"Bener juga sih, Sas. Apalagi kamu tau banget Papa lagi butuh banyak biaya." Nada bicara Ardian pun terdengar semakin lirih. Ternyata, nggak di takdirnya menikah dengan siapa pun Papanya tetap menderita penyakit yang sama. Bedanya, karena dulu Ardian mengurungkan niatnya menyusul Clarissa ke Surabaya dan memilih melanjutkan fakultas pilihan Papanya. Jadi, sekarang dia bisa meneruskan perusahaan Papanya yang hampir tumbang. Tentu saja, dibantu sang istri tercinta.
"Ya makanya, Mas. Kita tuh sekarang harus lebih bekerja keras lagi. Lebih bersemangat lagi untuk menegakkan perusahaan Papa. Kalau kita sudah berhasil. Kita nggak bingung-bingung lagi cari biaya untuk pengobatan Papa. Iya, kan?" Ardian pun tak langsung menjawab. Ia malah tersenyum haru mendengar ucapan sang istri yang begitu pedu