INASDAQ Sekuritas, Treasury Tower, Jakarta Pusat – September 2021
[8:21 AM]
Undangan Baskara masih tersimpan di saku jas ketika aku tiba di kantor keesokan paginya. Aku belum menjawab tawarannya. Aku juga belum melaporkannya secara lengkap kepada Sekar; rapat kepatuhan dijadwalkan setelah pembukaan pasar.
Di ruang transaksi, layar utama menampilkan Tirtamas. Beberapa menit sebelum bel pembukaan, antrean jual bertambah cepat. Belum ada transaksi besar yang tereksekusi, tetapi volumenya jauh di atas hari biasa. Saka berdiri di belakang kursiku, memeriksa angka yang sama.
“Ini bukan antrean normal,” katanya.
“Belum cukup untuk menyimpulkan apa-apa.”
“Kalau kamu sudah tahu sesuatu, sekarang saatnya bicara.” Nada suaranya keras, tetapi matanya tidak lepas dari layar.
“Saya tidak punya informasi yang bisa saya pastikan.”
Pak Reyhan mendekat dan meminta semua orang tetap pada instruksi nasabah. Tidak ada yang boleh mengubah pesanan berdasarkan rumor. Aku membuka daftar akun yang pernah dibahas Julian. Satu nomor yang aku ingat dari ringkasan Grahatama muncul pada catatan internal transaksi sebelumnya. Aku tidak punya akses untuk melihat pemilik akhirnya, dan aku tidak menyentuh data itu lebih jauh.
Ponselku bergetar. Pesan Julian hanya satu baris: “Jangan ikut campur. Anda sudah ditawari jalan keluar.”
Aku menunjukkan pesan itu kepada Pak Reyhan, lalu meneruskannya ke Sekar melalui jalur resmi. Untuk pertama kalinya, aku tidak mencoba menafsirkan sendiri apakah itu ancaman atau nasihat.
Pasar dibuka. Harga Tirtamas bergerak turun, lalu berhenti sejenak ketika pesanan beli masuk. Nasabahku mulai menelepon. Seorang bertanya apakah harus menjual; seorang lagi mengingatkan bahwa ia tidak sanggup kehilangan modalnya. Aku tidak memberi janji tentang harga. Aku menjelaskan risiko dan meminta mereka mengambil keputusan sesuai instruksi masing-masing.
Saka menerima panggilan dari salah satu nasabahnya. Setelah menutup telepon, wajahnya berubah. “Mereka sudah mulai melepas saham,” katanya pelan. “Dan bukan cuma akun kita.”
Aku melihat antrean yang terus bergeser. Aku belum tahu seberapa jauh harga akan jatuh atau siapa yang akan menanggung kerugiannya. Tapi aku tahu diam sambil menunggu tawaran Baskara adalah pilihan juga.
Aku menulis laporan singkat untuk Sekar dan menambahkan pesan Julian sebagai lampiran. Setelah itu, aku menghubungi dua nasabah yang paling terpapar untuk memastikan mereka memahami keadaan. Pasar masih bergerak, dan aku belum bisa meninggalkan meja.
Di layar, antrean jual Tirtamas kembali menebal.
***
[9:03 AM]
Antrean jual Tirtamas yang menebal pada pembukaan pasar berubah menjadi gelombang. Harga terus turun meski beberapa kali sempat tertahan. Aku tidak tahu siapa yang memulai penjualan besar itu, tetapi pola yang terlihat di layar mengingatkanku pada bagan Grahatama dan nomor-nomor akun yang aku lihat di sana.
Panggilan nasabah datang berturut-turut. Salah satu dari mereka menjual sebagian sahamnya setelah kami membicarakan risikonya. Yang lain memilih bertahan, meski suaranya bergetar ketika bertanya apakah kerugiannya bisa bertambah.
“Saya tidak bisa menjanjikan harga akan pulih,” kataku. “Saya hanya bisa memastikan pesanan Anda dijalankan sesuai instruksi.”
Ia terdiam beberapa detik, lalu memintaku menjual sebagian posisinya. Aku mengulang jumlah dan instruksinya sebelum mengeksekusi. Tangannya tidak terlihat, tetapi aku bisa membayangkan ia sedang menggenggam telepon sekuat-kuatnya.
Di meja sebelah, Pak Reyhan membantu nasabah lain yang juga memiliki Tirtamas. Saka menerima telepon dari kliennya, lalu memaki pelan setelah menutupnya. Ia sendiri memegang saham itu dalam rekening pribadinya. Kerugian yang muncul di layar bukan lagi angka jauh bagi siapa pun di ruangan itu.
“Ini bukan rumor biasa,” kata Saka. “Ada yang melepas dalam jumlah besar.”
“Jangan menyimpulkan siapa pelakunya dari antrean saja,” jawab Pak Reyhan. “Catat yang kita lihat, bukan yang kita duga.”
Aku menyalin waktu perubahan harga dan volume ke laporan, lalu mengirimkannya melalui kanal resmi. Tidak ada pesanan dari Julian yang aku jalankan. Tidak ada instruksi dari Grahatama yang aku ikuti. Namun aku juga tidak bisa berpura-pura bahwa aku tidak pernah menerima pinjaman mereka atau melihat namaku di dokumen itu.
Menjelang siang, Tirtamas masih berada jauh di bawah harga pembukaan. Dua nasabahku mencatat kerugian besar. Saka kehilangan sebagian tabungannya. Pak Reyhan mengaku satu nasabah lama yang ia tangani juga ikut terdampak.
Aku membuka pesan Baskara: kursi tetap, kekayaan tanpa batas, kesetiaan kepada hasil. Aku menghapus draf jawaban yang semula hendak aku kirim dan menulis satu kalimat saja kepada Julian: “Saya tidak akan bergabung.”
Aku menatap kalimat itu sebelum mengirimkannya. Selama ini aku mengira diam berarti tidak ikut campur. Pagi itu aku melihat orang-orang membayar akibat dari permainan yang tidak mereka pahami, sementara aku berdiri cukup dekat untuk mengetahui ada sesuatu yang salah.
Aku mengirim pesan tersebut dan meneruskan salinannya kepada Bu Sekar. Keputusan itu tidak mengembalikan kerugian siapa pun. Namun aku tidak mau lagi menunggu tawaran lain sebelum memilih sikap.
***
The Capital Residence, Jakarta Pusat – September 2021
[7:14 PM]
Setelah pasar tutup, aku pulang dengan catatan transaksi dan laporan penurunan Tirtamas di dalam tas. Aku tidak membawa data perusahaan. Semua yang aku tulis berasal dari informasi yang boleh aku lihat dalam pekerjaan dan percakapan yang sudah aku laporkan.
Di apartemen, aku membuka rekening investasi pribadi. Saldo sekitar lima miliar rupiah masih tercatat di sana. Tiga miliar adalah pokok pinjaman Hartanto; sisanya merupakan keuntungan yang belum aku serahkan kepada siapa pun. Aku pernah melihat angka itu sebagai bukti bahwa aku akhirnya berhasil. Sekarang angka yang sama terasa seperti barang bukti yang belum tahu harus diserahkan ke mana.
Aku membaca lagi perjanjian pinjaman. Rekening pembayaran tercantum jelas. Aku tidak akan mengirim uang ke rekening lain atas instruksi lisan, dan tidak akan mengambil langkah yang tampak seperti menyembunyikan dana. Aku menulis kepada Hartanto lewat alamat resmi: aku akan mengembalikan pokok pinjaman sesuai kontrak, dan meminta konfirmasi tertulis bahwa rekening tujuan masih berlaku.
Balasannya tidak datang segera. Aku menelepon penasihat hukum yang dahulu memeriksa perjanjian itu. Aku menjelaskan bahwa dana tersebut kini tercatat secara berbeda di dokumen Grahatama, dan bahwa namaku muncul dalam ringkasan transaksi Evalean. Ia tidak memberi keputusan lewat telepon. Ia memintaku tidak menghapus catatan, tidak mengubah dokumen, dan menunggu pemeriksaan sebelum memindahkan keuntungan.
“Kalau saya pisahkan dari rekening itu?” tanyaku.
“Pastikan langkahnya tercatat dan jangan mengakuinya sebagai milik yang sudah bersih. Minta arahan dari kepatuhan dan otoritas.”
Aku membuat permintaan kepada bank untuk memindahkan dua miliar rupiah ke rekening terpisah dan membatasi penggunaan dana itu sampai ada arahan resmi. Aku tidak menyentuh sisanya. Aku melampirkan keterangan bahwa uang tersebut berkaitan dengan keuntungan dari dana pinjaman yang sedang diperiksa.
Sebelum menutup laptop, aku mengumpulkan kontrak pinjaman, bukti transfer, dan catatan rekening ke satu folder. Flashdisk yang aku salin dari Grahatama masih tersembunyi di dalam buku. Aku belum tahu apakah aku boleh menyerahkannya, tetapi aku tidak ingin mengubah isinya.
Ponselku bergetar. Hartanto akhirnya membalas: ia akan mengirim nomor rekening untuk pengembalian pada pagi hari.