Liram mengundang Aresh ke ruang kerja untuk meninjau draf agenda yang telah diperbarui. Lyla tidak ikut rapat. Ia memilih duduk di taman dengan Tala, menunggu jika Aresh membutuhkan pendapatnya, tetapi tidak menawarkan diri mengurus hal yang bukan tanggung jawabnya.
“Aku dulu mengira semua hubungan kerajaan harus diselesaikan dengan pernikahan,” kata Lyla. “Ternyata mereka bisa berunding lewat dokumen dan kesepakatan biasa.”
“Banyak hal tampak sederhana setelah dibicarakan dengan jujur.”
“Tidak semuanya. Urusan misi Orion masih kusut.”
“Tetapi Anda sudah mengetahui sebagian jawabannya.”
Lyla mengangguk. Ia tahu tubuhnya di Bumi ditahan, luka belum sembuh, dan waktu tidak bergerak bagi tubuh itu. Ia juga tahu misi tak mewajibkan Aresh menikah. Namun ia belum tahu apakah ia akan pulang, seberapa lama tubuh dapat ditahan, dan bagaimana misi dinyatakan selesai.
Aresh keluar dari ruang kerja menjelang sore. Ia membawa draf yang telah disetujui untuk dikirim. “Aliansi akan dilanjutkan melalui pembicaraan resmi. Tidak ada ikatan pernikahan di dalamnya.”
“Bagus.”
“Putri Elf memilih sendiri cara melanjutkan hubungan itu.”
“Dan dia tidak perlu kembali ke sini hanya untuk membuktikan apa pun.”
“Benar.”
Lyla memperhatikan bahwa Aresh tak menyebut dirinya dalam keputusan itu. Ia menghargai bahwa sang raja tidak menggunakan akhir kunjungan untuk mengklaim sesuatu.
“Aku ingin bertanya,” katanya. “Setelah kau tahu aku mencintaimu tapi belum memilih tinggal, apakah itu membuatmu berharap aku akan segera berubah pikiran?”
Aresh berpikir sebentar. “Aku berharap kita suatu hari dapat membangun kehidupan bersama. Tetapi harapan itu tidak menjadi jadwal atau tuntutan. Aku tidak akan bertanya setiap hari apakah kau sudah memilih.”
“Terima kasih. Aku butuh ruang untuk memikirkan jawabannya.”
“Kau memilikinya.”
Lyla berjalan bersama Aresh menuju perpustakaan. Di sana ia membuka halaman tentang misi dan menuliskan satu poin baru: “Perkawinan bukan syarat; Aresh harus memilih dengan sadar, Lyla juga harus bebas.” Ia belum tahu apa maksud “membantu Aresh mengenali pilihannya” dalam praktik, tetapi setidaknya sekarang ia tidak akan memaksa sebuah pernikahan.
“Apa kau ingin aku membaca catatan itu?” tanya Aresh.
“Boleh. Tapi jangan koreksi kecuali ada fakta yang salah.”
Aresh membaca dan mengangguk. “Itu sesuai yang Orion katakan.”
Mereka berdiskusi tentang arti misi tanpa membuat kesimpulan baru. Aresh berkata ia telah memahami perasaannya, tetapi tak ingin mengklaim bahwa misi selesai jika Lyla belum tahu apa yang ia inginkan. Lyla setuju bahwa keputusan mereka berdua harus nyata, bukan sekadar nama di atas kertas.
Malam datang. Liram menyerahkan surat balasan resmi untuk disegel. Aresh meminta Lyla memeriksanya hanya jika ia ingin, dan ia menolak. “Aku percaya kau sudah menulis dengan jujur.”
“Aku akan mengirimkannya besok.”
Tala membawa teh. Lyla menerima cangkir dan berterima kasih. Ia tidak memikirkan apakah Putri Elf akan membalas lagi. Sang Putri telah memilih jalurnya, dan hubungan kerajaan kini tidak bergantung pada keberadaannya di istana.
Lyla memandang buku catatan. Pilihannya sendiri masih belum dibuat. Namun ia mulai memahami bahwa cinta bukan kontrak, misi bukan kewajiban untuk menikah, dan aliansi bukan ikatan paksa. Ia akan meminta Orion menjelaskan batas waktu dan arti tinggal sebelum memutuskan.
Aresh mengucapkan selamat malam. Lyla membalasnya dengan senyum kecil. Tidak ada yang selesai sepenuhnya, tetapi satu simpul telah dilepaskan: tak seorang pun akan dipaksa menikah demi menjaga hubungan kerajaan.
Malam itu Lyla berbicara dengan Tala tentang kemungkinan bahwa Aresh tetap mencintainya ketika ia belum membuat keputusan. “Aku senang, tapi aku juga takut membuatnya menunggu,” katanya.
Tala mengingatkan bahwa Aresh sudah mengatakan ia tidak akan menjadikan harapan sebagai utang. Lyla tetap tak ingin menggunakan pengakuan cinta untuk meminta kenyamanan tanpa menjelaskan keraguannya.
“Aku akan terus jujur. Kalau aku belum tahu, aku bilang belum tahu.”
“Itu adil bagi Anda dan baginya.”
Lyla menyimpan salinan catatan misi di laci terpisah dari surat-surat diplomatik. Ia tidak ingin satu keputusan bercampur dengan yang lain. Putri Elf telah memilih hubungan politik tanpa perkawinan; Aresh telah menyatakan perasaannya; Lyla masih mencari tahu apa yang ia inginkan.
Sebelum tidur, ia menulis tiga hal yang belum selesai: batas masa penahanan tubuh, makna misi setelah Aresh mengenali perasaannya, dan apakah ia dapat tinggal tanpa memilih Aresh sebagai pasangan. Ia tak memaksa jawaban muncul. Ia hanya menyiapkan pertanyaan untuk percakapan berikutnya dengan Orion.
Lyla meminta Tala menyimpan satu salinan surat pribadinya, bukan untuk dibaca, melainkan agar ia tahu kapan pesan dikirim. Tala menyetujui dan menaruhnya dalam map kecil yang hanya Lyla pegang kuncinya.
“Aku ingin bisa mengingat pertemuan ini tanpa mengubahnya menjadi cerita bahwa aku menang atas Putri Elf,” kata Lyla.
“Anda tidak sedang bertanding.”
“Aku tahu. Tapi kalau cemburu, pikiranku suka membuat semuanya jadi perlombaan.”
Tala mengingatkan bahwa perasaan bisa muncul tanpa harus menjadi tindakan. Lyla mengangguk dan menulis catatan singkat untuk dirinya sendiri: “Aku boleh cemburu; aku tidak boleh mengendalikan.” Ia menutup buku sebelum menambah daftar lain.
Malamnya, ia membaca pertanyaan tentang misi dan tubuh di Bumi. Ia akan kembali bicara dengan Orion setelah siap. Surat diplomatik telah dikirim, tetapi tak ada keputusan romantis atau misi yang dibuat karenanya.
Lyla menyadari rasa cemburunya tidak hilang sepenuhnya, tetapi kini ia tahu sang Putri tidak sedang menunggu jawaban romantis. Ia dapat memikirkan Aresh tanpa membayangkan ada orang lain yang harus kalah agar dirinya bisa dicintai. Kesadaran itu membuatnya merasa lebih tenang.
Ketika pembicaraan selesai, Liram mengarsipkan agenda lama agar tak keliru dipakai lagi. Draf baru menjadi satu-satunya versi yang akan dikirim. Lyla melihat bahwa keputusan kecil seperti mengganti istilah dapat mencegah orang merasa dijanjikan sesuatu yang tak pernah mereka pilih.
Lyla menutup buku dan membiarkan hari berakhir. Ia belum punya keputusan untuk dirinya sendiri, tetapi setidaknya tak ada keputusan orang lain yang dipaksakan kepadanya.