Senyumnya pun akhirnya mengembang melihat tulisan besar berbunyi 'Bandara Halim Perdana Kusuma' dengan tanda panah berwarna biru sudah dapat terlihat dengan kedua bola matanya. Padahal, biasanya ia butuh waktu empat puluh sampai tiga puluh menit untuk sampai di tempat itu. Namun, di dalam keadaan genting seperti ini ia bisa sampai dalam waktu dua puluh lima menit. Walaupun kakinya sudah terasa pegal sejak tadi. Karena terus menerus menginjak pedal gas tanpa ampun.
Chit…. Ardian pun menghentikan mobilnya di parkiran Bandara. Walaupun ia akan meninggalkan mobilnya di tempat ini. Ia tidak ada perasaan ragu lagi. Karena, semua karyawan Bandara sudah akrab dengannya. Saking seringnya ia dan Rendra melakukan penerbangan di tempat ini. Selain itu, untuk para jurnalis seperti Ardian memang ada pe