Hari pertama setelah keputusan Lyla terasa lebih biasa daripada yang ia bayangkan. Tak ada pengumuman, upacara, atau perubahan besar di istana. Ia bangun, sarapan bersama Tala, lalu membawa buku ke ruang baca kecil.
“Apakah sekarang aku harus membuat rencana hidup?” tanyanya sambil membuka halaman kosong.
“Tidak jika Anda belum ingin,” jawab Tala.
“Aku baru saja membuat keputusan besar. Rasanya semua orang akan berharap aku langsung tahu apa yang harus dilakukan.”
“Tidak ada yang meminta itu.”
Lyla berusaha menerima jawaban tersebut. Ia telah memilih tinggal, tetapi pilihan itu tidak otomatis memberinya gelar, pekerjaan, atau jadwal. Ia ingin terus membantu katalog perpustakaan, namun tidak ingin kegiatan itu berubah menjadi kewajiban.
Siang hari Aresh datang setelah mengetuk. Ia bertanya apakah Lyla ingin berbicara tentang kehidupan setelah Orion. Lyla mengizinkan, tetapi meminta mereka bertemu di balkon perpustakaan tanpa Liram atau dokumen resmi.
“Aku ingin membicarakan hal praktis,” katanya. “Kalau aku tinggal, aku ingin tetap punya ruang sendiri dan kegiatan yang kupilih.”
Aresh mengangguk. “Kau dapat tetap menggunakan ruang baca kecil. Jika ingin tinggal di Menara Mawar, itu pilihanmu; kalau ingin tempat lain, kita bisa membahasnya.”
“Dan aku tidak harus menjadi permaisuri hanya karena aku mencintaimu?”
“Tidak. Tinggal di Avantera dan menikah denganku adalah dua keputusan berbeda.”
Lyla merasa lega. Ia bertanya bagaimana tanggung jawab kerajaan akan berpengaruh pada hubungan mereka. Aresh menjelaskan bahwa sebagai raja ia tetap memiliki tugas dan keputusan yang tidak selalu bisa ditinggalkan. Namun ia tak akan menganggap Lyla otomatis harus hadir dalam setiap rapat atau acara.
“Aku ingin diajak bicara kalau suatu keputusan berpengaruh langsung padaku,” kata Lyla. “Tapi aku tak perlu terlibat dalam semuanya.”
“Setuju.”
Mereka membicarakan privasi, tempat tinggal, dan waktu bersama. Lyla ingin melanjutkan hubungan mereka, tetapi tidak mau menjadi satu-satunya teman Aresh. Ia berharap Aresh tetap berbicara dengan Liram, Naran, dan orang-orang yang dipercaya.
“Aku tak ingin kau bergantung padaku untuk semua hal,” katanya.
“Aku juga tidak ingin membebanimu seperti itu.”
Lyla merasa hubungan mereka mulai memiliki bentuk yang mungkin dijalani. Ia bertanya apakah Aresh ingin ia menjadi ratu. Aresh menjawab ia tak akan meminta gelar itu sekarang, dan tak ingin menjadikannya syarat untuk mencintai Lyla.
“Kalau suatu saat aku ingin menikah, aku harus memilihnya karena memang menginginkan hidup bersama, bukan karena statusmu,” kata Lyla.
“Dan aku harus melamarmu tanpa menganggap jawabanmu sudah pasti.”
Lyla menatapnya. “Kau sedang merencanakan sesuatu?”
“Tidak. Aku hanya menyebut aturan yang seharusnya berlaku.”
“Bagus. Jangan membuat kejutan yang membuatku harus menjawab di depan orang banyak.”
“Aku tidak akan.”
Mereka menyelesaikan percakapan dengan saling memahami bahwa Lyla tinggal atas pilihannya sendiri, sementara hubungan dan gelar masih terbuka. Lyla menulis beberapa poin praktis untuk dirinya, bukan sebagai kontrak. Ia merasa sedikit lebih siap menjalani hari berikutnya.
Lyla menanyakan apakah mereka akan tinggal di kamar yang sama jika menikah. Aresh menjawab mereka bisa memutuskan setelah membicarakan kenyamanan masing-masing. Ia tak menganggap pernikahan otomatis berarti Lyla harus berbagi ruang atau mengubah kebiasaannya.
“Aku mungkin ingin kamar sendiri dulu,” kata Lyla.
“Itu bisa diatur.”
“Dan kalau aku berubah pikiran?”
“Kita akan membicarakannya.”
Lyla merasa lega karena bahkan hal yang tampak sederhana tidak dianggap sudah diputuskan oleh adat. Ia bertanya bagaimana mereka akan membagi waktu ketika Aresh sibuk mengurus kerajaan.
“Aku akan menjadwalkan waktu bersama, tapi tak ingin kau merasa harus menunggu di ruang kerjaku,” katanya.
“Aku bisa mengisi waktuku sendiri. Tapi aku ingin kau memberi tahu kalau rapat mengubah rencana.”
“Setuju.”
Mereka juga membicarakan bagaimana menyelesaikan pertengkaran. Aresh cenderung diam ketika marah, sedangkan Lyla bisa bicara terlalu cepat. Mereka sepakat memberi jeda jika emosi meningkat, lalu kembali membahasnya saat keduanya siap.
“Tidak ada menghukum dengan diam,” kata Lyla.
“Aku akan mengatakan jika membutuhkan waktu, bukan menghilang.”
“Aku juga akan berhenti sebelum mengucapkan sesuatu hanya karena ingin menang.”
Percakapan itu membuat Lyla menyadari bahwa pernikahan tidak hanya berarti upacara, tetapi cara mereka menjalani perbedaan. Ia belum tentu tahu semua kesulitannya, namun ia senang Aresh tak menganggap cinta cukup untuk menjawab seluruh masalah.
Setelah berbicara, mereka kembali ke ruang baca dan membaca masing-masing. Lyla memilih buku tentang sejarah perpustakaan. Aresh memilih laporan kerja yang harus diselesaikan. Mereka duduk bersama tanpa harus menyamakan kegiatan.
Lyla dan Aresh menuliskan apa yang tidak berubah setelah ia memilih tinggal: Lyla tetap memiliki hak atas tubuh dan waktu pribadinya, Aresh tetap menjalankan tugas sebagai raja, dan keduanya dapat meminta jeda saat percakapan terasa berat. Mereka tak ingin pernikahan mengubah batas yang telah mereka bangun.
“Kalau suatu saat kau merasa terlalu sibuk untukku, bilang,” kata Lyla.
“Dan kalau kau merasa aku menganggapmu sebagai bagian dari protokol, kau juga bilang.”
Mereka sepakat bahwa masalah tak akan diselesaikan dengan mengirim Liram sebagai perantara. Liram dapat membantu urusan praktis, tetapi keputusan pribadi harus dibicarakan langsung.
Lyla merasa catatan itu membantunya memahami bahwa menikah bukan berarti menjadi orang lain. Ia dapat tetap membantu di perpustakaan, bertemu Tala, dan menjalani hari tanpa ikut setiap urusan kerajaan. Aresh tak menganggap dirinya harus mengatur seluruh waktu Lyla.
Saat membahas anak dan keluarga, keduanya sepakat belum menentukan apa pun. Mereka tak akan menerima harapan orang lain sebagai rencana. Jika kelak ingin membicarakannya, mereka akan melakukannya karena memang siap.
Lyla bertanya bagaimana mereka akan menjaga kejujuran jika salah satu merasa kecewa. Aresh berkata mereka harus mengatakannya langsung, bukan menjadikan diam sebagai hukuman. Lyla menyetujui dan menambahkan bahwa permintaan maaf harus disertai perubahan tindakan.
Mereka sepakat meninjau kembali pembagian waktu setelah beberapa minggu, bukan untuk mengubah kebebasan Lyla, tetapi memastikan keduanya merasa didengar.