"Setiap orang pasti punya kelemahan. Dan mungkin itulah kelemahan pasangan aku. Apapun yang terjadi. Aku akan menerima kekurangannya," ucap Saskia dengan nada bergetar. "Kalau begitu aku pergi dulu. Terima kasih traktirannya." Saskia pun berjalan mendahului Ardian. Lalu ia pun mengusap mata sebelah kanannya. Benteng pertahanannya pun jebol. Seketika air matanya mengalir deras. Bak air bah yang datang di saat kemarau panjang.
"Saskia," gumam Ardian lirih. Nyaris tak terdengar. Ia tau Saskia terpaksa bertahan demi kedua anaknya. 'Sungguh, betapa aku sangat menyesal pernah menyia-nyiakannya,' batin Ardian dengan pandangan yang terus mengikuti gerakan Saskia pergi.
Saskia yang masih terus menangis menyebrang jalan raya di depannya begitu saja. Tanpa menoleh ke kiri dan kanan terlebih dahulu