Malam setelah percakapan kedua dengan Orion, Lyla berjalan ke balkon perpustakaan. Ia membutuhkan udara dan tempat yang tidak dipenuhi catatan. Aresh datang beberapa menit kemudian, tetapi berhenti di ambang pintu.
“Boleh aku menemanimu?” tanyanya.
“Boleh. Duduklah di sana.” Lyla menunjuk kursi yang berjarak beberapa langkah.
Aresh menuruti. Mereka memandang halaman dalam diam. Lyla akhirnya berkata, “Orion bilang aku bisa tinggal tanpa menjadi istrimu. Tapi tubuhku di Bumi tak bisa ditahan selamanya. Aku belum tahu batas waktunya.”
“Apa pun yang kau putuskan, aku akan menghormatinya.”
“Aku tahu. Tapi aku perlu tahu satu hal darimu juga.”
“Apa?”
“Kalau aku memilih pulang, apakah kau akan menganggap aku tidak mencintaimu?”
Aresh menatapnya lama. “Tidak. Aku akan menganggap kau memilih hidup yang kau rasa harus dijalani. Aku mungkin berduka, tetapi aku tidak akan menyebut cintamu palsu.”
Lyla menahan napas. “Dan kalau aku memilih tinggal, apa yang kau harapkan dariku?”
“Aku ingin mengenalmu lebih jauh dan membangun hubungan jika kau juga menginginkannya. Aku tidak akan meminta gelar permaisuri sebagai syarat. Aku tidak akan meminta jawaban malam ini.”
Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan suara lebih lembut. “Aku mencintaimu, Lyla. Aku sudah mencoba menyebutnya dengan cara lain karena takut membuatmu merasa terikat. Tapi kau berhak mendengar kata-katanya dengan jelas.”
Lyla menunduk. Ia tak merasa terkejut, tetapi mendengar pengakuan itu secara langsung membuat semua ketakutannya terasa nyata.
“Aku juga mencintaimu,” katanya. “Tapi aku takut kehilangan Bumi dan takut memilih tinggal hanya karena aku takut kembali. Aku tidak bisa menjanjikan apa pun sekarang.”
“Aku tidak meminta janji.”
“Dan kalau aku butuh waktu lama?”
“Aku akan menjalani hidupku selama itu. Aku tidak akan menjadikan penantian sebagai utang bagimu.”
Lyla menatap Aresh. “Kau tak harus mengatakan semua itu hanya supaya aku merasa nyaman.”
“Aku mengatakannya karena itu yang kupilih.”
“Aku ingin percaya.”
“Kau boleh memeriksa kata-kataku melalui tindakanku.”
Mereka kembali diam. Lyla merasa terdorong untuk mendekat, tetapi bertanya lebih dahulu, “Boleh aku duduk lebih dekat?”
Aresh mengangguk. Lyla memindahkan kursinya sedikit, tetap menjaga jarak yang terasa nyaman. Ia tidak menyentuhnya. Mereka hanya berbicara sampai malam semakin larut, tentang hal-hal sederhana dan ketakutan yang tak perlu diselesaikan saat itu.
Aresh berkata ia tak ingin Lyla merasa harus menjadi ratu agar hidupnya di Avantera punya makna. Ia bisa memilih peran, pekerjaan, atau tempat tinggalnya sendiri. Lyla bertanya apakah ia sungguh bersedia menerima hal itu sebagai raja. Aresh menjawab bahwa ia tidak ingin menjadikan cintanya sebagai aturan kerajaan.
“Kalau begitu, aku akan memikirkan semua pilihan,” kata Lyla.
“Ambil waktu yang kau perlukan.”
“Namun Orion bilang tubuhku tak bisa dipertahankan selamanya. Aku harus menanyakan berapa batasnya.”
“Kita akan bertanya. Tidak perlu menebak.”
Lyla berdiri, mengucapkan selamat malam, lalu menuju kamarnya. Aresh tidak menahannya. Untuk pertama kalinya, ia merasa dapat menerima cinta tanpa harus langsung mengubahnya menjadi perjanjian. Ia masih belum memilih tinggal atau pulang, tetapi kini Aresh mengetahui perasaannya dan menerima ketidakpastiannya.
Sebelum tidur, Lyla memisahkan halaman catatan menjadi tiga bagian: keadaan tubuh, arti misi, dan akibat tinggal. Ia menandai bahwa pertanyaan tentang misi belum selesai. Orion belum menjelaskan apa tepatnya yang harus terjadi agar tugas dianggap tuntas.
Ia menulis juga bahwa Aresh telah menyatakan cinta, dan ia membalas perasaan itu. Namun ia menambahkan catatan tebal: “Belum memilih tinggal.” Ia tidak ingin rasa lega setelah pengakuan mengaburkan keputusan yang lebih besar.
Tala bertanya apakah Lyla merasa bersalah karena masih ragu. Lyla menjawab bahwa ia tak lagi mau menyebut keraguan sebagai pengkhianatan. Ia bisa mencintai Aresh dan tetap memerlukan penjelasan tentang tubuhnya.
“Besok aku akan bertanya tentang misi,” katanya. “Setelah itu, aku perlu waktu untuk memikirkan semuanya.”
Tala mengingatkan bahwa ia boleh meminta waktu, tetapi juga perlu mengingat keterangan Orion bahwa masa penahanan tubuh tak berlangsung selamanya. Lyla mengangguk. Ia belum tahu berapa lama, namun tidak akan pura-pura bahwa waktu tak penting.
Pagi berikutnya, Lyla membaca kembali catatan tubuh dan misi secara terpisah. Ia menemukan bahwa dua hal yang paling ia takutkan belum terjawab: risiko perawatan jika pulang dan lamanya tubuh dapat dipertahankan. Ia tidak membiarkan ketakutan tersebut menyamar sebagai alasan untuk menolak atau menerima.
Ia memutuskan bahwa pertemuan selanjutnya dengan Orion harus membahas syarat tinggal dan apa yang terjadi jika misi belum selesai. Setelah itu ia akan meminta waktu untuk mempertimbangkan semuanya. Ia tidak akan membuat keputusan karena Aresh baru saja mengaku cinta, sekalipun pengakuan itu membuat hatinya bahagia.
Tala mendengarkan rencana tersebut dan berkata ia akan menemani Lyla jika diminta. Lyla mengucapkan terima kasih, lalu menyimpan buku catatan. Ia siap melanjutkan percakapan, tetapi hanya dengan syarat dapat berhenti kapan saja.
Lyla menghabiskan sisa pagi dengan membaca catatan, bukan untuk mencari jawaban yang tersembunyi melainkan memastikan ia memahami kata-kata Orion. Ia menandai bahwa tubuhnya belum mati pada saat perpindahan, waktu bagi tubuh itu berhenti, luka tidak disembuhkan, dan pemulihan setelah kembali tidak dijamin. Ia juga mencatat Orion tidak mengetahui siapa yang ada di sekitar tubuhnya.
Ia membawa halaman itu kepada Aresh dan meminta ia membacanya. Aresh memperbaiki satu kata yang bisa terdengar seperti kepastian, lalu meminta izin sebelum menulis koreksi. Lyla menyetujui. Mereka menyepakati bahwa catatan akhir akan dibacakan lagi oleh Liram agar tidak ada interpretasi baru.
Setelah semuanya diperiksa, Lyla menyimpan halaman tersebut terpisah dari pertanyaan tentang misi. Ia masih mencintai Aresh dan merindukan Bumi, tetapi ia tak akan memakai satu perasaan untuk menutup yang lain. Hari itu ia memilih beristirahat, bukan karena menyerah, melainkan karena ia perlu tenaga untuk mendengar jawaban berikutnya dengan pikiran jernih.
Sebelum tidur, ia mematikan lampu dan membiarkan pikirannya beristirahat. Besok ia akan bertanya lagi, tetapi malam ini ia tidak perlu memilih.