Plak! Satu tamparan mendarat di pipi kanan Ardian dengan cukup keras. Seketika lelaki berkulit putih bersih tanpa brewok dengan rahang tegas dan hidung mancung itu segera membuka matanya lebar-lebar. Ia pun sedikit kaget melihat sahabat di zaman kuliahnya dulu ada di depan mata.
"Rendra. Apa-apaan sih loe?" protes Ardian sambil mengelus pipinya yang terasa panas.
"Udah nggak usah banyak omong. Gue tau loe kecapean, karena kita udah disini sejak tadi malam. Tapi, gue cuma mau ingetin. Kalau ini bukan momen yang pas untuk tidur," balas Rendra sambil menundukkan kepalanya di balik tembok dengan tinggi satu setengah meter. Di tangan Rendra pun menenteng sebuah kamera DSLR yang simpan di dalam pelukan.
Dorrr! Dorrr! Dorrr! Setelah Rendra selesai bicara. Suara tembak pun beberapa kali terdeng