Keesokan harinya, setelah Akhza berangkat kerja, aku menunggu sampai cahaya sore mulai redup. Sekop kecil itu sudah berada di tanganku, tetapi langkahku menuju pintu terasa berat. Aku teringat permintaan Akhza agar tidak menyentuh tanah. Namun rasa takut yang sejak kemarin memenuhi pikiranku telah berubah menjadi kebutuhan untuk mengetahui apa yang ada di bawah sana.
Aku berjongkok di dekat ambang. Tanahnya lebih padat daripada yang kuingat. Nisrina menanam sisa tanah kuburan di sini setelah menaburkan sebagian ke pot-pot. Aku hanya akan membuka bagian kecil. Setelah melihatnya, aku bisa menutup kembali lubangnya sebelum Akhza pulang.
Ujung sekop menyentuh permukaan. Aku menekan perlahan. Tanah terangkat sedikit demi sedikit, menyisakan lubang dangkal sebesar telapak tangan. Tidak ada apa-apa selain gumpalan tanah gelap dan akar halus. Aku hampir berhenti, tetapi bau tajam yang sama muncul dari lubang itu.
Tanganku menegang. Aku mengais tanah dengan ujung sekop. Sesuatu yang tipis dan berwarna biru keabuan tampak terselip di antara gumpalan. Awalnya kukira hanya kelopak daun yang membusuk. Namun saat kuangkat dengan sekop, benda itu tampak seperti kelopak bunga yang masih segar. Warnanya pucat kebiruan, dengan garis gelap di tepinya. Tanah menempel di permukaan, tetapi kelopak itu tidak layu.
Aku menjatuhkan sekop. Dadaku berdebar begitu keras sampai napasku terasa tertahan. Aku menatap benda itu dari jarak aman. Bentuknya panjang dan sedikit melengkung, ujungnya bergerigi halus seperti kelopak yang pernah kulihat pada bunga liar. Warnanya tidak benar-benar biru; ada semburat abu-abu di bagian tengahnya. Yang paling aneh, permukaannya tampak lembap dan segar, seolah baru saja terlepas dari tangkai.
Aku menahan napas dan mencoba mengingat semua bunga yang ada di rumah. Melati tentu saja berwarna putih. Tanaman lain yang pernah kupelihara juga tidak memiliki bunga dengan warna seperti itu. Aku bahkan tidak yakin kelopak itu berasal dari jenis bunga yang tumbuh di sekitar perumahan kami.
Bau tanah basah semakin kuat. Di bawahnya ada aroma lain yang tajam, seperti sesuatu yang lama terkubur lalu baru saja terbuka. Aku menutup hidung dengan punggung tangan, tetapi bau itu tetap terasa. Sekilas, bayangan jemari biru keabuan kembali muncul dalam pikiranku. Aku melangkah mundur hingga punggungku hampir menyentuh pintu.
“Jangan sentuh,” bisikku kepada diri sendiri.
Aku mengeluarkan ponsel dari saku untuk memotret kelopak itu dan menunjukkan kepada Akhza. Namun tanganku gemetar, sehingga gambar pertama buram. Aku mengambil satu foto lagi. Kali ini bentuknya terlihat lebih jelas. Aku hendak mengirimkannya, lalu berhenti. Akhza sudah berada di rumah. Lebih baik ia melihatnya sendiri sebelum benda itu berubah atau hilang.
“Apa yang kamu lakukan?” tanyanya.
Suara Akhza membuatku menoleh terlalu cepat. Sekop yang kupegang jatuh ke lantai. Ia baru pulang kerja; kemejanya masih rapi, tetapi dasinya sudah dilonggarkan. Matanya berpindah dari wajahku ke lubang kecil di depan pintu, lalu tertuju pada kelopak itu.
“Aku cuma mau lihat tanahnya.”
“Aku sudah bilang jangan digali.”
“Aku tahu. Tapi lihat ini, Za.” Aku menunjuk kelopak itu. “Ini ada di dalam tanah.”
Akhza mendekat, lalu berhenti beberapa langkah dariku. Ia melihat benda itu tanpa menyentuhnya. Wajahnya menunjukkan kebingungan, bukan ketakutan.
“Itu kelopak bunga?”
“Warnanya seperti tangan yang menyentuhku malam itu.”
“Moni, jangan langsung menghubungkan semuanya.” Ia mengambil sarung tangan berkebun dari rak. “Kita buang saja benda ini, lalu aku tutup tanahnya.”
“Jangan dipegang!” seruku ketika ia hendak mengangkat sekop.
Akhza berhenti. “Aku pakai sarung tangan. Aku tidak akan menyentuhnya langsung.”
Aku masih tidak menjawab. Ia menunggu beberapa detik, memberi kesempatan agar aku berubah pikiran atau menjelaskan apa yang kutakutkan. Namun aku sendiri tidak tahu apa yang akan terjadi bila kelopak itu disentuh. Yang bisa kulakukan hanya menatapnya, berharap benda itu tidak bergerak.
“Aku hanya mau membuangnya,” katanya. “Setelah itu aku tutup lagi lubangnya.”
Aku mundur setengah langkah, tetapi tidak menghentikannya. Akhza mengambil sekop kecil dari lantai. Ia mengarahkannya ke bawah kelopak, berhati-hati agar tidak menyentuhnya dengan tangan. Aku mencengkeram kusen pintu. Sejenak, gerakannya terhenti saat angin membawa bau tanah ke wajah kami.
“Za, cepat,” bisikku.
Ia menoleh sebentar. “Aku hati-hati.”
Kelopak itu tetap diam di atas gumpalan tanah. Tidak ada perubahan warna atau gerakan. Namun aku merasa seolah sedang melihat sesuatu yang seharusnya tidak ditemukan. Akhza mengangkat sekopnya perlahan. Aku ingin memejamkan mata, tetapi memaksa diri terus memandang.
Saat Akhza mengangkat sekopnya, aku melihat otot di rahangnya menegang. Ia juga merasa tidak nyaman, walau berusaha menyembunyikannya. Tangannya bergerak perlahan, seakan ia pun tidak yakin apakah kelopak itu harus disentuh. Aku ingin menyuruhnya berhenti, tetapi jika ia berhenti, aku akan kembali sendirian dengan pertanyaan yang sama.
“Kalau benda itu ternyata dari bunga biasa, kita bisa cari tahu jenisnya,” katanya tanpa mengalihkan pandangan. “Kalau bukan, kita pikirkan langkah berikutnya.”
“Jangan dibuang ke tempat sampah dapur,” kataku. “Bawa keluar saja.”
“Iya.”
Aku tidak tahu kenapa permintaan itu terasa penting. Mungkin aku takut kelopak itu berada dekat makanan. Mungkin aku hanya ingin menjauhkannya dari rumah secepat mungkin. Apa pun alasannya, Akhza tidak membantah.
Ia memiringkan sekop, bersiap mengangkat kelopak itu bersama sedikit tanah yang menempel. Aku menggenggam kusen lebih kuat. Bau tajam memenuhi udara di antara kami. Di balik pagar, suara kendaraan melintas seperti biasa, tetapi di teras kami semuanya terasa berhenti. Aku menelan ludah dan mengamati wajah Akhza. Ia tidak terlihat seperti orang yang sedang bercanda atau sengaja membuatku takut. Ia sungguh-sungguh berusaha menyelesaikan masalah dengan cara yang ia pahami.
Di sisi lain, aku tahu kelopak itu bukan benda yang biasa kutemukan di tanah. Ada keinginan kuat untuk menyimpannya sebagai bukti, tetapi membawanya masuk rumah terasa lebih buruk. Jika aku meminta Akhza menyimpannya, ia mungkin akan menurut, tetapi aku juga tidak yakin mampu berada satu ruangan dengannya.
“Kalau kamu merasa tidak enak, kita bisa berhenti,” kata Akhza.
Aku menggeleng kecil. Aku tidak tahu apakah aku ingin ia berhenti atau justru ingin semua ini segera selesai. Sekopnya sudah berada tepat di bawah kelopak. Aku menghela napas panjang, lalu memberi isyarat agar ia meneruskan.