Medals Psychology Center, Jakarta – September 2021
[8:47 AM]
Ruang praktik Julian berbeda dari ruang rapat Grahatama. Tidak ada layar besar atau meja panjang. Hanya sofa abu-abu, rak buku, dan satu meja kecil dengan pemutar audio. Tempat itu seharusnya membuat orang merasa aman. Pagi itu, aku justru merasa sedang memasuki ruang yang sudah disiapkan untuk menahanku.
Julian mengunci pintu, lalu menunjuk kursi di seberangnya. Aku memilih duduk dekat pintu.
“Pak Reyhan tahu saya di sini,” kataku. “Bu Sekar juga.”
“Bagus. Berarti Anda tidak sepenuhnya ceroboh.”
“Saya datang untuk mendengar rekaman. Putar saja.”
Julian menyambungkan ponselnya ke pengeras suara. Sebelum menekan tombol, ia berkata, “Saya mulai merekam jauh sebelum Anda melihat file di Grahatama. Saya ingin punya catatan kalau nanti ada yang mengubah cerita.”
“Termasuk cerita Anda?”
“Terutama cerita saya.”
Suara ruangan muncul dari pengeras. Aku mengenali suara Julian dan Hartanto, lalu suara lain yang tenang dan berat. Beberapa kalimat terdengar putus-putus: soal Evalean, aliran dana, dan seseorang yang tidak ingin namanya muncul di catatan resmi.
Kemudian nama itu terdengar jelas.
“Baskara Tirtayasa tidak mau ada jejak yang mengarah langsung kepadanya,” kata Hartanto dalam rekaman.
Julian menghentikannya.
Aku menatapnya. “Baskara yang mengendalikan Lingkaran?”
“Saya tidak bilang begitu.”
“Tapi namanya muncul dalam pembicaraan tentang aliran dana dan Evalean.”
“Nama bisa muncul karena banyak alasan. Saya tidak akan memberi Anda kesimpulan yang harus Anda buktikan sendiri.”
“Anda tahu saya menyalin file itu. Anda membiarkan saya melakukannya?”
“Saya tahu Anda melihatnya. Saya tidak tahu apa yang akan Anda lakukan.”
“Sekarang Anda punya rekaman yang menunjukkan saya mengambilnya.”
Julian tidak membantah. “Itulah sebabnya Anda perlu berhenti bertindak seolah-olah Anda berdiri di luar semua ini. Nama Anda sudah ada di dalam catatan, dan Anda sendiri sudah mengambil langkah yang bisa dipakai untuk menyerang Anda.”
Aku ingin marah, tetapi rasa takut lebih cepat mengambil tempat. “Kenapa menunjukkan rekaman ini kepada saya?”
“Karena Baskara ingin bertemu dengan Anda.”
Aku berdiri. “Anda mengatur pertemuan itu?”
“Saya hanya menyampaikan undangan. Anda bebas menolak.”
Julian memberikan kartu hotel dan waktu pertemuan sore nanti. Aku tidak mengambilnya segera. Ponselku bergetar—pesan Sekar menanyakan apakah aku masih aman. Aku membalas bahwa aku akan keluar dalam lima menit.
Kartu itu akhirnya aku masukkan ke saku. Aku belum tahu apakah aku akan datang, tetapi kini aku tahu bahwa nama di dalam rekaman itu bukan sekadar rumor.
***
Treasury Tower, Jakarta Pusat – September 2021
[10:16 AM]
Pak Reyhan sudah menunggu di dekat lift ketika aku kembali ke kantor. Ia tidak bertanya tentang isi rekaman di depan orang lain. Ia hanya melihat wajahku dan memastikanku baik-baik saja.
“Bu Sekar minta Anda datang setelah rapat pagi,” katanya. “Jangan menghilang lagi tanpa kabar.”
“Saya sudah mengirim lokasi.”
“Itu bukan alasan untuk membuat keputusan sendiri.”
Aku mengangguk. Aku tahu ia benar. Aku pun tahu sebagian informasi dari rekaman belum bisa aku ceritakan tanpa menjelaskan tindakanku menyalin file. Aku tidak ingin menambah kebohongan, tetapi belum siap membuka semuanya sebelum ada bukti yang bisa diperiksa.
Di ruang kepatuhan, Sekar menanyakan siapa yang hadir, berapa lama aku berada di Medals, dan apakah Julian memintaku membawa data. Aku menjawab sesuai kejadian. Aku tidak mengatakan isi rekaman secara terperinci, tetapi aku memberi tahu bahwa nama Baskara Tirtayasa disebut dalam percakapan tentang Evalean.
“Apakah Anda punya salinannya?”
“Tidak. Julian memutarnya dari ponselnya.”
“Apakah Anda merekamnya?”
Aku terdiam sesaat. “Tidak.”
Sekar menatapku cukup lama untuk membuat jawaban itu terasa seperti pengakuan yang belum selesai. “Jangan temui mereka lagi tanpa memberi tahu kami. Kalau ada undangan, kirimkan kepada saya.”
Aku mengeluarkan kartu hotel dari saku dan meletakkannya di meja. “Julian memberikan ini. Baskara ingin bertemu sore ini.”
Sekar tidak menyentuh kartu itu. “Anda tidak wajib datang.”
“Saya tahu.”
“Kalau Anda datang, jangan membawa flashdisk itu. Jangan menyetujui apa pun. Setelahnya, laporkan persis apa yang dibicarakan.”
Aku pulang sebentar ke apartemen. Flashdisk tetap tersembunyi di dalam buku. Aku memastikan pintu terkunci, tetapi tidak mengambilnya. Membawanya ke pertemuan hanya akan memberi mereka alasan untuk meminta atau merebutnya.
Sebelum berangkat, aku mengirim alamat hotel dan nomor ruang yang tertulis di kartu kepada Sekar. Aku membagikan lokasi langsung kepada Pak Reyhan dan menulis bahwa aku akan kembali sebelum malam. Jawabannya pendek: “Jangan berimprovisasi.”
Aku membaca kalimat itu dua kali. Selama ini aku mengira improvisasi adalah cara bertahan. Kini aku mulai paham, setiap jalan pintas yang aku ambil membuat orang lain punya pegangan atas diriku.
Meski begitu, aku tetap menuju hotel. Aku ingin mendengar sendiri apa yang ditawarkan Baskara, dan apa yang ia ketahui tentang namaku.
***
Hotel Arunika, Jakarta Selatan – September 2021
[4:32 PM]
Baskara Tirtayasa menunggu di ruang privat lantai paling atas. Dari jendela, gedung-gedung Jakarta tampak kecil dan jauh. Ia berdiri di dekat meja minuman ketika aku masuk, seolah pertemuan itu bukan sesuatu yang perlu dipersiapkan.
“Arsenio. Akhirnya kita bertemu.”
“Saya datang untuk mendengar.”
“Julian bilang Anda teliti.” Baskara menuangkan air ke gelas, lalu menawarkan tempat duduk. “Orang teliti biasanya tahu kapan harus berhenti bertanya.”
“Saya melihat nama saya di catatan Grahatama. Saya ingin tahu mengapa.”
“Nama Anda ada karena Anda memproses transaksi dan menerima dana.”
“Saya menerima pinjaman tiga miliar. Kontraknya menyebut pinjaman, bukan investasi.”
Baskara tersenyum tipis. “Dokumen selalu mengatakan apa yang dibutuhkan orang pada saat tertentu. Pasar bergerak lebih cepat daripada bahasa hukum.”
“Dan Evalean?”
“Perusahaan itu jatuh karena banyak sebab. Jangan menyederhanakan pasar menjadi satu dalang.”
Ia tidak mengaku, juga tidak menyangkal. Cara bicaranya membuat setiap kalimat seperti pintu yang bisa dibuka ke dua arah.
Baskara kemudian menawarkan sesuatu yang ia sebut kursi tetap di lingkaran. Bukan sekadar akses kepada informasi atau modal, melainkan tempat dalam jaringan yang menentukan kapan uang masuk dan kapan orang lain panik. Ia mengatakan kekayaanku bisa tumbuh tanpa batas bila aku berhenti merasa bersalah setiap kali mengambil peluang.
“Berapa harga kursi itu?” tanyaku.
“Kesetiaan.”
“Kesetiaan kepada siapa?”
“Kepada hasil.”
Aku memikirkan nasabah yang kehilangan uang, namaku di bagan Grahatama, dan kebohongan kepada Sekar tentang kiriman dari London. Tawaran itu menjanjikan jalan keluar dari semuanya dengan cara yang sama: berpura-pura bahwa akibat bukan urusanku.
“Saya perlu memikirkannya,” kataku.
“Jangan terlalu lama. Kesempatan tidak menunggu orang yang ragu.”
Aku tidak berjanji akan menerima. Aku juga tidak menolak. Di luar ruangan, aku mengirim pesan kepada Sekar bahwa pertemuan sudah selesai dan aku tidak menandatangani apa pun.
Baskara mengulurkan tangan. Aku menjabatnya sebentar, lalu pergi. Di lift, aku baru sadar telapak tanganku berkeringat. Tawaran itu terdengar seperti hadiah, tetapi aku tahu ia sedang menilai seberapa mudah aku dibeli.