teras, berusaha mengatur napas yang kembali tidak teratur. Setiap kali menoleh ke lubang kecil itu, aku mengingat warna kelopak tadi. Ada bagian diriku yang ingin membuka kembali tanahnya, tetapi aku menahan diri. Akhza sudah melihat benda itu. Untuk sekarang, itu satu-satunya bukti yang bisa kutunjukkan.
“Kalau kamu mau, besok kita tanya penjual tanaman,” katanya. “Bisa jadi dia tahu jenis bunga itu.”
“Kalau penjualnya tidak tahu?”
“Berarti kita cari cara lain. Tidak perlu langsung menganggap yang paling buruk.”
Aku mengangguk, walau tidak sepenuhnya menerima jawabannya. Ia mengusap bahuku sebentar sebelum masuk untuk berganti pakaian. Aku tetap berdiri di teras beberapa saat, memastikan permukaan tanah benar-benar tertutup. Lubang kecil itu sekarang hampir tidak terlihat.
Saat makan malam, aku beberapa kali ingin mengangkat kembali pembicaraan tentang sosok di keranda. Namun setiap kali Akhza bertanya apakah aku masih takut, aku hanya menjawab singkat. Aku tidak ingin percakapan berubah menjadi perdebatan. Ia sudah mendengarkanku dan melihat kelopak itu sendiri. Mungkin aku hanya perlu bersabar sampai ada bukti yang lebih jelas.
Seusai makan, Akhza membantu mengangkat piring ke dapur. Ia bertanya apakah tubuhku masih lemas. Aku bilang sudah lebih baik, meskipun kepalaku terasa berat. Ia menyarankan agar aku tidur lebih awal dan tidak memikirkan tanaman malam itu.
Di kamar, aku mencoba mengikuti sarannya. Aku menaruh ponsel di meja dan berbaring membelakangi jendela. Namun bayangan kelopak itu terus terlintas. Apa yang akan terjadi kalau aku membiarkannya di dalam tanah? Apa Nisrina memang sengaja menanamnya bersama tanah kuburan? Aku tidak punya jawaban.
Aku tahu Akhza tidak bermaksud meremehkan ceritaku. Ia hanya ingin menjaga agar aku tidak mengambil keputusan karena panik. Selama ini sikapnya yang tenang sering menjadi penyeimbangku. Namun kali ini, ketenangan itu terasa seperti dinding yang tidak bisa kutembus.
“Besok jangan pergi ke lapak bunga sendirian dulu,” katanya. “Kalau masih merasa lemas, telepon aku.”
“Aku tidak tahu apa yang akan kulihat kalau keluar lagi.”
“Kita hadapi bersama. Aku tidak akan membiarkan kamu sendirian.” Ia menggenggam tanganku. Aku membalas genggamannya, mencoba berpegang pada satu hal yang masih terasa nyata.
Setelah lampu kamar dipadamkan, aku mendengar hujan mulai turun rintik-rintik. Aroma tanah basah masuk lewat celah jendela, membawa kembali ingatan tentang kelopak yang tadi kami temukan. Aku berusaha mengingat bentuknya. Apakah memang ada bunga liar berwarna biru keabuan? Mungkin aku pernah melihatnya di suatu tempat, tetapi tidak pernah memperhatikan. Kalau kelopak itu benar-benar biasa, kenapa ia tetap segar setelah terkubur?
“Akhza,” panggilku pelan.
“Hm?” Ia membuka mata setengah.
“Kamu marah karena aku menggali?”
“Aku tidak marah. Aku cuma khawatir kamu melakukan sesuatu sendirian saat sedang takut.”
“Aku tahu kamu tidak percaya soal makhluk itu.”
“Aku percaya kamu mengalami hal yang membuatmu takut,” jawabnya. “Aku hanya belum tahu penyebabnya. Kita cari bersama-sama.”
Kata-katanya menenangkan sebagian kegelisahanku. Aku mendekat dan menyandarkan kepala di bahunya. Dalam keadaan seperti ini, aku ingin percaya bahwa selama Akhza ada di sampingku, semuanya bisa dihadapi. Namun di luar kamar, taman kecil kami masih menyimpan tanah yang belum kami pahami.
Aku memejamkan mata, tapi tidur tak kunjung datang. Dari arah teras terdengar ranting melati menggesek pot pelan-pelan. Aku memaksa diri berpikir itu hanya angin malam. Esok hari aku harus tetap memeriksa pesanan toko dan menjawab Murti soal usaha GO MM. Aku tidak ingin semua urusan berhenti karena ketakutanku, tetapi aku juga tidak bisa berpura-pura tidak ada yang terjadi.
Sebelum akhirnya terlelap, aku menyusun rencana sederhana: meminta Akhza menemaniku ke lapak Nenek jika tubuhku masih lemas, lalu mencari tahu jenis kelopak yang kami temukan. Aku belum tahu apakah jawabannya akan menenangkan atau justru menambah pertanyaan baru. Yang penting, kali ini aku tidak akan menyimpan semuanya sendirian. Aku memeluk Akhza lebih erat, lalu mencoba menenangkan diri dengan mendengar napasnya. Di luar, hujan terus turun membasahi taman. Aku berharap pagi nanti semua tanaman yang tersisa masih berada di tempatnya. Aku berusaha menghentikan pikiran buruk dan berpegang pada janji kami untuk mencari jawaban bersama.