Balasan Putri Elf tiba pada pagi yang cerah, disegel terpisah dari surat resmi mengenai aliansi. Liram menyerahkannya kepada Lyla sendiri.
“Beliau menulis pesan pribadi untuk Anda,” katanya. “Saya tidak membacanya.”
Lyla menerima surat itu dengan hati-hati. Ia meminta Tala menemaninya ke balkon perpustakaan, lalu membuka segelnya sendiri. Tulisan sang Putri rapi dan singkat. Ia berterima kasih atas surat Lyla sebelumnya, lalu mengatakan ingin menanyakan satu hal secara langsung kepada Aresh sebelum menentukan bagaimana hubungan pribadi mereka akan ditutup.
Lyla membaca bagian itu dua kali. Tidak ada tuduhan atau nada tersinggung. Sang Putri hanya ingin kejelasan dari orang yang bersangkutan.
“Apakah kau merasa terancam?” tanya Tala.
“Sedikit cemburu,” jawab Lyla. “Tapi dia tidak meminta aku mundur. Dia ingin bertanya kepadanya sendiri, dan itu memang haknya.”
Lyla menulis balasan singkat bahwa ia memahami keinginannya dan tidak akan menghalangi percakapan. Ia menyatakan, dengan jujur, bahwa sempat merasa cemburu ketika Putri Elf tiba, sebab Lyla sendiri mulai mencintai Aresh. Namun ia tidak meminta sang Putri mengubah rencana atau membatasi pertanyaan.
“Aku mau menulis bahwa perasaanku bukan tanggung jawabnya,” kata Lyla.
Tala mengangguk. “Itu jelas.”
Lyla juga menulis bahwa ia belum memilih tinggal atau kembali ke Bumi. Ia tidak ingin sang Putri membaca pengakuannya sebagai klaim atas Aresh. Suratnya bukan penanda bahwa Aresh sudah menjadi miliknya; ia hanya menyampaikan keadaannya sendiri.
Setelah selesai, Lyla membaca surat itu dengan suara pelan. Ia menghapus satu kalimat yang terdengar seperti meminta maaf karena mencintai Aresh. “Aku tak perlu minta maaf untuk perasaan, hanya untuk tindakan yang menyakiti.”
“Benar,” ujar Tala.
Lyla menyerahkan surat kepada Liram untuk dikirim secara pribadi. Ia meminta Liram tidak mencampurkannya dengan berkas aliansi dan tidak membaca isinya. Liram menerima instruksi itu dengan serius.
Siang hari, Aresh menemui Lyla di perpustakaan. “Aku mendengar sang Putri ingin berbicara denganku.”
“Dia menulis kepadaku. Aku menjawab bahwa aku tidak akan menghalangi.”
“Apa yang kau sampaikan?”
“Bahwa aku cemburu, tapi tidak meminta dia mengubah pilihannya. Aku juga bilang aku belum memilih tinggal.”
Aresh tampak memikirkan jawabannya. “Terima kasih karena jujur.”
“Aku tidak ingin ada yang mengira aku menuntutmu memilihku. Aku sendiri belum siap memilih.”
“Aku paham.”
Lyla bertanya apakah Aresh bersedia menjawab sang Putri secara langsung. Aresh menjawab ia akan melakukannya, tanpa mengalihkan pertanyaan itu kepada Lyla atau Liram. Ia ingin menjelaskan bahwa ia tidak menawarkan pernikahan, namun perasaannya kepada Lyla juga tidak perlu dijadikan bahan tawar-menawar.
“Jangan sebut namaku kecuali dia bertanya dan kau merasa perlu,” ujar Lyla.
“Aku akan menjaga privasimu.”
Lyla merasa lega. Surat sang Putri membuatnya cemburu, tetapi juga menegaskan bahwa setiap orang berhak memperoleh jawaban dari orang yang bersangkutan. Ia tak ingin lagi membangun cerita berdasarkan asumsi.
Sore itu Liram menyiapkan jadwal untuk percakapan jarak jauh melalui surat balasan. Tidak ada panggilan langsung; sang Putri akan mengirimkan pertanyaan, Aresh akan menjawab, lalu ia menentukan sendiri apakah ingin membalas. Lyla melihat jadwal itu sekali dan tidak meminta menjadi pengawas.
“Aku akan membaca di taman,” katanya kepada Tala. “Kalau ada pesan yang memang ditujukan kepadaku, aku akan menerimanya. Tapi aku tidak perlu duduk di dekat pintu.”
Tala tersenyum. “Itu keputusan yang sehat.”
Lyla membawa buku dan duduk di bawah pohon. Ia tetap memikirkan surat itu, namun tak membiarkan kecemasan mengubahnya menjadi tindakan. Ia sudah mengatakan perasaannya dengan jujur, dan kini ia akan memberi ruang bagi jawaban Aresh kepada Putri Elf.
Lyla meminta Liram membacakan surat itu sekali lagi sebelum ia membalas. Ia ingin memastikan pesan sang Putri bukan permintaan agar Lyla membujuk Aresh atau menjauh darinya. Tidak ada kalimat seperti itu. Putri Elf hanya ingin tahu apakah Aresh telah membuat janji dan apakah ia boleh meminta penjelasan langsung.
“Dia tidak meminta aku mundur,” kata Lyla.
“Tidak,” jawab Tala. “Beliau meminta kejelasan kepada orang yang dapat memberikannya.”
Lyla kemudian menulis balasan tanpa menyebut apa yang seharusnya dipilih Putri Elf. Ia mengatakan bahwa ia sempat cemburu saat kunjungan berlangsung karena perasaannya kepada Aresh, tetapi ia tidak meminta sang Putri mengubah tujuan atau pilihannya. Ia juga menulis bahwa Aresh belum melamarnya dan Lyla belum berkomitmen tinggal.
“Aku tidak ingin terdengar seolah aku mengklaim dia,” ujar Lyla.
“Surat Anda tidak berkata begitu.”
Lyla meminta Liram mengirimkan surat tersebut secara pribadi, tetapi bukan sebelum ia membacanya satu kali lagi. Ia ingin mengakui perasaannya tanpa meminta balasan tertentu. Setelah diserahkan, ia merasa gugup, namun tidak menyesal.
Aresh datang sore itu. Lyla menjelaskan isi suratnya, tanpa memperlihatkan salinan karena ia telah meminta Tala menyimpannya. Aresh berkata ia menghargai kejujuran Lyla, dan ia akan memberi Putri Elf jawaban yang sama jujurnya.
“Jangan membuatnya merasa harus memutuskan hari ini,” kata Lyla.
“Aku tidak akan melakukannya.”
Mereka berpisah tanpa membicarakan siapa yang akan dipilih. Lyla kembali ke taman, menyadari bahwa keterbukaan tidak menghapus cemburu, tetapi membuatnya tak perlu bertindak berdasarkan dugaan.