Bug! Ardian membanting tubuh di atas kasurnya yang empuk. Matanya pun terus menatap langit-langit kamar kosannya yang tidak sebagus kamarnya bersama Clarissa. Namun, Ardian tak bisa menyembunyikan perasaan bahagianya saat ini. Lihat saja senyum di bibirnya yang terus mengembang. Bak bunga mawar yang baru saja merekah di tangkainya.
Pikiran Ardian pun melayang-layang pada sosok kedua anaknya yang barusan bermain dengannya di rumah Rendra. Entah mengapa kegiatan yang dulu terasa sangat membosankan itu terasa sangat menyenangkan dan membuatnya tak ingin berhenti. Sayangnya, waktu sudah semakin malam dan mereka harus tidur. Jadi, mau tidak mau mereka pun harus pulang.
"Huft." Ardian menghembuskan nafas beratnya. Ia sungguh baru merasakan yang namanya kesepian. Dulu ia padahal merasa kerepota